Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Sikapnya


__ADS_3

Kulihat mas Rio berjalan dengan enggan keluar kamar dan menutup pintu dari luar,tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu yang sama.


Aku segera menyeka sisa air mataku dan berjalan menuju pintu.Saat kubuka mas Rio langsung masuk dan memelukku dengan erat hingga membuatku susah untuk bernafas.


"Mas........aku bisa mati jika tidak segera kamu lepaskan!"


Segera mas Rio melepaskan pelukannya yang begitu kencang pada tubuhku,aku gelagapan lalu segera mengatur nafasku supaya normal kembali.


"Apakah aku sudah dimaafkan?"


Tanyanya padaku.


Kini tingkahnya seperti anak kecil yang merengek meminta dimaafkan atas kesalahan yang telah dia perbuat.Dia benar- benar membuatku bingung dengan sikapnya yang aneh dan selalu berubah-ubah.


Atau jangan-jangan dia ini sudah sakit jiwa ya? kenapa dalam sekejap dia dengan mudahnya berubah sikap seperti ini.


Aku hanya bisa berulang kali bertanya pada diriku sendiri dalam hati,lama kelamaan aku bisa ikutan sakit jiwa jika dekat dengannya terus menerus seperti ini.


"Kenapa diam?"


Tanyanya menggoyangkan bahuku,menyadarkanku dari lamunanku sesaat.


"Huh! masuklah!"


Pintaku padanya sambil menutup pintu perlahan.


"Terima kasih sudah memaafkanku!"


Ucapnya sambil memelukku dari belakang saat aku masih berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Berjanjilah,tidak akan membuatku takut seperti tadi lagi!"


Pintaku padanya yang masih menempel di punggungku dengan dagunya yang diletakkan di bahuku.


"Baiklah! tapi kalau cuma meluk seperti ini atau cium boleh kan?"


Tanyanya.


Ya ampuuuuun! permintaan macam apa lagi ini? apa lagi sebenarnya yang dia mau dariku? lama kelamaan dia akan meminta lebih dari ini.


"Tidak!"


Jawabku singkat sambil berjalan pelan berusaha menghindar darinya,namun apadaya meski aku sedang berjalan pelan dia masih saja menempel seperti anak kecil.


"Kenapa tiba-tiba jadi manja seperti ini sih!"


Tanyaku dengan kesal.


"Menyingkirlah! sampai kapan mau terus seperti ini?"


"Sampai kamu memaafkanku!"


Jawabnya sambil menciumi kerung leherku dengan lembut sambil tangannya tetap memeluk tubuhku.


"Jangan lakukan itu lagi padaku! baiklah aku akan memaafkanmu!"


Barulah dia benar-benar melepaskanku saat aku mengucapkan kata bahwa aku sudah memaafkannya.


Aku hanya menggeleng pelan melihat tingakah lakunya yang benar-benar membuatku bingung.


Setelah sholat Isya' berjama'ah mas Rio mengajakku untuk makan malam bersama dengan kedua orang tua serta kak Reina yang juga datang berkunjung bersama kak Aldi sesuai janjinya padaku sore tadi.


"Mana Zarra kak?"


Tanyaku sambil melihat sekeliling karena tak kujumpai keberadaan keponakan lucuku.


"Ada,lagi main sama pengasuhnya."


Jawab kak Reina dengan kak Aldi yang tak berhenti memeluk pinggang sang istri dengan mesra.


Setelah acara makan malam selesai papi meminta mas Rio dan kak Aldi untuk datang keruang kerjanya.Sepertinya ada hal penting yang akan mereka bicarakan,sedangkan aku lebih memilih bersama dengan mami dan kakak iparku asyik mengobrol di ruang keluarga.


Mami dan kak Reina sesekali menggodaku dengan candaan tentang perkara ranjang,aku hanya bisa tersenyum dan tersipu malu dengan ledekan mereka padaku.


Malam mulai larut,kak Reina dan kak Aldi berpamitan pulang setelah selesai membicarakan hal pentig dengan papi diruang kerjanya bersama mas Rio yang hingga sekarang belum menunjukkan batang hidungnya.


Mami masih saja menggodaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus kearah pembicaraan orang dewasa yang belum begitu kumengerti.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan kadang tertawa kecil menanggapi candaan mami.


"Seru banget ngobrolnya!"


Suara mas Rio tiba-tiba mengejutkan kami yang sedang asyik mengobrol.


"Ah kamu ngagetin aja! sudah selesai bicaranya sama papi?"


Tanya mami pada mas Rio.


"Sudah mi,"


Jawab putra sambung kesayangannya itu yang sesekali mulai menguap.


"Kalian istirahatlah!"


Perintah mami pada kami.


"Iya mi,yuk Ra!"


Ajak mas Rio padaku.


"Kalian ini,sudah suami istri kenapa tidak ada panggilan sayang?"


Protes mami pada kami,aku hanya tersenyum kearah mami tersipu malu.


"Apaan sih mi....!"


Ucap mas Rio.


"Iya,iya..!"


Jawabnya saat mami memelototinya.


"Yuk sayang kita kekamar!"


Ajak mas Rio padaku.


"Sambil di peluk dong.....!"


Perintah mama sambil memeragakan dengan cara memeluk tubuhnya sendiri.


"Apa yang kalian obrolkan tadi? kedengarannya seru sekali."


Tanya mas Rio padaku sambil berjalan dengan masih tetap memeluk pinggangku.


"Hanya obrolan biasa!"


Jawabku dengan canggung.


"Benarkah? kudengar tadi mami mengatakan sesuatu padamu!"


Ucapnya masih menyelidik.


"Tidak ada,hanya obrolan biasa!"


"Lalu kenapa kamu terlihat malu saat mami mengatakan sesuatu padamu?sayangku!"


"Itu.....karena.....mami membicarakan soal.......sesuatu yang bahkan aku tidak mengerti."


Jawabku ragu.


"Kenapa kamu tidak menerti?"


"Ya.....karena aku tidak paham dengan yang mami bicarakan."


"Kenapa kamu tidak paham? tapi kami mengerti kan maksud dari arah pembicaraan mami?"


"Iya,tapi aku tidak......"


"Kenapa? karena belum pernah mengalaminya dan karena belum pernah melakukannya?"


"Hhhmmm!"


"Mungkin kita harus mencobanya!"


Ucapnya padaku saat kami sudah mulai masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Apaam sih! tidak!"


Jawabki sambil melepaskan lilitan tangannya dari pinggangku.


"Ayo lah...!"


Ajaknya kini berusah meraih tubuhku.


"Tidak!"


Jawabku tetap menolak.


"Aku janji,tidak akan membuatmu hamil!"


Bujuknya,kini tubuhku sudah dalam pelukannya.


Dia berhasil memutar tubuhku hingga kini tubuh kami saling berhadapan dengan kedua tanganku berada di dadanya.


"Tidak! lepaskan aku mas!"


Pintaku sedikit berteriak.


"Sedikit?"


Pintanya berusaha terus merayuku namun masih terus kutolak.


"Ingat surat perjanjian kita!masih ada kan?"


Ucapku berusaha mengingatkan.


"Sayangnya kenapa aku selalu lupa akan surat itu setiap kali berada didekatmu?"


"Jangan pura-pura amnesia!"


Ucapku sambil memukul-mukul dada bidangnya sambil terus meronta membuatnya tak seimbang dan kami terjatuh tepat diatas tempat tidur dengan tubuhku kini dalam keadaan menindihnya.


Dengan cepat mas Rio membalik keadaan,kini aku kembali berada di bawah tubuhnya.


Pemandangan yang sama kembali terjadi seperti sore tadi.


"Bisakah kamu berjanji?"


"Apa?"


Tanyaku.


"Akan memberikannya hanya padaku?"


"Apa?"


Tanyaku pura-pura tak mengerti maksud dari pertanyaannya.


"Dasar bocah! tentu saja semua yang kamu miliki,yang sedang aku kuasai saat ini."


"Apa kamu begitu menginginkannya?"


"Tentu saja!"


"Kenapa?"


"Karena aku laki-laki normal yang sudah tentu tidak akan tahan jika berdekatan dengan lawan jenis,terutama sepertimu!"


"Memangnya kenapa aku?"


"Kamu ini pura-pura bodoh atau beneran lugu? bahkan pria lain menginginkanmu,apalagi aku ini suamimu!"


"Sayang.....bolehkah aku....."


"TIDAK!"


Jawabku dengan cepat memotong pertanyaannya yang bahkan belum sempat diselesaikan.


"Hah! yasudah kalau tidak boleh!"


Ucapnya kesal kepadaku,sambil bangkit melepaskanku.


Aku hanya bisa tersenyum lega karena telah berhasil lepas darinya sekali lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2