
Aku hanya bisa pasrah ketika mas Rio menggandeng tanganku dengan paksa menaiki anak tangga menuju kamar kami.
"Mas,kenapa kamu sampai semarah itu? padahal Putri kan hanya menumpahkan air putih saja ke minumanku dan itu juga tidak dia sengaja!"
Ucapku pada suamiku ketika kami sudah masuk kedalam kamar.
"Kamu bilang dia tidak sengaja? jelas-jelas aku melihatnya sengaja menyenggol gelas agar airnya tumpah mengenaimu!"
Jawabnya dengan wajah kembali terlihat geram karena kesalahanku yang mengingatkannya kembali pada kejadian saat di meja makan tadi.
Hanya karena seseorang menumpahkan air ke bajuku saja dia semarah itu,apalagi jika sampai ada yang berani dengan sengaja menyakitiku nanti.Gumamku dalam hati kecilku agar tak terdengar langsung oleh pendengarannya yang super tajam seolah bisa mendengar hingga kedalam hati orang lain.
"Apa yang sedang kamu pikirkan! kamu sedang membatinku?"
Tanyanya seolah sedang menebak isi hatiku.
Tuh,benar kan dia tau aku sedang bergumam dalam hati membicarakannya dan dia menebaknya dengan sangat benar.
"Apa? aku hanya diam saja tidak memikirkan apapun,apalagi membatinmu!"
Jawabku berdusta sambil melengos kearah lain agar dia tidak melihat wajahku dan pasti akan kembali bisa menebak jika aku sedang tidak jujur padanya barusan.
"Sayang....coba lihat mataku!"
Pintanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya kepipiku agar wajah kami saling berhadapan.
"Apa sih mas?"
Tanyaku sambil tersenyum semanis dan seimut mungkin untuk menutupi kebohonganku yang sudah kututup rapat tadi.
'Cup'
Dengan cepat dia menyambar bibirku dan **********.
'Tok,tok,tok'
"Permisi tuan muda,nona,saya datang membawakan makan malam anda."
Terdengar suata ketukan dipintu kamar kami disusul oleh suara pak Ujang memberitahukan maksud kedatangannya.
Dengan cepat aku langsung terbebas dari cengkeraman singa buas di hadapanku,aku bersyukur karena kini bisa dengan mudah lolos.
Bahkan hari belum cukup malam tapi dia sudah membuat ulah semaunya terhadapku.
Mas Rio segera membuka pintu kamar setelah melepaskanku.
"Letakkan saja makanannya disana!"
Perintah mas Rio sambil jari telunjuknya menunjuk kearah meja yang ada di depan sofa yang ada di seberang tivi.
"Baik tuan."
Jawab pak Ujang sambil berjalan menuju tempat yang di tunjuk oleh mas Rio diikuti oleh langkah sang istri dari arah belakangnya.
Dengan gemetaran pak Ujang meletakkan bawaannya diatas meja begitu juga dengan istrinya yang tak berani mengucapakan sepatah katapun,bahkan sepertinya mereka sedang menahan nafas karena saking takutnya dengan kemarahan sang tuan mudanya.
__ADS_1
Pak Ujang segera berpamitan keluar dari kamar kami setelah urusannya selesai dan menutup pintu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan bunyi apapun yang mungkin saja akan menambah kemarahan sang tuan mudanya nanti.
"Mas....jangan marah lagi dong,lihat lah dahimu mulai berkerut nanti lama-lama bisa meninggalkan keriput!"
Ucapku membujuknya sembari mengusap pelan keningnya dengan jemari tanganku yang langsung disambar olehnya.
"Benarkah! lalu kalau aku sudah keriput apakah kamu sudah tidak mau lagi denganku?"
Pertanyaan konyol macam apa lagi ini,bukankah seharusnya dia sadar jika usianya memang terpaut jauh dariku dan sudah pasti sebentar lagi keriput akan memenuhi wajahnya.Kenapa sepertinya dia takut sekali dengan penuaan?
Batinku sambil berusaha menahan tawa.
"Makannya jangan marah-marah lagi biar gak cepat tua dan keriput!"
Jawabku sambil berjalan meninggalkannya menuju meja tempat makanan disajikan.
"Ayo makan,nanti keburu dingin makanannya!"
Ajakku sambil duduk di sofa,sedangkan mas Rio kulihat hanya diam mematung tak bergeming ditempatnya berdiri sedari tadi.
"Tunggu apa lagi....? ayo cepat makan! aku sudah lapar,sebentar lagi waktunya sholat Isya' tiba!"
Ucapku sambil berjalan pelan menuju kearahnya yang masih diam tanpa pergerakan dan tanpa sepatah katapun.
Kutarik lengan kekarnya dengan manja lalu kugandeng menuju tempat dimana makanan sudah disajikan,lalu kududukkan dia disampingku.
"Sekarang udahan marahnya ya....makan dulu!"
Perintahku dengan lembut agar tidak membuatnya tambah kesal dan semakin marah nanti.
"Kamu makanlah dulu,aku belum lapar."
"Mau kemana.....?!"
Tanyaku dengan cepat ikut bangkit dari dudukku dan berusaha mengejarnya.
"Ada yang perlu aku urus sebentar,kamu makanlah dulu.Ya!"
Ucapnya sambil melanjutkan kembali langkahnya menuju pintu hendak keluar dari kamar.
"Kalau mas tidak makan aku juga tidak makan,kemanapun mas pergi aku ikut! bukankah aku ini istrimu! memangnya urusan apa yang istrinya sampai tidak boleh tau?"
Ucapku sedikit mengancam karena aku tau dia akan turun untuk menemui seseorang dan melampiaskan kemarahannya yang belum terseleaikan.
Terpaksa aku mengambil inisiatif untuk merayunya kali ini agar dia benar-benar bisa meredam emosinya.
Kukalungkan kedua lenganku dilehernya dengan manja,kupasang wajah seimut mungkin dihadapannya sambil kudongakkan wajahku mengarah kewajahnya.
"Kamu.....sedang mencoba merayuku? hehehe,dasar bocah!"
Ledeknya sambil menyingkirkan kedua lenganku dengan pelan.
"Kenapa mas selalu benar setiap menebak isi hatiku? huh,sebal!"
Gerutuku sambil berjalan menuju tempat tidur dengan wajah cemberut kumanyunkan bibirku kedepan dan ku lipat kedua tanganku diatas dada.
__ADS_1
"Gerak gerikmu terlalu mudah di tebak Maura...!"
Ucapnya sambil terkekeh melihat tingkahku.
"Sebenarnya aku lapar,tadi jadi tidak berselera karena tidak ada teman makan!"
Gumamku dengan sengaja agar dia mendengarnya.
"Baiklah,baiklah...ayo makan!"
Ajaknya sambil mengulurkan tangannya kearahku dan langsung kusambut dengan cepat.
Tak akan ku sia-siakan kesempatan ini agar dia tidak lagi keluar kamar dan kuharap dia segera melupakan kejadian di meja makan tadi.
"Sini,biar aku yang suapin ya...? Aaaaakkk!"
pintaku padanya agar segera membuka mulutnya saat kusodorkan sendok berisi penuh dengan makanan di depan mulutnya.
Dia hanya menyunggingkan senyum sambil menatapku saat kusuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Kamu juga makan!"
Pintanya padaku.
"Iya!"
Jawabku sambil menyuapkan makanan kedalam mulutku sendiri.
Setelah selesai makan dan juga selesai sholat Isya' mas Rio mengajakku keluar dan berjalan-jalan.
"Mas,kita mau kemana sih?"
Tanyaku saat kami dalam perjalanan dengan pemandangan pantai di sisi bahu jalan yang kami lewati.
"Nanti kamu juga tau!"
Jawabnya sok misterius pakai rahasia-rahasiaan segala.
Ternyata mas Rio membawaku ke sebuah tempat yang begitu indah ditepian pantai yang dihiasi dengan lampu-lampu malam serta ada ayunan di tepi pantai.
Suasana pantai yang berbeda dari tempat yang kami kunjungi sore tadi,karena disini suasananya jauh lebih romantis dan menyenangkan.
Jika pantai yang kami kunjungi tadi sore lebih cenderung untuk umum dimana semua orang berbaur tanpa ada batasan usia,berbeda dengan disini yang cenderung khusus untuk remaja hingga dewasa.
Mas Rio mengajakku duduk disebuah bangku panjang,berdua menikmati angin pantai malam hari yang dingin.
"Kamu suka disini?"
Tanyanya padaku sambil menatap jauh kearah lautan lepas.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tak mampu menyembunyikan rada bahagiaku untuk menjawab pertanyaannya.
"Mau menggoda dan merayuku disini?"
Tanyanya lagi padaku sambil tersenyum menggodaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa membulatkan kedua bola mataku kearahnya.
BERSAMBUNG......