Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kejujuran hati


__ADS_3

Aku hanya diam mendengar pertanyaan mas Rio padaku tentang perasaanku terhadapnya.


"Aku tidak tau!"


Hanya itu yang dapat kuucapkan saat ini,aku bahkan tidak mengerti apa itu cinta dan bagaimana rasanya jatuh kedalam dunia percintaan.


"Bagaimana bisa kamu tidak tau dengan perasaanmu sendiri?"


tanyanya padaku.


Sepertinya bukan jawaban seperti ini yang dia harapkan dariku,mungkin dia ingin jawaban iya atau tidak.


Tapi justru jawabanku terkesan menggantung untuknya.


Apa boleh buat,karena aku memang tidak tau apakah aku mencintainya atau tidak.


Aku terlelap dalam dekapannya semalaman,saat aku terbangun karena merasakan gerakan mas Rio.


Sepertinya dia hendak bangun,namun justru ikut membangunkanku tanpa sengaja.


"Eh,kamu sudah bangun?"


Tanyanya sambil mencium keningku.


Mataku terbuka lebar saat menyadari tubuhku masih berada dalam dekapannya segera menyingkir,membiarkannya bangun.


Terdengar dering hape milik mas Rio diatas meja belajarku,sang pemilik sedang berada dikamar mandi sedangkan hapenya tak hentinya berdering sejak tadi.


Kulihat pada tampilan layarnya tertera nama 'Pras' dalam panggilan.


'tok,tok,tok'


"Mas.....! ada telfon....!"


Teriakku padanya dari luar pintu kamar mandi.


Segera kusodorkan hape padanya saat kekuar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk melilit di pinggangnya.


"Halo,ya......baiklah,lanjutkan!"


Hanya beberapa kata singkat yang dia ucapkan saat menerima telfon.


"Ada apa?"Tanyaku yang penasaran dengan apa yang dibicarakannya dengan pak Pras barusan.


Mas Rio nampak tersenyum memandangi wajahku dari dekat.


"Persiapakan saja dirimu untuk menepati janjimu!"


Rona bahagia mengembang diwajahnya seolah sedang menari-nari di hamparan taman bunga.


"Maksudnya?"


Tanyaku dengan hati bersebar,takut jika ucapanku akan jadi bomerang untukku.


"Kamu mau ikut denganku menemui Jesika?"


Tanyanya sambil memainkan rambutku.


"Untuk mengenalkanku padanya sebagai istrimu? supaya dia kasihan padaku dan meminta pertanggung jawaban darimu!"

__ADS_1


Aku membuang muka dan berjalan menjauh darinya menuju kamar mandi untuk segera mandi.


Setelah selesai sarapan pagi,mas Rio berpamitan pada kedua orang tuaku untuk pergi bersama kak Rendi.


Mereka berdua sepertinya kompak beralasan ingin touring kecil-kecilan bersama Samuel dan juga pak Pras,namun aku tau mereka sedang ada urusan lain yang sepertinya ada hubungannya dengan Jesika.


Tiba-tiba saja Jesika menelfonku dan mengajakku untuk bertemu.


Bagaimana ini? pak Pras sedang pergi bersama mas Rio tapi Jesi memintaku untuk menemuinya.


Aku coba menghubungi mas Rio namun tidak di angkat,kutelfon kak Rendi dan juga Samuel malah tidak aktif.Terakhir kucoba telfon pak Pras,kudengar nadanya tersambung dan sempat di angkat lalu mati.


Aku mencoba beberapa kali menghubungi mereka berempat namun hasilnya nihil,tak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi kecuali mas Rio namun juga tidak di angkat.


Kuputuskan mengiriminya pesan singkat untuk meminta izin padanya bertemu Jesi disebuah taman,sesuai permintaan Jesi.


Aku segera memesan taxi online dan meninta izin pada mama karena papa sedang ada meeting penting keluar kota.


Aku segera berangkat setelah taxi online datang menuju tempat tujuan sesuai titik dimana Jesi mengajakku bertemu.


Kulihat Jesi sedang duduk sendirian di bangku besi di bawah pohon rindang.


Baru saja aku akan berjalam mendekat kearah Jesi,tiba-tiba saja hapeku berdering hebat berteriak meminta di geser layarnya untuk disentuh.


"Halo assalamu'alaikum mas....."


Ucapku menjawab telfon dari mas Rio.


"Kamu jadi ketemu Jesi?"


Tanyanya diujung telfon.


"Ini sudah di taman mau ketemu Jesi,ada apa?"


Begitulah pesannya padaku.


"Iya,sudah dulu ya aku tutup telfonnya!"


"Jangan! biar aku saja yang tutup telfonnya,langsung masuki saja hapenya ke tas kasihan Jesi sudah menunggumu!


Ucapnya,tanpa curiga aku hanya menuruti saja apa katanya.


Mungkin Jesi mau menceritakan bahwa dia memang sedang berbohong tentang pak Mario? batinku saat hendak memasukkan hapeku kedalam tas.


"Hai Jes! kamu apa kabar?"


Sapaku sambil memeluknya yang nampak pucat dan terlihat baru selesai menangis.


"Hai Ra."


Dia nampak memaksakan senyumannya dihadapanku,sambil kami duduk bersama.


"Ada apa Jes? kemarin aku dan Medina ke rumahmu,orang rumahmu bilang kamu sedang istirahat."


Jesi memelukku lagi sambil menangis.


"Jes.....jangan terlalu sering menangis,kasihan janin yang ada di perutmu jika kamu terlalu stres!"


Ucapku berusaha menenangkannya supaya tidak lagi menangis.

__ADS_1


"Ra....aku bingung harus bagaimana!"


Ucapnya sambil melepaskan pelukannya padaku.


"Bagaimana maksudnya?"


Tanyaku penasaran sambil melihat wajahnya yang dipenuhi rasa bimbang.


"Pak Mario tidak mau tanggung jawab sebelum melakukan tes DNA! sedangkan perutku akan semakin membesar dan semua orang akan tau jika aku hamil diluar nikah."


"Maaf ya Jes sebelumnya,aku sangat percaya padamu tapi kalau memang pak Mario yang melakukannya kenapa dia justru memintamu untuk tes DNA? bukannya langsung menikahimu saja supaya masalah ini cepat selesai."


Jesi hanya dian,matanya menerawang ke awang-awang.Dia benar-benar nampak bimbang dalam tekanan pada masalah yang sekarang dia hadapi.


"Jes....jika kamu mau,kamu bisa membagi kekuh kesahmu padaku agar sedikit lega!"


Kugenggam jemari Jesi yang masih melamun entah apa yang dia pikirkan sekarang tapi pandangannya masih kosong menatap kedepan.


"Ra....apa kamu bisa jaga Rahasia?"


Tanyanya padaku,namun terdengar seperti masih ragu-ragu saat akan mengucapkannya.


"Insya Allah,demi kebaikanmu akan kututpi aib ini."


"Sebenarnya......anak ini.......huh! bukan pak Mario yang melakukannya Ra."


Jesi mengatakannya sambil tertunduk memegang perutnya.


Jahat sekali kamu jes! jahat sekali,teganya menfitnah suamiku yang tidak bersalah! Batinku,kututup mulutku sengan kedua telapak tanganku untuk menahan tangis serta suara yang berusaha dengan susag payah kuucapkan dalam hati agar tidak keluar dengan lisanku.


Aku hanya menggeleng pelan serasa masih tak percaya dengan apa yang Jesi ucapkan.


"Jes! lalu kenapa kamu bilang pak Mario yang melakukannya?"


Tanyaku sambil memegang kedua bahunya,menghadapkan wajahnya agar melihatku meski dia tetap tertunduk.


"Aku pikir jika aku mengatakannya dia akan menikahiku begitu saja sesuai impianku selama ini bersamanya.


Tapi justru dia berani mengancamku untu menuntut balik atas pencemaran nama baik jika setelah tes DNA membuktikan bahwa dia bukan pelakunya,"


Kamu memang harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu sendiri Jes! kamu tega menfitnah orang yang tidak bersalah dan hampir merusak rumah tanggaku.Gumamku dalam hati.


"Jika bukan pak Mario,lalu siapa yang melakukannya Jes?"


Tanyaku padanya di sela tangisannya.


"Aku takut Ra....aku tidak mau dipenjara apalagi dalam keadaan hamil! Aku harus bagaimana Ra?"


Bukannya menjawab,Jesi justru malah seolah mengalihkan pembicaraan.


"Jika kita tau siapa pelakunya,aku akan membantumu meminta maaf pada pak Mario dan kita mintai pertanggung jawaban pada pelakunya,"


Kupeluk Jesi yang masih tersedu dalam tangisannya,aku merasa iba sekaligus geram padanya.


Disaat seperti ini dia hanya bisa menangis sendirian tanpa ada siapapun disampingnya.


Jesi hanya menggeleng menatapku.


"Kenapa Jes? kasian kan pak Mario jadi kambing hitam! dan kamu pasti akan terus-terusan tertekan karena rasa bersalah!"

__ADS_1


Aku terus berusaha membujuk Jesi yang masih bungkam di hadapanku,tapi setidaknya aku tau bahwa bukan suamiku pelakunya.Andaikan saja aku bisa membuktikan pada semua orang bahwa pak Mario di fitnah,maka aku bisa menjadi saksi.


BERSAMBUNG......


__ADS_2