Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Tetap dapat hukuman


__ADS_3

Aku berusaha menjelaskan padanya secara berurutan dan sesuai apa adanya tanpa ku maju mundurkan bahkan tidak juga ku kurangi atau kutambahi takaran ceritaku.


Aku masih berharap mas Rio atau siapapun tidak lagi menyalahkan pak Pras karena memang semua salahku,dan aku juga berharap semua akan memaafkan kesalahanku dan tidak lagi ada yang marah padaku.


"Mas marah ya...?"


Tanyaku padanya dengan memasang wajah memelas agar dia kasihan padaku dan tidak lagi marah bahkan mendiamkanku.


"Tidak!"


Jawabnya sambil menghela nafas panjang,seperti sedang menahan diri supaya tidak marah dihadapanku.


"Sungguh?"


Tanyaku lagi membuatnya memejamkan mata sambil menghembuskan nafas perlahan.


"Iya,sungguh!"


Jawabnya sambil melihat wajahku lalu mencubit pelan pipiku.


"Jangan marah juga dengan pak Pras? dia tidak salah,semua ini memang salahku!"


Sepertinya perkataanku justru menguji kesabarannya kali ini.Kukihat tangannya terkepal sambil mengeratkan giginya hingga terdengar suara decitan dari giginya yang saling beradu.


"Dia memang pantas dihukum karena telah membuat kesalahan!"


Ucapnya dengan wajah berapi-api yang nampak berkobar hingga membakar ujung kepalanya menampakkan asap mengepul keluar dari ubun-ubunnya.


"Mas....jangan salahkan dia,aku yang menyuruhnya pergi ke masjid untuk sholat Jum'at tadi."


Aku segera memeluk tubuhnya,berusaha meredam amarahnya yang berapi-api seakan siap membumi hanguskan seseorang yang membuatnya marah,yaitu pak Pras.


Seketika kulihat wajahnya nampak sudah tenang dan kini bukan lagi asap hitam yang mengepul dari ubun-ubun yang kulihat,melainkan rona wajah cerah sumringah yang tiba-tiba menunjukkan kebahagiaan seketika.


"Kamu sedang merayuku demi Pras!"


Tanyanya padaku dengan nada kesal namun wajah yang tak hentinya mengembangkan senyuman.


"Hanya memeluk,bukan merayu!"


Jawabku sinis sambil melepaskan pelukanku ditubuhnya.


"Baiklah,aku akan mengampunimu dan juga memaafkan kesalahan yang Pras lakukan hari ini.Tapi.......!"


"Tapi apa?"


Tanyaku padanya yang masih berdiri dihadapanku dalam jarak yang dekat.


"Kamu harus dapat hukuman!"


"Kenapa harus ada hukuman segala?

__ADS_1


Tapi hukumannya tidak hal yang aneh-aneh ya, kalau aneh-aneh aku tidak mau!"


Jawabku sambil memalingkan wajah kearah lain,membayangkan kira-kira apa yang akan diperbuatnya kali ini untuk menghukumku.


"Mau tau apa hukuman untukmu?"


Aku hanya mengangguk saat dia menanyakannya padaku.


"Nanti malam akan kuberi tau,tidak boleh menolak atau membantah apapun itu!"


Ucapnya sambil duduk di kursi meja belajarku.


"Hah,curang! kalau hukumannya 'ITU' aku tidak mau!"


"Itu? itu apa maksudmu?"


Pura-pura bertanya padahal bibirnya menyunggingkan senyum jahat padaku.


"Jangan pura-pura tidak tau! pokoknya awas ya kalo macam-macam padaku!"


Ancamku padanya.


Mas Rio hanya tertawa puas sambil melihatku menahan rasa cemas.


"Kalau kamu tidak mau yasudah,biar nanti ku urus sendiri soal Pras!"


Ancamnya balik padaku,membuatku tak berkutik karena pasti aku akan sangat merasa bersalah pada pak Pras.


Protesku padanya merasa tak terima dengan keputusan sepihak ini.


"Terserah aku dong! mau di maafkan tidak?"


"Iya,iya!"


Jawabku dengan kesal karena terpaksa dan dipaksa harua mengiyakan apapun yang dikatakannya.


Setelah selesai makan malam mas Rio menyusul papa yang sedang duduk-duduk santai di teras belakang.


Mereka nampak sedang asyik mengobrolkan sesuatu sampai pada akhirnya kak Rendi datang menyusul untuk bergabung bersama.


Aku lebih memilih membantu mama membereskan dapur dan meja makan karena kebetulan sejak kemarin bibi pulang kampung karena saudaranya ada yang punya hajat.


Sesekali kudengar suara tawa dari salah satu dari mereka atau bahkan mereka tertawa bersama saling sahut-sahutan,sepertinya obrolan mereka masih seru bahkan sampai aku dan mama selesai beres-beres dan kini tengah berpindah di depan tivi ruang tengah.


Jika biasanya bibi yang menemani mama menonton sinetron,kini giliran aku yang mendapat tugas menemani mama menonton tivi.


Hingga malam semakin larut,jam yang menggantung di dinding menunjukkan angka sembilan pada jarum pendeknya sedangkan jarum panjang hampir menemukan titiknya di angka enam.


Kenapa mama masih serius aja ya nonton sinetronnya? Kenapa juga tidak nonton di kamar saja,kan di kamar mama juga ada tivinya.


Gumamku dalam hati karena mataku sudah mulai mengantuk,sesekali aku bahkan menguap sambil menutup mulutku.

__ADS_1


Aku semakin tak mampu menahan rasa kantukku tapi tak enak hati jika meninggalkan mama didepan tivi sendirian,sedangkan papa masih asyik mengobrol dengan anak dan menantu laki-lakinya.


Entah apa yang mereka bicarakan sampai selarut ini,bahkan sampai aku tak lagi mendengar suara berisik dari tivi yang ku tonton bersama mama.


Aku terjaga ketika kurasakan sentuhan dari seseorang pada tubuhku,aku merasa tubuhku seperti diguncang pelan serasa seperti melayang diatas awan.


Saat kubuka mata perlahan ternyata wajah mas Rio berada dekat diatas wajahku,aku hanya diam menikmati pemandangan indah dihadapanku.


Wajahnya nampak begitu tampan saat aku melihatnya dari bawah dagu,ketika berada dalam gendongannya.


Perlahan dia menaiki anak tangga sambil berusaha menahan beban di tangannya untuk membopongku.


Sesampainya di depan pintu kamar kuulurkan tanganku untuk membuka pintu tetap berada pada gendongannya,sontak mas Rio terkejut melihatku yang sudah terjaga sedang cengengesan berada dalam gendongannya.


"Dasar anak nakal,sejak tadi kamu sengaja pura-pura tidur ya!"


Bisiknya padaku tanpa melepaskanku dari gendongannya.


Aku yang tidak berani meronta karena takut terjatuh dari gendongannya hanya bisa diam menunggunya menurunkan tubuhku perlahan diatas tempat tidur.


"Aku tadi tidur beneran,cuma tiba-tiba saja terbangun saat kerasa di gendong!"


Jawabku dengan jujur,namun sepertinya dia tidak mempercayaiku.


"Hukuman dari kesalahanmu tadi siang saja belum kamu laksanakan,sekarang sudah membuat kesalahan baru dengan membiarkanku menggendongmu menaiki anak tangga.Berani sekali kamu ya!"


Dia menurunkan tubuhku diatas tempat tidur,lalu dengan cepat melepas kaos dan celana panjang yang dikenakannya.


Aku beringsut mundur saat dia merayap mendekat hanya tinggal menyisakan boxer yang dikenakannya.


"Jangan macam-macam!"


Ucapku sambil tetap waspada saat wajahnya tepat berada di depan wajahku.


"Pijitin!"


Bisiknya sambil menarik tanganku kearahnya.


Bahkan sebarusnya dia bisa mengatakannya dengan baik-baik tanpa harus membuatku takut seperti tadi.


Dia sudah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil terlentang dengan salah satu lengan berada diatas pahaku yang sudah bersiap duduk di sampingnya berbaring.


"Pijit sini dulu,pegal sekali rasanya habis menggendongmu!"


Jawabnya sambil memejamkan mata menikmati pijitanku.


"Memangnya orang kurus sepertiku bisa sampai membuat tangan anda pegal ya tuan muda?"


Ledekku padanya yang dulu sering mengataiku kurus kering dan tidak akan membuatnya sama sekali tergoda padaku,tapi nyatanya sekarang dia sering kali memohon padaku untuk menyerahkan diriku padanya.Dasar munafik!


Gumamku dalam hati sambil tetap memijit lengannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2