
Dengan susah payah aku berusaha untuk mengambil nafas dan kupejamkan mata sampai aku tersentak dan ketika kubuka mata kembali ternyata aku berada di dalam kamarku.Mama,papa,kak Rendi dan om Doni bangkit dan mendekat kearahku untuk melihat keadaanku.
Aku berusaha bangun dalam keadaan bingung,kenapa tiba-tiba aku berada disini? Lalu kemana perginya perempuan yang tadi memelukku sampai membuatku susah bernafas? siapakah dia? dan tentang perkataannya tadi......
"Ibu......"
"Ra.....Rara.....nak,kamu kenapa?"
Mama menangis sambil memelukku,seolah begitu takut terjadi hal buruk padaku.
Tante Susi,istri dari sepupu papa sekaligus dokter keluarga kami masuk kedalam kamar untuk memeriksa keadaanku dan meminta semua untuk keluar dulu kecuali mama yang masih tetap stay menemaniku selama pemeriksaan.
"Rara.....Istighfar nak."
"Astagfirullah halazim....."
Ucapku sambil menghela nafas panjang.
"Mbak,Rara terlihat sangat syok.Ada apa mbak?"
Tanya tante Susi sambil merapikan stetoskop dan alat tensiny.
__ADS_1
"Usahakan jangan sampai Rara stres dan banyak pikiran ya mbak."
Ucap tante Susi pada mama.
Setelah tante Susi meninggalkan kamarku mama mendekat kearahku dan memelukku.
"Maafkan kami nak,maafkan kesalahan keluarga kami padamu dan alamarhumah ibumu."
"Ma.....ibu bilang aku sudah berada ditempat yang tepat sekarang,serta tidak boleh menyalahkan siapapun karena semua yang terjadi adalah takdir tidak ada yang kebetulan."
"Alhamdulillah Wa Syukurillah,Allah menganugerahkan dirimu dalam keluarga ini nak meski dengan cara yang tak kami duga.Hatimu begitu mulia nak seperti almarhumah Pratiwi,ibumu."
Mama menangis memelukku dan menciumi pipi serta keningku.
"Ma.....dimana letak makam ibu? kenapa mama tak pernah membawaku ketempat ibu?"
"Besok,besok kita kemakam ibu kamu ya sayang.Letaknya tak jauh dari panti,setiap tahun mama selalu membawamu kepanti dengan maksud mendekatkan kalian.Maaf mama tidak berani mendekatkan kalian secara terang-terangan karena mama terlalu takut kehilanganmu nak."
Sepertinya benar kata ibu,aku berada ditempat yang tepat sekarang karena mereka yang kuanggap kelurga selama ini nyatanya memang benar-benar keluargaku.Tak perlu aku menyalahkan siapapun karena semua yang terjadi adalah takdir,jika ibu saja bisa mengikhlaskan segala yang telah terjadi maka akupun juga harus belajar mengikhlaskan dan menerima kenyataan yang ada.
Meski kenyataannya aku dan kak Rendi adalah adik sepupu tapi aku tetap tidak bisa menolak perjodohan ini karena pada kenyataannya aku adalah cucu kandung dari keluarga ini.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali setelah sarapan kami sekeluarga bersiap kemakam ibu untuk berziarah.Ini adalah kali pertama aku berkunjung ke rumah peristirahatan ibu kandungku sepanjang hidupku.
Kulihat makam ibu begitu bersih dan terawat sepertinya keluarga ini merawatnya dengan baik.Aku meminta do'a dan restu dari ibu karena malam ini aku harus menerima perjodohan dari keluarga ini.
Tak lupa kami taburkan bunga di atas pusara ibu setelah kami membacakan do'a,yasin serta tahlil untuk almarhumah ibu.
"Ma....aku beruntung ya,memiliki tiga ibu sekaligus dalam hidupku."
"Tiga?!"
Mama menghentikan langkahnya saat kami sudah berada di parkiran.
"Iya ma....ibu Pratiwi,mama Diana dan tante Maria kan ibuku juga ma istri dari ayah kandungku."
Mama tersnyum menggelengkan kepala sambil mencubit pelan pipiku.
"Don,soal masalahmu disini istrimu juga harus tau."
Pesan nenek pada om Doni sebelum kami memasuki mobil masing-masing.
"Iya ma."
__ADS_1
Kami segera pulang untuk persiapan acara nanti malam,padahal acaranya masih nanti malam.Untukku tak ada yang perlu dipersiapkan selain mental.
BERSAMBUNG......