
Setalah acara makan,keluarga Wijaya memperkenalkan anggota keluarga inti yang hadir di acara malam ini kepada keluarga kami.Setelah acara makan serta perkenalan beberapa tamu tengah asyik mengobrol,aku sendiri sedang duduk bersama nenek dan bu Sum yang menemani kami.Tiba-tiba saja Sam menghampiri kami,lalu duduk disebelahku.
"Hey!"
Sapa Sam padaku.
"Halo nek.....saya Sam,teman sekolahnya Maura!"
Sapanya juga pada nenek yang kini tengah duduk dikursi roda lalu mendekat ,menyalami nenek serta mencium punggung tangannya sambil berjongkok seperti seseorang yang tengah bersimpuh hendak meminta do'a restu.
"Apa kamu masih dalam anggota keluarga ini nak? kok kamu ikut serta dalam acara ini."
Tanya nenek,karena Sam memperkenalkan dirinya sebagai teman sekolahku.
"Iya nek,kebetulan kakak laki-laki saya menikah dengan anak perempuan dari keluarga ini."
Jawabnya sambil bangkit lalu menarik kursi untuk duduk di tengah-tengah antara aku dan nenek.
Nenek dan Sam nampak begitu akrab sekali bercanda dan bergurau karena Sam memang seperti itu anaknya sangat supel dan suka bercanda meski terkadang kelewatan tapi selalu saja bisa membuat orang memaafkan serta malupakan kesalahannya.Sam dan nenek dalam sekejap mata langsung begitu akrab dengan Samuel,sampai-sampai menyita perhatian kak Rendi yang tiba-tiba saja ikutan nimbrung diantara kami.
"Kamu,kan.......!"Kak Rendi yang baru saja bergabung melihat Samuel dangan penadangan seolah tak percaya jika orang yang kini berada dihadapannya adalah orang yang tak asing baginya.
"Iya,ternyata kakak masih ingat ya sama saya?"
Dengan wajah cengengesan Sam bersalaman dengan kak Rendi dan kak Rendi menyambutnya.
"Bekas luka itu....masih membekas ya kak? maaf ya kak!"
"Kalian sudah pernah bertemu? bekas luka? bekas luka apa maksudnya?"
__ADS_1
Tanyaku pada keduanya yanh hanya saling diam saat aku melihat keduanya secara bergantian.
"Dulu secara tidak sengaja kami dipertemukan dalam sebuah kecelakaan kecil."
Jawab Samuel sambil terus memandang kearah kak Rendi,sedangkan kak Rendi hanya menatapnya sebentar lalu memalingkan wajahnya kearah lain seolah tak ingin berlama-lama melihat wajah Samuel yang kini berada di depannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya semuanya!"
Pamit Sam sambil mendekati nenek.
Setelah acara makan malam usai dan para tamu undangan sudah pulang kerumah masing-masing,dan aku sendiri kini telah kembali kekamarku untuk beristirahat.
Sebelum tidur mbak Tari kembali kekamarku untuk membantuku membersihkan sisa-sisa make up yang masih menempel diwajahku setelah aku berganti pakaian.
"Mbak Tari sudah lama kerja dikeluarga ini?"
Tanyaku padanya yang sedang sibuk mengusapkan kapas kewajahku.
Tangannya berhenti bekerja,mengerutkan dahi sambil melihat keatas seakan sedang berfikir keras mengingat berapa lama dia bekerja dikeluarga ini.
"Seingat saya waktu itu saya baru saja lulus sekolah menengah atas."
"Dan sekarang usia mbak Tari berapa?"
"Dua puluh tiga tahun nona."
Jawabnya sambil kembali meneruskan pekerjaannya.
"Apakah selama mbak Tari bekerja disini,pernah lihat mas Rio punya pacar?"
__ADS_1
Tanyaku agak ragu dengan perkataanku sendiri.
"Pacar? maaf nona say tidak berani lancang membicarakan siapapun yang ada dirumah ini."
Jawabnya dengan gugup.
"Baiklah,tidak apa-apa jika mbak Tari tidak mau bercerita."
"Maafkan saya nona!"
Mbak Tari menundukkan wajahnya.
"Iya tidak apa-apa mbak."
"Terima kasih nona."ucapnya masih dengan menundukkan wajahnya.
"Terima kasih? untuk apa?"
Tanyaku bingung.
"Saya hanya takut nona marah karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang nona ajukan."
"Hahahahha.....marah? kenapa cuma hal sepele saya harus marah? apa mereka sering marah pada mbak Tari?"
"Maaf nona pekerjaan saya sudah selesai,jika sudah tidak ada lagi yang nona butuhkan saya permisi."
"Baiklah,terima kasih mbak Tari."
"Sama-sama nona,saya permisi."
__ADS_1
Mbak Tari membungkukkan badan lalu keluar dari kamarku serta menutup pintu.
BERSAMBUNG......