
Meski aku merasa ragu untuk meneruskan perjodohan ini,namun aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku kecewa atas berubahnya keputusanku nanti.
Aku tidak mau membuat mereka malu sekaligus kecewa karenaku,meski sejujurnya aku semakin bingung dengan sikap mas Rio selama ini yang kadang begitu perduli namun terkadang dia begitu cuek dan acuh.
Aku juga merasa semua orang tidak jujur padaku perihal status serta asal-usul keluarga mas Rio.
"Sayang! kok kamu menlamun?"
Mama menyenggol lenganku.
"Eh! iya ma? ng..nggak kok ma,nggak apa-apa!"
Jawabku sambil menyalakan tivi yang ada didepan kami,berusaha mencairkan suasana.
"Sayang,kamu kenapa? kamu tidak berencana berubah pikiran kan? acara pertunangannya tinggal nanti malam lho!"
Mama mengelus pundakku pelan,membuatku berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan air mata yang sudah menganak di pelupuk mata agar tak membanjiri tanah air ini.
"Ma.......!"
Aku memeluk mama sambil menangis lalu kembali mengusap air mataku agar tak mengundang kawan-kawannya ikutan keluar dari pelupuk mataku nantinya.
"Sayang,ada apa?"
__ADS_1
Mama memandang wajahku begitu dalam dan membantuku mengelap sisa air mataku yang masih membasahi pipiku.
"Katakanlah nak,jika memang ada hal yang mengganjal pikiranmu!"
"Percuma ma,semuanya sudah terlanjur.Aku tidak mungkin mundur meski sejujurnya aku ragu!"
Aku mulai bangkit dari dudukku,berjalan mendekat jendela kaca lalu melihat pemandangan sekeliling yang sebenarnya tak terlalu kuhiraukan.
"Maksud kamu apa sayang? katakanlah!"
"Tidak ma,aku bicara pun apa gunanya? toh aku memang sudah tidak punya lagi kesempatan untuk memilih kan ma?"
"Sayang....maafkan kami,kami tidak bisa berbuat apa-apa karena semua ini adalah wasiat dari kakek dan sudah menjadi kesepakatannya dengan keluarga Wijaya."
Jawab mama menjelaskan padaku.
Mama memelukku kembali dari arah samping sambil menciumi pipiku berkali-kali dengan deraian air mata yang kini mengalir deras dari mata sipitnya.
"Ma.....! mama jangan nangis dong! Rara jadi sedih..!"
Ucapku berbalik badan sambil mengusap pipi mama yang kini telah banjir oleh air mata.
Aku tak pernah melihat mama menangis,ketika melihat air mata mama hatiku serasa benar-benar hancur seoalah duniaku runtuh seketika.
__ADS_1
"Maafkan mama sayang,maafkan mama! mama tak bisa melakukan apapun,kalau saja dulu mama tak pernah membawamu masuk kedalam keluarga Anggara mungkin kamu tidak harus menanggung semua ini."
"Ma....semua ini mungkin sudah takdir yang harus kita lalui dan terpaksa kujalani ma!"
"Sayang,jangan membuat mama semakin bersalah lagi.Jika memang kamu ingin membatalkan semua ini tidak apa-apa asalkan kamu bahagia dan merasa bebas! mama akan bicarakan ini dengan papa."
Kutahan mama agar tidak terburu-buru keluar dari kamarku.
"Ma.....!"
Aku menggeleng sambil memeluk mama,entah sudah keberapa kalinya kami saling peluk satu sama lain.
"Jangan ma!"
"Kenapa sayang? ini demi kebahagiaanmu!"
"Ini juga tentang kehormatan keluarga kita ma!"
Ucapku sambil melepaskan pelukanku pada tubuh mama.
"Sayang......!"
"Ma.....aku tidak mau mempermalukan papa,mama dan nama baik keluarga kita ma."
__ADS_1
Bibirku kembali mengembangkan senyuman yang terlihat penuh dengan kepalsuan agar mama tak terlalu memikirkan apa yang barusaja aku katakan padanya.
BERSAMBUNG......