
Mas Rio masih memelukku dengan erat,namun tetap kuabaikan.
Kini dia menghadap padaku,melihat wajahku dengan tatapan sendu lalu dengan lembut mencium keningku.
"Percayalah padaku,bukan aku pelakunya....."
Ucapnya lagi padaku,entah berapa kali dia mengelak namun tetap saja aku tidak bisa percaya padanya begitu saja.
"Mas memaksanya,atau kalian sama-sama mau?"
Tanyaku lagi padanya.
"Kamu masih tidak percaya padaku? harus berapa kali lagi kukatakan padamu,kalau bukan aku pelakunya?"
Ucapnya sambil kini bersimpuh dibawah kakiku.
"Tidak! kenapa tidak kamu cari perempuan lain saja yang bisa kamu bayar mas? kenapa harus Jesi,dia itu sahabatku!"
"Baiklah,akan aku buktikan padamu dan juga pada semua orang bahwa apa yang dituduhkan Jesi padaku itu tidaklah benar!"
Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum dia meninggalkanku sendirian didalam kamarnya.
Kini dia pergi entah kemana yang pasti aku sedang tidak perduli lagi padanya saat ini.
Apapun yang dia ucapkan,apapun penjelasan yang dia berikan aku sudah tidak perduli.
Tak lama setelah mas Rio pergi Medina menghubungiku lewat telfon.
"Halo....Ra,kamu dimana sekarang? ini aku lagi sama Samuel."
Ucapnya di ujung telfon.
"Aku dirumah,"
Jawabku dengan suara serak karena berkali-kali aku teriak keras pada mas Rio barusan,aku sudah benar-benar seperti orang gila yang sedang kesetanan pada mas Rio.Hari ini bahkan dengan berani aku marah,berteriak bahkan membentaknya.
"Kamu bangun tidur ra? suara kamu serak gitu,kamu sakit?"
Tanya Medina dari entah berantag tempatnya kini yang dia bilang sedang bersama Samuel.
"Iya nih,lagi kurang enak badan.Kalian dilanjut saja ya bersenang-senangnya? happy fun guys....!"
Ucapku pada Medin disaat bersamaan terdengar suara pintu di tutup dari dalam dan ternyata mas Rio yang kembali masuk kedalam kamar dengan membawakanku makan.
"Sudah dulu ya Din,aku mau istirahat salam buat Samuel ya...!"
Segera kumatikan panggilan by phone dengan Medina.
"Makan dulu ya,meski sedang marah padaku tapi jangan siksa dirimu sendiri."
Pinta mas Rio padaku sambil duduk di sampingku.
"Jika hatimu dipenuhi dengan amarah seperti ini,bagaimana kamu bisa berfikir dan mendengarkan penjelasan orang lain? ambilah air wudhu,kita sholat Isya' dulu yuk!"
Kulirik jam dinding yang menggantung di kamar mas Rio,sudah menunjukkan pukul delapan malam bahkan aku melewatkan sholat maghrib tadi.
__ADS_1
Apa yang aku lakukan? bahkan aku mengabaikan ibadahku hanya karena menuruti emosiku semata.
"Aku ambilkan mukena kak Reina dulu ya,atau mau makan dulu? biar aku suapi ya!"
"Tidak perlu,aku mau sholat dulu!"
Jawabku masih dengan nada ketus padanya.
"Tapi setelah sholat makan ya....!"
Pintanya lagi padaku,aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
Setelah selesai sholat berjama'ah dengannya,hatiku mulai merasa agak sedikit tenang meski hatiku masih terganjal oleh masalah yang menimpa pernikahan kami saat ini.
"Mas....?"
"Sudah jangan katakan apapun lagi soal Jesi atau apapun,habiskan saja dulu makannanmu!"Kata mas Rio sambil menyuapiku.
"Maaf aku terlalu keras padamu tadi,aku....."
"Aku tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini,mungkin wajar untuk seorang perempuan kecil sepertimu ketika sedang cemburu!"
"Cemburu!"
Aku mengerutkan dahi sambil mendengus.
"Bahkan kecemburuanmu itu sudah jelas tergambar di wajahmu sejak kamu melihatku menggendong Jesi ke UKS!"
Benarka? benarkah aku cemburu? padanya? apa iya? bahkan aku tidak menyadarinya sama sekali jika aku sedang cemburu hingga saat ini.
"Dengar! aku tidak sedang mencemburuimu!aku hanya sedang marah padamu!"
"Kunyahlah dulu baru bicara lagi,nanti tersedak!"
Perintah mas Rio sambil terua menyuapkan makanan padaku saat aku hendak berbicara lagi.
"Mas Sudah makan?"
Tangaku dengan mulut yang masih mengunyah.
"Belum,nanti saja!"
Jawabngnya sambil menyendok makanan yang sudah siap di masukkan kedalam mulutku.
"Makan dulu sana! biar kuhabiskan sendiri makananku."
"Aku tidak lapar!"
Apakah saat ini dia sedang tertekan dengan permasalahan yang sedang menimpanya hingga membuatnya merada tidak nafsu makan? apa benar jika dia memang tidak pernah melakukannya pada Jesika,mungkin dia benar hanya aku saja yang terburu di bakar amarah karena...mungkinkah benar aku sedang cemburu? ah sepertinya tidak,aku hanya sedang salah paham bukan cemburu.
"Kalau begitu makan bersamaku?"
Kupaksakan senyuman mengembang di bibirku.
"Kamu sudah tidak marah lagi?"
__ADS_1
Tanyanya sambil menyuapkan lagi makanan kemulutku.
"Entah,tapi aku akan berusaha mempercayaimu dan meredakan amarahku sendiri.Sekarang jelaskanlah padaku!"
"Jelaskan tentang apa lagi? bukankah sudah kujelaskan dari tadi bahwa bukan aku pelakunya!"
"Lalu kenapa Jesi menyebut namamu? kenapa bukan nama orang lain!"
"Aku tidak tau,"
"Apa karena dia tidak pernah berhenti menginginkanmu,jadi dia mencoba ambil kesempatan ini untuk menjebakmu?"
"Aku rasa seperti itu,atau dia sedang berpura-pura untuk menjebakku."
"Maksudmu,pura-pura hamil mas?"
Mas Rio menganggukkan kepala,kuminta sendok yang kini berada di tanganya.
Kusendok sendiri makanan dipiring yang masih di pegang olehnya lalu kusuapkan kemulutnya.
"Aaaa.....!"
Dengan patuh dia membuka mulut sambil memandangi wajahku.
"Jangan memandangiku seperti itu!"
"Kenapa? aku memandang istriku sendiri,siapa yang akan melarangnya! bahkan jika aku menginginkanmu sekarang juga tidak ada masalah!"
Ucapnya sambil pandangan matanya tak lepas dariku.
"Jangan macam-macam,cepat makan! perintahku sambil menyuapkan sisa makanku padanya."
"Ini salahmu! karena sudah berani masuk kedalam kandang singa yang sedang lapar!"
"Kamu kira aku ini mangsamu!"
Ucapku dengan nada kesal sambil menguapkan suapan terakhir padanya.
Mas Rio meletakkan piring di nakas dekat tempat tidur,lalu kembali padaku.
Dibelainya pipiku dengan lembut hingga menciptakan sensasi luar biasa pada diriku,di ciumnya keningku dengan penuh kasih sayang hingga membuatku melayang terbuai oleh sentuhannya pada leherku.
"Aku mencintaimu Ra!"
Bisiknya ditelingaku lirih menciptakan sensasi hangat dari hembusan nafasnya pada telinga dan leherku yang kini sudah tak berhijab sejak sehabis sholat tadi.
"Jangan merayuku mas!"
Ucapku tak kalah berbisik namun tanpa melakukan perlawanan,seolah aku mengizinkannya melakukan apapun yang dia inginkan.
Dengan cepat dilumatnya bibirku,kini lidah kami telah saling menyatu tanpa sadar aku membalas ciumannya.Entah sejak kapan aku mulai lincah memainkan lidahku di dalam mulutnya seperti ketika dia mengobok-obok mulutku dengam lidahnya.
Tangannya mulai menggerayangi tubuhku yang berbalut kaos lengan panjang yang kupadukan dengan celana jeans.
Aku berusaha melepaskan diriku namun salah satu tangannya mengunci kedua tanganku diatas kepala,dengan cepat kini aku sudah berada dibawah tubuhnya diatas tempat tidur.
__ADS_1
Dia sudah seperti sinha lapar,benar katanya kalau aku sudah salah karena berani memasuki kandang singa yang sedang lapar.
BERSAMBUNG.......