
Hari-hari kulewati tanpa mas Rio lagi disisiku.
LDR ya itulah hubungan yang kami jalani saat ini,hubungan yang nampaknya baik-baik saja namun terselimut banyak sekali pengorbanan didalamnya.
Waktu kebersamaan adalah hal yang berada di urutan piling pertama yang harus kami korbankan,sebagai gantinya adalah sering-sering saling memberi kabar satu sama lain untuk menggantikan waktu yang tak mungkin bisa kami lewati bersama-sama dalam kebersamaan.
Kasih sayang dan perhatian juga hanya bisa kami berikan atau dapatkan melalui ponsel pintar yang mampu mempertemukan kami meski dalam jarak jauh sekalipun.
Pengertian,kejujuran dan kepercayaan menjadi kunci utama agar tidak adanya kecemburuan karena kecurigaan yang menyebabkan perselisihan diantara kami.
Namun sangat disayangkan karena diawal pernikahan kami yang harusnya sedang hangat-hangatnya kami bersama untuk menjalin asmara dan cinta,namun sebaliknya kami harus menjalani hubungan dengan jarak yang berjauhan.
Karena kesibukan masing-masing,mas Rio harus sering meeting keluar kota bahkan keluar negri,sedangkan aku sendiri harus fokus belajar untuk persiapan ujian akhirku membuat kami jarang bertemu akhir-akhir ini.
Entah kapan terakhir kami bertemu karena sudah lebih dari dua bulan lamanya kami tidak bertemu sama sekali.
Kami memang sudah sepakat untuk tidak bertemu dulu sebelum ujianku selesai,agar aku bisa lebih fokus untuk mempersiapkan ujian kelulusan nanti.
Meski rasa rindu menggebu namun kami harus bisa menahan diri dari segala rasa yang sudah pasti akan menguji tekat kami.
Satu minggu lagi ujian akan dilaksanankan,aku bahkan sudah tak ada lagi waktu untuk main bersama teman-temanku.
Mereka pun juga sama seperti diriku yang sedang mempersiapka diri menjelang ujian minggu depan.
Aku sudah bersiap tidur dengan selimut tebal yang menemaniku sepanjang malam,lampu kamarku juga sudah kumatikan dan kuganti dengan lampu tidur yang remang.
Namun entah mengapa aku merasa ada yang mengganjal dalam fikiranku,aku kembali bangkit dan coba mengecek pintu kamarku. Ternyata benar,aku lupa belum menguncinya.
Ketika kucoba memutar kunci yang menggantung di lubang pintu rasanya sangat sulit untuk di gerakkan.
"Ada apa ini? Apa kuncinya rusak ya?"
Gumamku pelan pada diriku sendiri yang masih terua mencoba memutar kunci berkali-kali nanun tetap saja gagal.
Kucoba membuka pintu utuk mencari tau apa yang menyulitkanku memutar kunci pada lubangnya.
Betapa terkejutnya aku bahkan nyaris hampir teriak karena kaget melihat sosok mas Rio sudah berdiri di depan pintu kamarku dengan senyum seolah sedang meledekku.
"Mas Rio?!"
Bisikku seraya menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku sendiri.
Saking bahagianya bahkan aku langsung memeluknya diambang pintu kamarku tanpa mempersilahkannya masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kapan datang? Kenapa nggak kasih kabar dulu sih?!"
Tanyaku kesal karena dia benar-benar berhasil mengejutkanku.
"Barusan aja nyampe,kirain tadi kamu dah tidur makanya aku coba buka pakai kunci yang aku bawa."
Jawabnya sambil tersenyum lalu menurunkan lenganku yang masih memeluk erat tubuhnya.
"Kenapa?!"
Tanyaku kesal karena aku masih kangen namun dia menolak pelukanku.
"Sayang,aku ini baru saja dari luar dan juga belum mandi. Kamu jangan main peluk aja,takutnya banyak kuman dan virus ikut kebawa sama aku."
Jawabnya santai sambil menggendongku dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku yang empuk.
"Mas sudah makan?"
"Sudah tadi makan dijalan sama Frans,habisnya laper banget."
Jawab mas Rio sambil melepas satu persatu pakaiannya dan segera diletakkan di kedalam keranjang pakaian kotor.
"Frans? Sejak kapan mas memanggilnya dengan panggilan nama aslinya?"
Ledekku,karena biasanya nama panggilan kesayangannya adalah Pras bukan nama aslinya Frans.
Tanyanya seraya mengecup lembut bibirku,lalu bergegas meningglkanku masuk kedalam kamar mandi.
"Iiiiiih dasar!"
"Tapi suka kan? Hehehehe."
Ledeknya lalu dengan cepat menutup pintu kamar mandi.
Tak berapa lama mas Rio telah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi dengan handuk kecil yang disapukan kerambut basahnya.
"Mau aku bantu keringkan mas?"
"Boleh deh."
Lalu dengan cepat segera duduk di kursi yang berada di depan meja riasku tanpa dikomando.
Segera kucolokkan kaber hair dryer pada stop kontak dan ku keringkan rambut suamiku hingga benar-benar kering.
__ADS_1
"Sudah mas,cepetan pakai baju dulu sana gih!"
Pintaku sambil merapikan kembali kabel hair dryer.
"Ngapain pakai baju segala,toh pada akhirnya nanti bakalan dilepas lagi juga."
Jawannya sambil memeluk tubuhku dari belakang yang baru saja selesai merapikan alat pengering rambut tersebut.
"Iiiih apaan sih mas,genit deh sekarang!"
Ledekku sambil mengusap pipinya dengan telapak tanganku yang kini sudah menempel di samping wajahku.
"Aku merindukanmu sayang,"
Bisiknya lirih di telingaku membuatku tak berdaya bagaikan terhipnotis oleh bujuk rayuannya yang memabukkan.
Kerinduan dua insan yang terpendam kini pada akhirnya harus terbayar lunas dan tumpah ruah dimalam yang dingin namun dalam suasana kamar yang panas.
Dua manusia yang saling berusaha meluapkan hasrat kerinduan masing-masing,menimbulkan kegaduhan yang hanya mereka sendirilah yang mampu menikmatinya.
Berfikir bahwa dunia hanya milik berdua,serasa tak ada makhluk lain selain mereka dimuka bumi ini.Hingga tak perlu lagi merasa canggung dan sungkan untuk menimbulkan kegaduhan-kegaduhan lokal.
Bahkan berkali-kali keduanya terlelap bersama menyisakan rasa lelah dengan peluh yang membasahi diri,namun berkali-kali pula keduanya kembali terjag karena hasrat yang membara seolah belum tuntas mereka padamkan.
Hingga hampir pagi menjelang barulah keduanya benar-benar ambruk tak berdaya terlilit selimut tebal yang menutup kedua tubuh yang lelah dalam lelap.
Saat matahari mulai naik mereka bahkan belum keluar kamar dan masih berbaring tertutup selimut dengan posisi masih saling peluk,seolah kerinduan yang mereka rasakan tiada habisnya.
Tak ada siapapun yang berani mengganggu mereka berdua,karena semua tau apa yang sedang terjadi diantara mereka semalam hingga ayam berkokok sekalipun tak akan mampu membangunkan keduanyan. Namun berbeda cerita jika dering jam weker dan alarm pada ponsel yang beebunyi, kedua netra akan langsung terbuka dan jiwa segera terjaga karena waktu sudah menandakan waktunya sholat subuh akan segera berakhir sebentar lagi.
Diwaktu yang tak lagi lama,keduanya segera bergegas berhanburan kekamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing karena sebentar lagi mereka harus segera menunaikan kewajiban sholat subuh agar tidak ketinggalan dengan terbitnya sang surya yang menandakan habisnya waktu ibadah sholat subuh.
"Aku lelah sekali......."
Rengekku sambil kembali merebahkan tubuhku diatas tempat tidur setelah sholat subuh berjama'ah dengan mas Rio.
Mas Rio hanya tersenyum menanggapi keluhanku.
"Aku pengen tiduran dan tidur beneran seharian ini rasanya!"
Ucapku lagi.
"Kerumahku aja yuk!"
__ADS_1
Ajak mas Rio sambil ikut merebahkan diri disampingku.
BERSAMBUNG