Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Amarah mas Rio


__ADS_3

Kami bersepeda menuju pantai,karena memang jarak antara rumah yang kami tinggali untuk berlibur dengan pantai yang lumayan dekat.


Satu sepeda kami naiki berdua,mas Rio yang mengayuh didepan sedangkan aku hanya tinggal membonceng dibelakang.


Kami bermain pasir dan air laut sambil menunggu matahari terbenam.


"Mau es cream?"


Tanya mas Rio padaku sambil menunjuk stand tempat es krim berada.


"Boleh!"


Jawabku sambil mengikutinya berjalan di jalanan berpasir menuju stand es krim berada.


"Mas.....!"


"Apa?"


Tanyanya sambil berhenti berjalan dan menoleh kearahku.


"Capek....!"


Rengekku dengan manja padanya.


"Kamu tungu disini dulu ya.....!"


"Mau ikut....gendong!"


Pintaku dengan manja padanya sambil ku ulas senyum seimut mungkin untuknya.


Dengan gemas dia cubit pelan kedua pipiku sambil tersenyum lalu berjongkok di hadapanku,bersiap untuk kunaiki punggungnya untuk menggendongku.


"Sayang...!"


"Apa! jangan bilang kalau aku berat!"


Jawabku sambil setengah mengancam.


"Kok kamu tau aku bakalan bilang seperti itu? kamu ini bisa baca pikiranku ya!"


Pertanyaannya justru membuatku tertawa geli saat mendengarnya.


Untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa menebak isi hatinya padahal aku hanya asal bicara saja tadi.


Biasanya dia yang selalu tau isi hatiku,aku benar-benar merasa senang kali ini karena untuk pertama kalinya bisa menebak apa yang sedang dia fikirkan.


"Kenapa kamu malah tertawa?"


Tanyanya padaku sambil berhenti sejenak untuk menoleh melihat wajahku yang masih berada diatas punggungnya.


"Aku seneng aja bisa nebak isi hatimu,biasanya kan kamu yang selalu tau apa yang sedang kupikirkan!"


Jawabku sambil kembali tertawa.


"Memangnya seriusan ya aku berat sekarang?"

__ADS_1


Tanyaku balik padanya yang kini mulai melanjutkan langkah kakinya menuju stand es krim yang sudah mulai dekat.


"Iya,kayaknya kamu sekarang gemukan deh sayang!"


Jawabnya.


"Aku sengaja makan banyak,biar nggak di ejek kurus kering lagi sama suamiku!"


Ucapku meledeknya karena dulu sering sekali meledekku dan mengejekku tanpa segan sebelum kami resmi menjadi suami istri seperti sekarang.


"Wah,wah.....istriku sekarang pintar sekali memutar balikkan kata-kata ya....!"


Ucapnya sambil berhenti dan menurunkanku dari gendongannya karena sudah sampai di tempat kami akan membeli es krim.


"Aku mau rasa coklat!"


Ucapku padanya yang memandangiku saat berada di penjual es krim.


Kami menikmati es krim sambil menikmati suasana pantai dengan pemandangan matahari terbenam diantara hamparan lautan dan langit sore yang begitu indahnya seperti kebersamaan kami sekarang.


Kurasakan jari jemari tangan mas Rio menggenggam erat jariku saat kami duduk santai di tepi pantai berpasir,aku menoleh kearahnya membuat pandangan kami saling bertemu saat wajah kami saling berhadapan.


"Jangan melihatku seperti itu! ini ditempat umum,tatapanmu sangat membuatku tergoda sayang!"


Bisiknya lirih ditelingaku.


Aku hanya tersenyum sambil menggeleng pelan mendengar ucapan konyolnya sembari memalingkan wajahku agar tak dianggap menggodany lagi.


Aku hanya memandangnya biasa saja,kenapa aku dianggap menggoda! gumamku dalam hati.


"Apa kamu mau lanjut menggodaku nanti dikamar?"


Tanyanya padaku sambil dicoleknya daguku guna menggodaku.


"Apa sedari tadi aku ini terlihat sedang menggodamu mas!"


Tanyaku kesal padanya sambil membantunya bangkit dari duduknya.


"Aku ingin kamu yang menggodaku nanti....."


Ucapnya dengan melingkarkan lengannya di pinggangku sambil berjalan menuju tempat kami menaruh sepeda tadi.


"Kalau aku tidak mau,bagaimana?"


Tanyaku sambil duduk diatas boncengan sepeda yang siap untuk dikayuh olehnya.


"Aku akan memghukummu semalaman dan tidak akan kubiarkan sedetikpun kamu tertidur bahkan sampai pagi"


Ancamnya padaku yang langsung begidik ngeri dengan ancamannya yang terdengar sepertinya dia akan benar-benar menindasku kali ini.


"Ampuni saya tuan muda,saya mohon ampuni saya .....!"


Ucapku memelas sambil memegang erat pinggangnya dari belakang saat membonceng.


"Kamu benar-benar membuatku gemas MAURA!"

__ADS_1


Ucapnya sambil terkekeh disela helaan nafasnya saat mengayuh sepeda yang kami naiki.


Sesampainya di tempat kami menginap yang ternyata adalah salah satu villa milik keluarga Wijaya,kami sudah di sambut kembali oleh pak Ujang memberitahukan pada kami bahwa makanan akan segera siap sebentar lagi sesuai keinginan tuan muda.


Setelah mandi dan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah kami berdua langsung turun menuju meja makan.


Segala hidangan sudah tersaji di atas meja,saat aku dan mas Rio baru saja duduk anak perempuan pak Ujang keluar membawakan dua gelas air putih berjalan mengikuti istri pak Ujang yang juga sedang membawa masakan di tangannya.


Entah sengaja atau tidak saat anak perempuan pak Ujang hendak meletakkan segelas air di atas meja untukku airnya tumpah mengenai bajuku.


"Aduh....maaf nona,saya tidak sengaja!"


Ucapnya sambil menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya saat aku memandang kearahnya,lalu berpura-pura membantuku membersihkan tumpahan air.


"Kamu gila ya! sengaja menumpahkan air kepakaian istriku!"


Teriak mas Rio membentaknya sambil berjalan dengan cepat mendekat kearahku,aku bahkan ikut tersentak kaget mendengar teriakan mas Rio yang ditujukan untuk anak perempuan pak Ujang yang tak kuketahui namanya.


"Maaf tuan muda,maaf atas kelalaian anak kami.Nona Maura saya mohon maafkan putri anak kami yang sudah melakukan kesalahan."


Ucap istri pak Ujang berkali-kali meminta maaf pada kami untuk anak perempuannya yang ternyata bernama Putri.


Pak Ujang dengan cepat berjalan tergopoh-gopoh dari arah luar saat mendengar teriakan mas Rio dari arah meja makan.


"Pak Ujang bawakan makanan untuk kami ke kamar!"


Dengan wajah merah padam mata mas Rio melotot kearah Putri yang hanya tertunduk dihadapan mas Rio.


"Baik tuan muda,maaf atas semua kejadian yang kurang menyenangkan ini tuan."


"Didik dengan baik anak perempuanmu ini pak Ujang,aku tidak mau melihatnya lagi salama kami tinggal disini."


Aku tidak pernah melihat mas Rio semarah ini pada siapapun sebelumnya,aku benar-benar ikut merasa takut dibuatnya.


"Mas....sudahlah,lagi pula Putri tidak sengaja menumpahkan air kebajuku iya kan Putri?"


Aku berusaha meredam amarah mas Rio semampuku,aku bahkan tidak yakin akan usahaku untuk menenangkannya agar tidak lagi semurka ini.


"Mas....istrinya pak Ujang kan juga sudah minta maaf! Kenapa tidak kita maafkan?"


Bujukku lagi berusaha menenangkannya kembali.


"Jadi kau sedang merayuku untuknya!"


Ucap mas Rio sambil menunjuk kearah Putri yang masih tak bergeming sedari tadi.


"Aku....."


Belum sempat kuselesaikan kata-kataku mas Rio sudah menarik tanganku.


"Aku sudah tidak selera makan disini,kita makan dikamar saja! Ya?"


Ajak mas Rio menggandeng tanganku menuju anak tangga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2