Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pernikahan Jesika


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Jesika menikah,kami berdua mendapat undangn khusus dari Jesika dalam acara pemberkatan pernikahannya yang dilaksanakan di kediaman neneknya yang ada di luar kota.


Medina dan juga Samuel juga mendapat undangan khusus dari Jesika,pernikahan yanh di gelar cukup sederhana ini hanya mengundang beberapa keluarga serta kerabat dekat saja.


Aku,Medina,Samuel dan mas Rio adalah tamu yang sengaja di undang oleh Jesika untuk menyaksikan hari bahagianya bersama kak Roi.


Meski pernikahan ini sesungguhnya bukanlah hal yang diinginkan oleh kedua mempelai,namun ini lah yang harus terjadi karena Jesika yang sudah terlanjur hamil oleh kak Roi.


"Selamat ya Jes.....!"


Ucapku sambil memeluk Jesika yang juga di ikuti oleh Medina yang ikut memeluknya dari arah yang berbeda setelah serangkaian acara pernikahannya selesai.


Kulihat kak Roi tersenyum saat memandang kearahku ketika aku dan Jesi masih saling berpelukan.


"Ehem!"


Suara dehem mas Rio seolah melerai aku dan Jesika yang masih saling peluk.


Ternyata arah pandangan mata mas Rio tertuju pada kak Roi yang tertangkap basah oleh mas Rio sedang memandangiku sambil menyunggingkan senyum.


Aku segera memandang kearah mas Rio dan juga pada kak Roi secara bergantian,kak Roi yang merasa tidak enak sendiri memalingkan pandangannya kearah lain lalu berjalan mendekat kearah Jesika dan pergi menjauhi kami.


"Kenapa sih!"

__ADS_1


Tanyaku sambil berbisik pada mas Rio yang kini sudah berada di sebelahku.


"Matanya,pengen ku colok dia!"


Jawab mas Rio berbisik dengan geram memandang kearah kak Roi yang sudah berjalan menjauh dan tinggal terlihat punggungnya dari kejauhan.


"Sudah! jangan emosian,ingat keriputmu nanti makin banyak!"


Ucapku padanya sambil memegang lengannya dengan senyuman yang kubuat semanis mungkin untuk meredam amarahnya.


Dia hanya memandang kearahku sambil teraenyum yang nampak sangat terpaksa dan di buat-buat untuk meyakinkanku bahwa dia sudah tidak lagi emosi.


"Ehem,ehem!"


"Memangnya sejak aku sudah tidak lagi ada di sekolah,mereka jadi seberani ini ya?"


Tanya Jesika pada Medina dan Samuel sambil memandang kearah kami yang saling berpegangan tangan tanpa sungkan.


"Jesi...!"


Bisikku sambil melotot kearah Jesika yang justru tertawa melihatku dengan gugup melepaskan pegangan tanganku pada lengan mas Rio.


"Maaf ya pak Mario,saya hanya bercanda saja."

__ADS_1


Ucap Jesika pada mas Rio yang hanya diam di sampingku.


"Iya,"


Jawabnya sambil tersenyum lalu memandang kearahku sekilas lalu mendekati Samuel dan mereka nampak seperti sedang serius membicarakan sesuatu yang membuatku penasaran namun aku tak enak hati jika harus meninggalkan obrolan kami yang sedang asyik bersama Jesika dan Medina.


"Jes,bagaimana keadaannya sekarang?"


Tanyaku pada Jesika sambil melihat kearah perut Jesika.


"Baik Ra,sudah tidak teler lagi kayak dulu."


Jawab Jesika padaku sambil mengelus pelan perutnya yang sudah nampak sedikit membuncit tertutup gaun pengantinnya yang menggembung besar menutupi perut buncitnya,membuat Jesika nampak anggun dan cantik saat mengenakannya.


"Syukurlah,mungkin karena sekarang kamu jauh lebih tenang ya Jes."


Tebakku karena melihat Jesi yang sekarang jauh lebih terlihat jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengannya yang dulu ketika awal kehamilannya diketahui semua orang.


Jesi kini terlihat lebih cuek dan bisa kembali tersenyum dengan ceria seperti dulu lagi sebelum masalaj besar muncul dalam hidupnya.


Aku,Jesi dan juga Medina mungkin hanya segelintir anak muda dengan segudang permasalahan masing-masing.


Kami selalu berusaha kuat dan tegar dalam setiap masalah,apapun yang terjadi kekuatan Tuhan kami masing-masinglah yang tetap akan menkajadi pegangan kuat kami.

__ADS_1


BERSAMBUNG ......


__ADS_2