
Aku masih terdiam sesaat menghela nafas panjang sambil berusaha menenangkan diriku sendiri.
"Pak Pras sudah berapa lama menjadi asisten mas Rio?"
Aku mulai dengan pertanyaan pertamaku.
"Sejak tuan muda bekerja di Wijaya Group nona,"
"Apa mas Rio pernah punya pacar?"
Pak Pras hanya terdiam,sepertinya begitu ragu hendak menjawab.
"Kenapa diam pak Pras? bingung ya mau menjawab apa,karena tuan mudamu itu terlalu banyak perempuan yang dikencaninya!"
"Setahu saya tuan muda hanya pernah satu kali memiliki kekasih,setelah itu tidak pernah lagi saya melihat tuan muda bersama wanita kecuali nona Maura."
"Bohong!"Ucapku sedikit berterik.
"Saya serius nona,"
"Kalian pasti sudah bersekongkol untuk membohongiku!"
Teriakku sambil kembali terisak,entah sudah seperti apa rupaku saat ini.
Pak Pras mengulurkan sekotak tisu untukku yang ku terima dengan kasar.
"Saya tidak digaji untuk berbohong,nona. Saya sangat mengenal tuan muda sejak kami sama-sama masih kecil!"
Bagiku ucapan pak Pras terdengar seperti sedang membela majikannya,tentu saja di dibayar oleh mas Rio bukan olehku.
Meski dia bilang di gaji untuk tunduk pada perintahku,tetap saja dia akan berpihak pada tuannya.
"Antarkan aku pulang sekarang!"
Bentakku padanya,selama ini aku tidak pernah segila ini ketika marah bahkan sampai berani membentak orang yang usianya jauh diatasku meskipun itu pekerja di keluargaku sekalipun.
"Baik nona."
Segera pak Pras kembali melajukan mobil untuk mengantarkanku pulang.
Kutelfon Samuel untuk menanyakan keberadaannya.Kebetulan Samuel sedang berada dirumah mas Rio sekarang,akan tetapi sore nanti dia sudah berencana keluar bersama Medina.
Kebetulan sekali pikirku,aku ingin melampiaskan semua amarahku tanpa diketahui oleh orang tuaku apalagi kak Rendi.Aku sangat ingat sekali ucapak kakakku itu,jika ada laki-laki yang berani macam-macam atau bahkan menyakitiku maka orang pertama yang akan maju untuk menghajarnya adalah kak Rendi.
Sesampainya dirumah aku berpesan pada pak Pras untuk menungguku sebentar karena aku hanya akan berganti pakaian,setelah itu kupinta untuk mengantarkanku lagi nanti.
"Assalamu'alaikum...."
Ucapku lalu berlari menuju kamarku tanpa memperdulikan mama yang menjawab salamku dan menanyakan keadaanku.
Mungkin mama menyadari jika keadaan anaknya sekarang ini sedang kacau.
"Kamu mau kemana lagi sayang?"
Tanya mama saat melihatku yang sudah berganti pakaian dengan rapi dan hendak berpamitan.
__ADS_1
"Mau kemakam nenek sebentar ma,tiba-tiba Rara kangen!"
Jawabku lalu berpamitan pergi dengan buru-buru.
"Kemana kita sekarang nona?"
Tanya pak Pras ketika kami sudah berada didalam mobil yang mulai melaju pelan.
"Kemakam ibu saya pak,nanti saya tunjukkan jalannya!"
"Baik nona,"
Jawab pak Pras lalu melajukan mobil dengan cepat namun tetap waspada dan hati-hati menuju tempat yang sudah kuarahkan.
"Bu......maaf Rara jarang mengunjungi ibu,"
"Maaf bu,Rara datang dalam keadaan yang seperti ini.Ibu tau? Rara sudah menikah bu,tapi.......Bu,aku mencintaimu!"
Kuluapkan emosiku dipusara ibu,aku menangis sejadi-jadinya supaya hatiku lega.
Aku segera meminta pak Pras untuk mengantarkanku kerumah mas Rio.
Sesampainya dirumah mas Rio,Samuel sudah menyambutku dengan wajah cemas sekaligus penasaran.
Pak Pras mengikutiku yang kini sedang duduk berdua dengan Samuel yang sudah berisik menanyakan begitu banyak pertanyaan dengan diawali kata kenapa,ada apa,bagaimana bisa,siapa dan bla,bla,bla.....namun tak satupun pertanyaannya kujawab.
"Tolong antarkan aku kemar!"
Kedua laki-laki yang seolah seperti sedang mangawal mengantarkanku kesebuah kamar yang dulu pernah tanpa sengaja kumasuki bersama Zarra.
Ucap pak Pras sambil membukakan pintu mempersilahkanku masuk.
Segera kurebahkan tubuhku dalam keadaan tertelungkup diatas tempat tidur tanpa menyalakan lampu ataupun pendingin ruangan.
Aku terbangun ketika kurasakan hawa dingin menusuk hingga kedalam tulang,kubuka mataku ketika kulihat tubuhku sedang meringkuk dibalik selimut.
Siapa yang menyalakan AC,dan lampu kamar,serta siapa juga yang menyelimuti tubuhku? apakah Samuel,atau pak Pras! Batinku.
Saat aku bangkit dari tempat tidur,aku dikejutkan dengan keberadaan mas Rio sedang duduk di sofa.
"Sudah bangun?"
Tanyanya padaku sambil bangkit dari duduknya berjalan mendekat kearahku yang segera waspada saat tubuhnya mulai mendekat kearahku.
"Menjauhlah dariku! aku sedang menenangkan diri disini,untuk apa menyusulku kemari.....!"
Bentakku padanya.Aku benar-benar merasa muak dan sedang tidak ingin bertemu siapapun terutama dia saat ini,namun kenapa justru dia malah kemari menyusulku.
"Ini rumahku,kamu yang kenapa datang kemari?"
"Jangan pura-pura bodoh mas! kenapa aku tidak boleh kemari,apa karena dikamar ini kamu melakukannya dengan Jesi dan wanita lain yang bisa kamu jamah sesuka hatimu?"
"Kamu ini bicara apa?"
"Apa karena aku selalu menolakmu,jadi kamu melampiaskannya pada wanita lain!"
__ADS_1
"Tenanglah,kita bisa bicarakan ini baik-baik!"Bujuknya padaku.
"Tenang? bicara baik-baik?
Apa menurutmu masih ada yang perlu kita bicarakan dengan baik mas?"
"Jika kamu marah karena kehamilan Jesi yang dituduhkan padaku,kamu salah Ra.Bukan aku yang melakukannya!"
Mas Rio terdengar seperti sedang membela diri dan berusaha menyangkal dengan apa yang sudah dia perbuat pada Jesi.
"Kamu masih mengelak mas?aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri Jesi mengatakannya.
"Lalu kamu percaya dengan fitnah yang dia tujukan padaku?"
"Tentu saja!"
Jawabku sambil terus menghindarinya.
"Untuk apa aku melakukan itu padanya,jika dirumah saja aku memiliki istri yang bahkan belum pernah sekalipun kusentuh."
"Justru karena aku menolak untuk kamu sentuh mas,jadi kamu memilih menyentuh perempuan lain untuk pelampiasan nafsu bejat mu!"
"Astagfirullah Ra.....kamu menuduhku seburuk itu?"
"Aku bukan menuduh,tapi memang seperti inilah kenyataannya mas!"
"Dengarkan aku Ra! aku ini bukan laki-laki murahan yang dengan mudah melakukannya dengan sembarang wanita!"
"Hah,benarkah!"
Ucapku tak percaya.
"Jika aku mau aku bisa melakukannya denganmu yang jelas sudah halal untukku,tapi aku tidak melakukannya karena aku menghargaimu bukan hanya sebagai perempuan tapi karena kasih sayang!"
Aku tertegun ketika mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya.
"Kasih sayang?"
Tanyaku mengulangi kata-kata yang terakhir terucap darinya.
"Iya karena aku mulai menyayangimu,istirku!"
Aku jatuh kedalam pelukannya dalam keadaan mematung.
Air mataku masih tak hentinya mengalir deras di kedua pipiku,masih kuabaikan mas Rio yang sibuk menyeka air mataku dengan jemarinya.
"Aku tidak mau dimadu mas,jika kamu memang harus bertanggung jawab atas kehamilan Jesi maka aku akan meminta cerai."
Ucapanku terasa dengan begitu mudahnya terucap dari bibirku,namun terasa begitu menyakitkan hatiku sendiri saat kata-kata itu terucap olehku.
"Aku bisa jamin,itu tidak akan pernah terjadi."
Ucap mas Rio sambil kembali memelukku.
BERSAMBUNG......
__ADS_1