
Mamaku dan calon mami mertuaku juga ikutan saling pandang saat melihat kami yang hanya diam sambil sesekali saling pandang.
"Kalian.......?"
Mami memicingkan mata seolah sedang mencurigai sesuati diantara kami berdua.
"Mam.....jangan berfikir terlalu jauh! persiapannya sampai mana mam?"
Mas Mario merangkul pundak maminya sambil berjalan menjauh dariku dan mama berusaha mencari topik pembicaraan.
"Sayang....kalian?"
Mami mengajukan pertanyaan yang sama dengan mami,mungki memang sudah sewajarnya untuk seorang ibu akan bertanya demikian ketika seorang laki-laki dan perempuan hanya berduaan diwaktu yang cukup lama.Pasti mereka akan berfikir yang aneh-aneh dan akan mempertanyakan banyak hal kepada anak-anak mereka.
"Mama sayang.....jangan seudzon ya......! anak gadismu ini insya Allah akan berusaha menjaga diri sendiri kok!"
Jawabku sambil tersenyum menyembunyikam kegundahan hatiku atas perbuatan mas Mario yang dilakukan padaku saat dirumah kaca tadi.
Entak kenapa rasa malu,serta rasa takut akan dosa yang harus kami tanggung dimasa depan terus menghantui pikiranku.
Meski bukan dosa besar yang kami lakukan tetaplah dosa dimataku.
__ADS_1
"Duduk dulu sayang,atau jika kamu punya ide untuk mendesain acaranya boleh kamu mengusulkannya!"
Kata mama padaku yang terkesan hanya berbasa basi saja,jika memang aku diberi kesempatan untuk mengusulkan ide kenapa tidak dari awal aku dilibatkan dalam persiapan? setelah semuanya hampir siap baru aku ditawari usul atau ide.
"Semuanya perfect kok ma,mama dan mami sendiri yang merancang semuanya?"
Aku menarik kursi untuk kududuki sambil melihat kearah depan membayangkan diacara nanti malam aku duduk dikursi ini sambil melihat diriku sendiri di depan sana di hadapan semua para tamu undangan bersanding dengan mas Rio bagaikan raja dan ratu dalam semalam.
"Ehem! calon mempelai perempuan kenapa melamun?"
Terdengar suara seseorang berdehem dibelakangku membuatku terkejut.
"Ish,kakak! ngagetin aja!"
Ucapku kesal sambil mencubit pelan lengan tangannya,sedangkan sang pemilik lengan hanya tersenyum bukannya mengaduh karena memang aku tidak sungguh-sungguh mencubitnya.
"Ih,galaknya! kalau nanti Mario jadi suami kamu trus sering kamu cubitin kayak gini waaaahhh....!"Bisiknya padaku.
"Kenapa!"
"Entah apa yang akan dia perbuat padamu sebagai balasannya nanti." Godanya padaku masih sambil berbisik.
__ADS_1
"Iiiihhhhhh,kakak!"
Aku mencubitinya lagi kini tak lagi dibagian lengan melainkan berpindah dibagian perut yang sering kali menjadi andalanku ketika kesal dengannya,kak Rendi hanya mengaduh pelan ketika aku mencubit bagian perutnya.
"Permisi nona Maura,mari saya antar kekamar anda untuk beristirahat!"
Ucap mbak Tari yang ternyata ikut kemari juga.
Aku hanya mengikuti mbak Tari berjalan mengikuti dibelakangnya dan kak Rendi juga mengikuti dibelakangku.
Aku sempat melihat dua orang laki-laki nampak sedang sibuk memajang sebuah foto pada standing yang terbuat dari besi.
Sebuah foto yang nampak tak asing namun membuatku penasaran hingga membuat langkahku terhenti untuk melihatnya lebih dekat.
Sebuah foto berisi seorang laki-laki dan perempun sedang berdiri hanya nampak punggung mereka dari belakang disebuah taman bunga dengan gazebo dan kolam ikan lengkap dengan air terjun mini yang berada di dalam rumah kaca.
Ya,itu adalah aku dan mas Mario saat di rumah kaca tadi.
Siapa yang mengambil gambar kami tadi? bukankah disana hanya ada kami berdua dan.....pak Pras! ini pasti kerjaan pak Pras!
BERSAMBUNG......
__ADS_1