
Acara sebentar lagi akan dimulai,aku juga sudah selesai di rias dan didandani bak boneka barbie yang siap di mainkan.
Kulihat wajaku di cermin dengan lampu bundar melingkar,aku serasa tak lagi mengenali diriku sendiri dicermin.
Wajahki yang tadinya nampak biasa saja tanpa makeup kini nampak sangat berbeda dengan polesan sana sini.
MUA yang didatangkan mami memang berhasil menyulapku menjadi orang lain meski dengan dandannan yang tidak terlalu menor dan berlebihan namun aku sendiri sempat dibuat pangkling dengan diriku sendiri saat pertama kali melihat hasil finishnya.
Mama,papa dan kak Rendi serta nenek datang lagi kekamarku,mereka juga sudah siap dengan acaranya.
Mereka tak hentinya memujiku begitu juga kak Rendi,baru kali ini dia memujiku cantik saat berdandan karena biasanya dia hanya akan meledek dan menggodaku dengan cemoohan dan ejekannya.
Entah karen sungkan dengan Make Up Art yang masih berada di hadapannya atau karena memang aku benar-benar cantik di matanya kali ini hingga membuatnya ikut memujiku kali ini.
Mama,papa,kak Rendi dan nenek tidak ikut mengiringiku berjalan menuju ketempat acara karena seorang pelayan sudah datang menjemputku untuk segera hadir,sedangkan mereka semua memilih datang ketempat acara terlebih dahulu untuk menyambut kedatangan keluarga calon mempelai laki-laki.
Meski acara ini tampak sederhana dan terkesan mendadak namun persiapan yang dilakukan keluarga ini sungguh sangat luar biasa,mungkin karena mereka bukan orang sembarangan jadi apapun bisa mereka dapatkan sesuai kemauan.
Saat aku dipanggil untuk memasuki ruang acara aku sangat gugup,karena seluruh keluargaku telah duduk di sebuah bangku yang berjajar berhadap-hadapan dengan seluruh keluarga besar Wijaya,Mas Mario nampak begitu gagah dan tampan dengan setelan jas senadan dengan gaun yang kukenakan.
Aku dituntun oleh mbak Tari yang kini sudah tidak lagi mengenakan seragam melainkan dres cantik berwarna abu-abu muda.
Mbak Tari mendudukkanku di kursi paling ujung berhadap-hadapan dengan mas Mario yang sebentar lagi akan menjadi tunanganku.
Hampir separuh susunan acara telah berjalan,keluarga mas Mario telah mengungkapkan maksud dari diadakannya acara ini dan keluargaku telah menerima pinangan mereka atas diriku.
Kini tiba saatnya perwakilan dari calon mempelai laki-laki memasangkan cincin pada calon mempelai wanita,untuk tanda bahwa keluarga mereka benar-benar menerimaku sebagai calon menantu di keluarga mereka.
Mami memintaku maju untuk dipasangkan cincin dijari manisku,jika pada umumnya calon mempelai laki-laki yang memasangkan cincin beda cerita di acara kami.Ibu dari calon mempelai laki-laki yaitu mami yang justru memasangkan cincin di jemariku,bukanlah mas Mario.
Setelah acara pemasangan cincin selesai kini tiba saatnya aku dan mas Rio disandingkan didepan semua para tamu yang hadir,dilanjutkan sesi foto dan makan.
Meski rencana acaranya hanya sederhana nyatanya tamu undangan yang datang tidak hanya keluarga inti yang sempat di undang makan kemarin malam.Karena tamu undangan yang datang lumayan banyak menurutku.
"Maaf anda ini siapa ya?"
Goda mas Rio padaku saat para tamu dan yang lain sedang sibuk menikmati hidangan.
"Stop! jangan lakukan disini,atau aku bisa saja melakukannya lagi juga disini."
__ADS_1
Ancamnya saat tanganku hendak maju mencubitnya karena kesal.
Hari ini adalah fase dimana satu langkah maju dalam hidupku,karena tidak lama lagi aku akan berubah status menjadi seorang istri.
Mungkin tidak dalam waktu dekat,satu tahun adalah waktu yang telah disepakati antara dua belah pihak jika tidak ada halangan atau rintangan prosesi akad dan pesta pernikahan kami akan diselenggarakan.Tentunya setelah aku lulus sekolah nanti aku harus mempersiapkan diri menjadi istri dari mantan guruku.
Saat ini mungkin aku masih bisa sedikit bernafas lega karena masih ada sedikit kebebasan sebelum sah menjadi istri orang,setelah menikah aku benar-benar akan terikat untuk benar-benar patuh akan semua perkataan suami.
Tapi untuk pernikahan dalam perjodohan seperti ini mungkinkah aku juga harus benar-benar patuh pada semua perkataannya? termasuk kewajibanku melayaninya dalam hal apapun!
Aku benar-benar takut meski hanya membayangkan saat masa itu tiba.
Acara pesta kini telah usai,para tamu sudah nampak berpamitan meninggalkan tempat acara pesta.
Kini aku telah kembali kemarku begitu juga dengan yang lain telah kembali kekamar masing-masing untuk beristirahat.
Aku segera mengganti bajuku dengan pakaian tidur yang telah disiapkan oleh mbak Tari untukku,serta mbak Tari membantuku membersihkan sisa make up yang sebenarnya bisa kulakukan sendiri.
Sepertinya mbak Tari memang orang yang dipercayakan untuk membantu melayaniku selama aku berada di keluarga ini,karena beberapa kali mbak Tari lah yang sering membantu menyiapkan segala sesuatu untukku jika dibandingkan pelayan lain yang hanya sesekali saja.
Aku mendengar suara panggilan masuk dari hapeku yang tergeletak diatas tempat tidurku yang kini sudah kembali rapi.
"Perlu saya ambilkan nona?"
"Tolong lihatkan siapa yang telfon mbak!"
Pintaku tanpa menggubris panggilan karena aku sedang fokus membersihkan diri.
"Pak Mario,nona!"
"Sudah biarkan saja mbak!"
"Baiklah nona."
Tak lama setelah hapeku berhenti berdering kini terdengar lagi suara dering seolah bertetiak meminta untuk segera dijawab agar ia tak lelah berdering karena deringannya sejak tadi tak kuhiraukan.
"Apa tidak sebaiknya di angkat dulu nona? takutnya penting,karena sejak tadi yang memanggil pak Mario!"
"Tidak perlu mbak,biarkan saja!"
__ADS_1
Terdengar beberapa kali notifikasi pesan masuk dan beberapa kali dering panggilan terdengar lagi.
Terdengar kembali suara panggilan masuk dari hapeku bersamaan dengan suara ketukan dari pintu kamarku.
Siapa yang malam-malam begini masih datang kekamarku? ada keperluan apa lagi sih! batinku sambil menoleh kearah bunyi hape diatas tempat tidurku.
"Saya bukakan pintu dulu ya nona?"
Tanya mbak Tari meminta izinku.
"Iya mbak,tolong ambilkan hapeku dulu disitu mbak!"
"Ini nona!"
Ucapnya menyodorkan hape kedepanku sambil berjalan menuju pintu kamarku.
"Halo....!"
Kujawab panggilan masuk dari mas Rio yang masih dengan kontak pak Mario di layar panggilan hapeku.
"Kenapa!"
Terdengar suaranya yang begitu nyata seolah kami berada pada jarak yang sangat dekat.
"Apanya yang kenapa?"
Tanyaku padanya yang mulai berjalan pelan memasuki kamarku.
"Maaf nona,apakah perlu saya keluar?"
Tanya mbak Tari padaku.
"Tidak perlu,lanjutkan saja pekerjaanmu!"
Jawan mas Rio dan langsung duduk di sofa tekat tempatku duduk membersihakan diri.
"Baik tuan muda."
Jawab mbak Tari sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Mas Mario hanya diam menungguiku selesai membersihkan diri dan terus memandangiku sambil bersedekap.
BERSAMBUNG.....