
Kusodorkan segelas air putih untuknya lalu dengan cepat diminumnya seteguk demi seteguk sampai habis tak bersisia.
Dia hanya diam dengan gelas yang masih berada ditangannya sambil memandangiku.
"Kenapa melihatku begitu?"
Tanyaku waspada,takut jika dia akan melakukan sesuatu hal yang tidak kuharapkan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
"Kenapa kamu begitu perduli denganku? kenapa tidak menertawakanku tadi?"
Tanyanya padaku.
"Kenapa aku perduli padamu? entahlah sepertinya sudah naluri kemanusiaanku untuk selalu perduli dengan sesama,lalu kenapa aku tidak menertawakanmu? karena memang sikapmu tidak lucu dan tidak perlu di tertawakan!"
Jawabku dengan polos seperti anak kecil tanpa berfikir dengan ucapannya.
Mas Rio hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut pada ujung kepalaku yang tanpa hijab lalu diletakkannya gelas yang sudah kosong diatas nakas.
"Terima kasih ya!"
Ucapnya sambil membaringkan tubuhnya di sampingku duduk saat ini yang masih diam memandangi wajahnya yang sedang terpejam.
"Jangan suka memangdangiku seperti itu,cepatlah tidur!"
Ucapnya masih tetap memejamkan mata lalu mengibaskan lengan tangannya yang panjang kearah tubuhku melewati guling pembatas diantara kami dan mendarat tepat diatas pahaku.
"Singkirkan tanganmu mas!"
Ucapku kesal.
"Kenapa? tadi kamu juga sudah puas memeluk tubuh ku bukan? kenapa sekarang aku tidak boleh menyentuh sedikit saja!"
Segera kusingkirkan lengannya dari atas pahaku dengan kasar.
"Cepatlah tidur,atau aku akan melakukannya lagi yang lebih dari itu!"
Dengan cepat aku segera membaringkan tubuhku dan memejamkan mata.
Hari ini sepulang sekolah mas Rio yang juga pulang lebih awal langsung bersiap kemasjid untuk menunaikan sholat Jum'at,karena hari ini memang hari Jum'at jadi kami pulang lebih awal dari sekolah.
Aku sedang bersiap karena setelah pulang dari masjid mas Rio dan aku sudah berencana akan pulang kerumah orang tua mas Rio,sebenarnya hari ini Medina dan Jesi ingin mengajakku nongkrong kesebuah cafe yang sudah lama ingin mereka datangi bersamaku namun selalu kutolak dengan berbagai alasan karena tidak mendapat izin dari mas Rio.
Mungki lain kali aku akan pergi bersama mereka tanpa meminta izin darinya yang tidak memperbolehkanku pergi sepulang sekolah kecuali bersamanya.
Toh dia juga pernah pergi tanpa pamit dan tak memberi kabar sama sekali hingga membuatku cemas.
Setelah pulang dari masjid,kami sempatkan makan siang dahulu dirumah atas permintaan mama.Karena mama takut jika anak dan menantunya akan kelaparan dijalan,tidak dipungkiri karena kami memang akan melakukan perjalanan jauh mungkin sore hari baru akan sampai ditempat tujuan.
Setelah berpamitan dengan mama dan nenek,kami segera berangkat.Karena papa dan kak Rendi belum pulang dari kantor,jadi kami hanya bisa berpamitan tewat telfon Lagi pula kemarin semua juga sudah tau bahwa hari ini kami akan pergi ke kediaman keluarga Wijaya.
Kami berempat berangkat kekota dimana keluarga mas Rio tinggal.
__ADS_1
Kenapa berempat? karena selain aku,mas Rio dan pak Pras yang mengendarai mobil yang kami tumpangi ada juga Samuel yang ikutan nebeng.
Dengan gayanya yang cengengesan dia tak hentinya meledek kami yang sedang duduk berdua di bangku belakang sebagai pengantin baru.
Pak Pras yang sedang fokus di bangku pengemudi hanya bisa menahan tawa sambil tersenyum.
"Kak Rio....!"
Panggil Sam tiba-tiba.
"Hhmmmmmm!"
Jawab mas Rio,seakan malas menanggapi Samuel.
Matanya terpejam sambil menyandarkan kepala ke sandaran bangku.
"Kalian mau tinggal dirumah Rara sampai kapan?"
Tanya Samuel.
"Kenapa?"
Tanya mas Rio kembali pada Samuel yang sedang duduk di samping pak Pras namun kepalanya berkali-kali menoleh kebelakang sedari tadi.
"Dirumah sepi tau kak nggak ada temen ngobrol,cuma ada Frans.Nggak asik orangnya!"
"Frans?"
"Frans.....kamu belum pernah berkenalan dengan nyonya mudamu!"
Tanya Samuel pada pak Pras dengan tatapan curiga.
"Nyonya,nyonya!"
Sahutku sewot pada Samuel yang duduk di bangku tepat di depanku.
"Pak Pras seolah enggan menanggapi lebih lanjut celotehan Samuel,hanya diam saja tanpa menjawab.
Tiba-tiba saja terdengar dering hape,entah milik siapa yang pasti bukan punyaku karena aku hafal betul dengan nada dering dari hapeku sendiri.
"Halo....!"
Ucap Samuel berbicara dengan seseorang lewat panggilan di telfon genggam miliknya.
"Iya Din maaf,ini aku sudah perjalanan pulang....iya!
Oke,bye....!"
"Ra,Medin telfon kamu?"
Tanya Samuel padaku.
__ADS_1
"Tidak,"
Jawabku singkat tanpa mengecek hapeku terlebih dahulu.
"Coba cek! katanya telfon kamu tidak di angkat,"
Segera kuambil hapeku yang masih berada di dalam tasku,langsung kulihat daftar panggilan begitu banyak dari Medina.
"Iya,dia telfon aku banyak banget Sam!"
"Kenapa tidak di angkat?"
"Hehehe,hapeku mode silent jadi nggak dengar! Apa katanya?"
Tanyaku penasaran,namun ragu hendak telfon balik karena dia pasti bakalan banyak bertanya.
"Coba telfon balik!"
Usul Samuel padaku.
"Nanti saja kalau sudah sampai,kalau dia dengar suara Samuel didekatmu bagaimana?"
Sahut mas Rio,padahal matanya terpejam.
"Aku kira dia tidur!"
Bisik Samuel padaku.
"Kalian berisik sekali,bagaimana aku bisa tidur!"Jawab mas Rio sambil membuka mata dan membetulkan posisi duduknya yang terlihat tak begitu nyaman.
Selama perjalanan panjang membuatku lelah dan pantatku terasa begitu panas.
Pak Pras memarkirkan mobil di depan sebuah rumah yang masih asing untukku.
Kulihat dihalaman depan nampak seorang perempuan berhijab sedang menemani seorang anak kecil yang sedang asyik bermain dengan di dampingi oleh seorang perempuan muda berseragam pengasuh.
Itu adalah kak Reina yang sedang menemani Zarra yang sedang bermain lari-larian di halaman rumah.
Saat kami ikutan turun dari mobil Zarra dengan kaki kecilnya langsung berlari kearahku dan merengek meminta ku gendong.
Aku sempat menggodanya untuk tidak langsung menggendongnya,namun lama kelamaan aku tak tega mendengar rengekannya.
Kami sempatkan mampir sebentar karena mas Rio beralasan lelah dan ingin cepat istirahat jadi kami hanya bisa bertemu dengan kak Reina dan Zarra sebentar mas Rio sudah buru-buru mengajakku segera menuju kerumahnya.
Tapi kak Reina berjanji akan berkunjung kerumah mami nanti setalah kak Aldi pulang dinas dari luar kota,begitu ucapnya padaku.
Pak Pras langsung melajukan kembali mobil yang bahkan mesinnya mungkin belum dingin menuju kediaman Wijaya.
Saat sampai di istana Wijaya yang megah kami segera disambut hangat oleh mami dan papi yang kini masig duduk di kursi roda karena keadaannya yang belum benar-benar pulih pasca kecelakaan yang beliau alami.
Mami memelukku setelah kucium punggung tangannya,menuntunku untuk segera masuk kedalam rumah.Sedangkan mas Rio yang sekarang mendorong kursi roda papinya,terdengar mereka berbincang sambil berjalan dibelakang kami.
__ADS_1
BERSAMBUNG......