Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Nanas muda


__ADS_3

Begitu artikel tentang nanas dan pepaya sudah kutemukan segera ku baca dengan teliti serta kuperhatikan benar-benar detail gambar perbedaannya.


"Untuk apa kamu mencari tau tentang hal semacam itu!"


Tanya mas Rio sambil menyambar hape dari tanganku yang tidak waspada sama sekali ternyata sedari tadi as Rio memperhatikanku dan ikut membaca apa yang sedang kubaca secara diam-diam dari arah belakangku.


"Kembalikan hapenya mas....!"


Pintaku padanya sambil berusaha merebutnya kembali namun yang ada justru aku ambruk dalam pelukannya.


Aku menyunggingkan senyuman jahatku padanya sesaat,mulai beraksi untuk sedikit menggodanya agar dia lengah dan akan kurebut kembali hapeku dari tangannya.


Dia sepertinya sudah mulai terlena olehku dan tidak lagi memperdulikan masalah hape.


"Kamu mau mencoba menggodaku!"


Dicekalnya tanganku dengan kuat serta di kunci diatas kepala saat dia sudah berhasil memutar balik dan merubah posisi kami.


Aku berusaha meronta saat aku tau dia menyadari niatku yang hanya ingin merebut kembali hape dari tangannya.


"Jangan macam-macam! jika memang ada janin di dalam rahimmu dan kamu memakan buah itu,kamu bukan hanya akan menjadi pembunuh tapi juga bisa menbahayakan nyawamu sendiri.Paham!"


Matanya begitu sayu saat memandangku,meski kata-katanya terdengar di tekan namun pandangan matanya terlihat begitu sedih dan kecewa padaku.


"Aku....aku hanya takut....hik!"

__ADS_1


Air mata meleleh tanpa bisa ku bendung,emosiku kembali memuncak membuat perasaanku jadi tidak karuan.


"Tunggulah sekitar satu atau dua minggu,maka kita akan tau hasilnya.Jangan terlalu menghawatirkannya".Bujuknya sambil meletakkan hapeku dengan perlahan diatas meja yang ada di sebelahnya bertumpuk dengan hape miliknya sama seperti orangnya sekarang.


"Jangan macam-macam padaku sebelum hasilnya keluar!"


Ancamku sambil menyipitkan mata memandang tajam kearahnya.


"Oke....baiklah!"


Jawabnya sambil melepaskanku dari kungkungannya secara perlahan.


Sepertinya kali ini dia benar-benar tak mau membuat emosiku semakin naik lagi dan pada akhirnya harus mengalah padaku.


"Lalu....jika aku beneran hamil bagaimana!"


Mas Rio hanya diam tidak ada tanggapan sama sekali,mungkin dia sudah tidur sekarang.Aku membalikkan tubuhku hingga menghadap kearahnya,kulihat ternyata dia masih terjaga matanya masih terbuka lebar dengan salah datu tangannya terkepal di atas dahi.aa


Pandangannya kosong menerawang ke langit-langit kamar,sepertinya dia sedang melamunkan sesuatu.


Apakah dia juga sedang memikirkan kekhawatiran yang sama sepertiku?


"Ra.....!"


Tiba-tiba terdengar suaranya memanggilku,meski pelan namun tetap saja aku terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Apa!"


Jawabku masih dengan nada kesal.


"Kalau.......beberan kamu hamil,bagaimana?"


Tanyanya balik padaku,padahal bar saja aku menanyakan hal yang sama padanya.


Dengan kesal aku ikutan terlentang memandang kelangit-langit kamarku dengan tangan terkepal diatas dahi,sama persis dengan apa yang dia lakukan saat ini.


"Aku akan di DO dari sekolah,dan aku akan ikut serta kemanapun kamu pergi.


Aku tidak akan melepaskanmu! Aku dan anakmu adalah tanggung jawabmu seumur hidupmu,ini adalah kesalahan yang harus kamu tanggung seumur hidupmu!"


Mas Rio memiringkan tubuhnya hingga menghadap kearahku sambil tersenyum tipis lalu mencium keningku.


Dielusnya perutku yang masih rata,


"Dengan atau tanpa adanya anak di sini,sampai aku mati kamu adalah tanggung jawabku.Kita akan bersama selamanya sampai tua dan maut yang akan memisahkan kita."


"Itupun jika kamu mau!"


Imbuhnya sambil kembali terlentang mengganjal lehernya dengan lengannya sendiri sambil satu tangannya memegang erat jemariku.


Entah sampai jam berapa kami membahas tentang kehamilanku yang bahkan jawaban pastinya saja belum tau benar atau tidaknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2