
Saat seseorang masuk dan mengucapkan salam aku dan Medina sama terkejutnya.
"PAK MARIO!"
Ucapku dan Medina serempak lalu kami saling pandang.
"Se,selamat sore pak."
Sapaku masih dengan wajah bingung karena tiba-tiba pak Mario datang kemaru,atau jangan-jangan saudara Samuel yang tadi dimaksud itu adalah pak Mario.
"Selamat sore."
Jawabnya singkay dengan ekspresi seperti biasanya ketika ketemu kami disekolah,datar dan berlalu meninggalkan kami masuk kedalam rumah.
"Sam,pak Mario itu masih saudara kamu?"
Tanyaku padanya dengan berbisik agar sang pemilik rumah tidak mendengar.
"Hehehe,iya.Kak Mario itu adik dari istrinya kakakku."
Kami sama-sama terdiam saat pak Mario keluar lagi dengan membawakan minuman serta camilan untuk kami berdua.
"Silahkan diminum,maaf ya seadanya.""
Akugak nyangka ternyata pak Mario bisa ramah juga pada kami ketika dirumah.
"Terima kasih pak."
Ucapku.
"Iya pak terima kasih."
Medina ikut menimpali.
"Aku nggak dibikinin kak?"
Samuel memprotes.
"Emangnya kamu masih sakit!"
Tanya pak Mario sambil menggoda Samuel dengan memukul pelan bagian perutnya.
"Aduh!"
Samuel mengaduh sambil memegangi perutnya.
"Jagoan kok sampai izin sakit habis berantem!" Ejek pak Mario sambil berjalan masuk meninggalkan kami.
"Sam! kalau emang kamu nggak punya musuh,nggak kenal orangnya juga dan ngerasa nggak punya masalah sama orang itu kenapa tiba-tiba orang itu mukulin kamu?"
__ADS_1
Tanyaku masih penasaran.
"Entah lah."
Jawab Samuel sambil mengangkat kedua bahunya.
"Orang itu nggak ngomong apa-apa juga gitu?"
"Ng.......nggak."
Jawabnya,namun kulihat ada keraguan dari jawaban Samuel barusan seolah Samuel sedang menyembunyikan sesuatu dari kami.
Aku merasa banyak hal yang Samuel sembunyikan dari kami,lebih tepatnya dariku.
Samuel sering lewat depan rumahku dan sering antar jemput aku dengan alasan bahwa rumah kami searah dan jaraknya tak terlalu jauh.Namun pada kenyataannya tempat tinggalnya berbeda arah dari rumahku dan jaraknya lumayan jauh ternyata.
Entah apa maksud serta tujuannya,aku tak mau langsung memprotesnya biar dia sendiri yang mengatakan kebohongan yang selama ini dia lakukan beserta alasannya.
"Udah sore nih Sam,kami pulang dulu ya."
Aku menoleh kearah Medina yang sepertinya nampak masih betah disini.
"He'emh Sam,kami pamit dulu ya."
"Bisa minta tolong panggilkan pak Mario nggak?kami mau pamit."
"KAAAAAK! KAK RIOOOOOO! PADA MAU PULANG NIIIIIIH!
"Iya!"
Pak Mario dengan cepat segera muncul,kami langsung berpamitan untuk pulang.
Selama perjalanan aku terus kepikiran tentang kebohongan demi kebohongan yanh Samuel lakukan selama ini,begitu banyaknya kebohongan yang dia sembunyikan dariku.
Dia bilang pindah kekota ini karena mengikuti orang tuanya yang pindah tapi ternyata dia pindah tidak dengan orang tuanya serta tapi dia pindah karena disekolah yang lama bermasalah,ditambah lagi kebohongannya tentang lokasi rumahnya yang katanya dekat rumahku.
"Da Rara,aku langsung pulang ya."
"Da Medin....ati-ati ya dijalan dan terima kasih buat tumpangannya."
Kami berpisah setelah Medin mengantarku sampai kehalaman rumah.
Setelah izin selama dua hari akhirnya Samuel kembali berangkat kesekolah,aku berusaha sebisa mungkin bersikap biasa saja padanya seolah aku tak tau tentang kejangglan dari sikap serta kebohongan yang dia lakukan selama ini.
Hari dimana saatnya pertemuan dua keluarga pun tiba,mama mendandaniku secantik mungkin namun tetap minimalis.
Kami datang berempat bersama nenek juga yang di dampingi oleh bu Sum serta namun tanpa kak Rendi.
Papa tidak mengajak serta kak Rendi karena khawatir akan mengacaukan acara,papa sengaja menugaskan kak Rendi keluar kota untuk keperluan bisnis bertepatan dengan acara pertemuan berlangsung.
__ADS_1
Pak Yanto melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran ternama dikota ini,jalanan begitu ramai kendaraan berlalu lalang karena memang ini malam minggu.Banyak para muda mudi menghabiskan waktu untuk kencan atau mereka yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.
Sesampainya di tempat tujuan kulihat ada pak Mario dan kak Reina serta si kecil Zarra sedang berada di gendongan pak Mario.
Mereka nampak begitu harmonis dan bahagia.
"Pak Mario,kak Reina kalian disini juga?"
Sapaku berbasa basi.
"Iya."
Jawab kak Reina singkat,sedangkan pak Mario hany tersenyum kearahku.
"Om,tante silahkan langsung masuk saja,mami dan papi sudah menunggu didalam."
Ucap pak Mario pada mama dan papa lalu berjalan mengikuti kami dari belakang masih sambil menggendong Zarra.
Om,tante dan papi serta mami sudah menunggu didalam? berarti orang yang akan kami temui keluarga pak Mario?
Jangan-jangan orang yang mau dijodohkan denganku itu Samuel? tapi....papa bilang usianya terpaut jauh dariku,kalau Samuel kan seumuran denganku.
Ataukah pak Mario punya adik laki-laki? mungkin.
Isi kepalaku rasanya seperti akan meledak sebentar lagi jika terus-terusan dipenuhi oleh asumsiku sendiri.
Keluarga om Wijaya langsung menyambut kedatangan keluarga kami dengan ramahnya.
"Ini Rara ya? cantik sekali kamu nak."
Kata seorang tante yang langsung memelukku,sepertinya itu adalah orang tua pak Mario aku langsung mencium punggung tangannya.
Mataku memandang sekitar mencari-cari keberadaan laki-laki yang akan dijodohkan denganku nantinya,namun tak kutemui ada laki-laki muda selain pak Mario diantara kami.
Tak lama berselang setelah kami datang,ada seorang laki-laki yang tak asing berjalan mendekat dengan terburu-buru.Laki-laki yang pernah kutemui saat di kantor polisi waktu itu,seorang polisi muda yang sempat mengajukan beberapa pertanyaan padaku saat menjadi saksi untuk sopir taksi yang pernah berniat jahat padaku.
Mungkinkah dia laki-laki yang akan dijodohkan denganku? masuk akal sih kalau papa bilang usianya terpaut jauh dariku,dilihat dari wajahnya yang bahkan usianya sepertinya lebih matang dari pak Mario.
"Maaf saya terlambat,tadi jalanannya macet banget."
Katanya lalu mendekat kearah Zarra dan Zarra langsung memanggilnya 'PAPA'.
Papa!Batinku.
"Perkenalkan,ini Aldi menantu saya."
Kata om Dedi,papanya pak Mario.
Menantu! jadi?
__ADS_1
Bersambung.......