Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kekhawatiran semua orang


__ADS_3

Medina kembali melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang pada jalanan beraspal,terik panas sinar matahari membuat lelehan keringat yang berasal dari tubuh kami meresap membasahi seragam kami.


"Kita mau kemana Din?"


Tanyaku sambil berteriak ditelinga Medin yang sedang fokus mengendarai sepeda motornya tanpa arah.


"Tidak tau,kita jalan saja dulu sekalian jalan-jalan!"


Jawabnya sambil terus mengendarai motornya melewati deretan bangunan yang berjajar rapi di setiap pinggir jalanan kota yang kami lewati.


"Nanti kalau pak Pras nyariin aku bagaimana!"


Teriakku lagi padanya tepat di dekat telinganya yang tertutup helm.


"Nanti kan bisa telfon!"


Benar juga,gumamku pelan namun tetap merasakan kekhawatiran di dalam hati.


Hatiku masih diselimuti perasaan khawatir karena aku belum berpamitan langsung pada mas Rio saat akan pergi kerumah Jesi,lalu sekarang kami pergi dari rumah Jesi meninggalkan pak Pras yang sedang menjalankan Sholat Jum'at entah di masjid mana yang kami tidak ketahui.


Medina membawaku pergi ketoko buku,kami membeli buku pelajaran yang memang kami butuhkan saat ini.Tentunya sambil mencari komik atau novel yang menarik untuk kami baca guna mengisi waktu yang sebenarnya sengaja kami luangkan untuk membaca novel atau komik.


"Hihihi,ini lucu ya Din!"


Bisikku pada Medina tatkala kami melihat sampul sebuah novel yang berjudul PERJODOHAN.


"Lucu katamu Ra? emangnya kamu mau nikah karena di jodohkan!"


Tanya Medina padaku sambil merebur paksa buku yang sempat berada di tanganku lalu meletakkan kembali ketempatnya semula.


Kuabaikan kekhawatiranku sekejap karena kini saatnya kami bersenang-senang!


Setelah puas berada di toko buku sekaligus numpang berteduh dari sengatan teriknya matahari siang ini kami duduk-duduk santai disebuah cafe yang direkomendasikan oleh Medina,setelah kami sempatkan mampir dahulu kesebuah masjid untuk melaksanakan sholah dzuhur.


Kulirik jam tangan pada pergelangan tanganku,sudah menunjukkan hampir jam empat sore dan kami belum pulang sampai lupa waktu.


Aku merasa heran karena bahkan sampai sekarang pak Pras belum menghubungiku sama sekali padahal aku sudah mengirim pesan padanya.


Aku yang penasaran segera membuka tas dan ku ambil hape dari dalam tasku.


"Yah..ternyata hapeku mati Din!"


Ucapku pada Medina sambil menunjukkan layar hapeku padanya.


"Kenapa,low batt?"


Tanya Medin yang terdengar hanya basa basi karena sebenarnya dia tau apa yang terjadi pada hapeku.


"Sepertinya begitu!"


Jawabku sambil kembali memasukkannya kedalam tas sekolahku.


"Kita pulang sekarang Din,aku khawatir orang rumah bakalan khawatir padaku!"


Ajaku pada Medina dan langsung saja menuruti permintaanku untuk mengantarkanku segera pulang.


Sesampainya tepat di depan rumah,kulihat motor mas Rio terparkir dihalaman.


Madina yang juga melihatnya kini memandang kearahku dengan tatapan kecurigaan dengan mengipitkan mata elangnya yang menatapku tajam seperti SILET.

__ADS_1


"Itu kaaaan....... motor pak Mario Ra?"


Tanyanya padaku yang sudah mulai pucat karena aku merasa sudah berada pada ambang kebingungan serta kekhawatiran tingkat tinggi.


"Masa sih Din!"


Aku pura-pura tidak tau dan menunjukkan wajah terkejutku di hadapan Medina sambil celingukan melihat kearah dalam rumah.


"Itu lho Ra....itu kan sepeda motor pak Mario Ra.....! masa kamu nggak hafal?"


Medina menstandarkan sepeda motornya,tiba-tiba mobil yang pak Pras kemdarai saat bersamaku tadi datang dan berhenti tapat di depan mataku.


Pak segera tergopoh-gopoh berlari mendekatiku sambil menundukkan kepala.


"Nona anda baik-baik saja? saya cemas sekali mencari anda kemana+mana,hape anda juga tidak bisa dihubungi."


Ucapnya menunjukkan kecemasan yang teramat sangat diwajahnya.


"Maaf pak Pras,tadi saya sudah mengirim pesan pada pak Pras tapi setelah itu tanpa saya sadari hape saya low batt dan mati."


Jawabku merasa bersalah padanya,karena selama beberapa jam saat aku dengan santainya sedang bersenang-senang bersama Medina pasti pak Pras sedang kebingungan mencariku.


"Tuan mmm.....


Ucapannya terhenti saat melihat wajah Medina.


"Maksud saya tuan khawatir dengan anda nona!"


Pak Pras melanjutkan ucapannya,mungkin yang dia maksud adalah tuan mudanya namun dia tidak mungkin sembarangan menyebutkannya dihadapan Medina.


Pak Pras tau betul jika hubunganku dengan mas Rio adalah rahasia jadi dia benar-benar menjaga kerahasiaan ini dari siapapun.


Pak Pras memang akan selalu patuh pada tuan mudanya itu,entah apa yang membuatnya sepatuh itu hingga kurasa dia sampai tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.


Tanyaku padanya berbasa-basi,berharap dia akan memutuskan untuk langsung pulang.


Aku akan lebih lega jika dia segera pergi karena aku masih belum siap jika Medina bertemu mas Rio sekarang.Akan ada banyak pertanyaan yang harus ku jawab nantinya jika mereka sampai bertemu.


"Sudah sore Ra! aku langsung pulang saja ya,lain kali saja aku mampir."


Jawab Medina sambil memakai kembali helm kekepalanya.


"Terima kasih ya Din sudah anterin sampe rumah."


Ucapku pada Medina sambil mengembalikan helmnya yang sempat kupakai.


"Sama-sama Ra,aku pulang dulu ya...."


Sambil menstater sepeda motornya.


"Iya,hati-hati dijalan ya.....Bye!"


Kulambaikan tanganku kearah mukanya yang belum tertutup kaca helm.


"Bye.....!"


"Mari pak Pras....!"


Lalu memutar tuas gas di genggaman tangannya untuk segera menjalankan motornya tanpa menggubris suara pak Pras yang menjawab sapaan basa-basinya.

__ADS_1


"Nona,tuan muda juga ikut mencari anda dengan khawatir! sepertinya sekarang sudah pulang."


Aku juga sudah tau karena bisa melihat dengan jelas motornya yang kini terparkir didepan rumah.


"Apakah dia marah padamu pak Pras?"


Tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sering kali tanpa ekspresi,wajah datar yang sering kali mengecoh lawan bicaranya.


"Tidak nona,tuan muda hanya terlalu khawatir pada anda."


"Lalu dia memarahimu untuk melampiaskan kekhawatirannya padaku!"


"Tidak nona,memang saya yang salah.Tidak seharusnya saya meninggalkan anda tadi."


Jawabnya selalu berusaha menutupi kesalahan tuan mudanya dengan cara menyalahkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku pak Pras,karena sudah banyak mengusahkanmu hari ini."


"Tidak perlu meminta maaf nona,yang penting sekarang nona sudah kembali."


Ucapnya,lalu aku meninggalkannya untuk segera masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam.


Kudengar suara mama menjawab salam dari arah ruang tengah yang ternyata sedang duduk santai sambil memegang sebuah buku yang terbuka di tangannya.


"Kami dari mana sayang? semua orang khawatir mencarimu!"


Mama memandang kearahku sekilas lalu pandangan matanga kembali tertuju pada buku tentang keagamaan yang dibacanya,terlihat dari cover pada buku yang sempat terlihat olehku.


"Maaf ma....tadi hape Rara mati karena baterainya habis,Medina ngajakin aku ke toko buku."


Jawabku berusaha menjelaskan pada mama.


"Bukannya tadi kamu pamitnya kerumah Jesika? kenapa perginya ke tempat lain tanpa memberitau!"


"Iya ma....maaf,tadi Jesi sedang istirahat jadi tidak bisa ditemui.Trus Medina ngajakin jalan-jalan."


Jawabku lagi sambil menggunakan keterlambatan sholat Asharku sebagai alasan agar bisa segera kabur dari omelan mama atas kesalahan yang telah kuperbuat.


Segera aku berlari menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarku untuk mengejar keterlambatanku mengejar sholat Ashar.


Kulihat mas Rio sedang berdiri di balkon kamarku sambil membelakangiku,sepertinya dia memperhatikanku dari sana sejak tadi aku masih dibawah bersama Medina dan pak Pras tadi.


"Mas.....ngapain disana? maaf aku pulang terlambat dan sempat membuatmu khawatir,aku mandi dan sholat Ashar dulu ya mas."


Aku terlihat sedang berbicara sendiri karena mas Rio tidak meresponku sama sekali tetap berdiri ditempatnya bahkan tanpa menoleh kearahku,sepertinya dia pura-pura tidak dengar ucapanku dan pura-pura juga tidak mengetahui keberadaanku.


Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku sendiri sebelum melaksanakan sholat.


Saat aku selesai melaksanakan sholat,kulihat mas Rio sedsng berjalan masuk dan menutup pintu dari arah balkon menuju kamarku dengan tanpa menatapku.


Dia benar-benar tidak mau melihatku sama sekali,apa dia benar-benar semarah itu hingga tak mau melihat dan mendengar suaraku sama sekali? bukankah seharusnya aku yang marah karena aku sempat meminta izin padanya tapi dia tidak menjawab telfon dariku.


Aku bahkan meredam rasa kesalku padanya tadi,tapi kenapa sekarang dia malah jadinya yang marah padaku? bukankah kami sama-sama membuat kesalahan hari ini.


"Mas.....maaf ya.....mas marah? dengerin penjelasanku dulu dong!"


Ucapku sambil berusaha mengumbar senyumanku sesering mungkin supaya mampu meluluhkan hatinya.


"Jelaskanlah!

__ADS_1


Ucapnya dengan nada datar sambil menatapku tanpa ekspresi.


BERSAMBUNG......


__ADS_2