
Tanpa terasa aku pun terlelap sepanjang perjalanan menuju arah pulang kerumah mas Rio.
Aku merasa tubuhku seolah seperti terguncang bagaikan sedang gempa bumi.
Dengan susah payah aku berusaha bangkit dan membuka mata dan ternyata saat aku membuka mata kulihat wajah mas Rio begitu dekat dengan wajahku hanya dengan jarak seper sekian senti saja memandang lurus kearah depan sambil berjalan membopong tubuhku menaiki satu per satu anak tangga yang ada di rumahnya nenuju kamar atas.
Aku hanya terdiam dalam gendongan mas rio,menikmati pemandangan indah didepan mataku.
Ku pandangi wajah tampan suamiku yang sepertinya masih belum menyadari bahwa aku sudah terbangun dari tidurku.
"Tolong bukain pintunya sayang," pintanya padaku yang ternyata menyadari bahwa aku memang sudah tak lagi tidur sedari tadi.
Hal tersebut membuatku gelagapan dan seketika memutar handle pintu kamarnya perlahan lalu mendorongnya agar pintu terbuka lebar untuk jalan masuk kami berdua.
"Hehehe,aku kira mas nggak tau aku sudah bangun." ucapku seraya berusaha turun dari gendongannya,namun dia tak menghiraukan aku dan masih tetap mempertahankan aku dalam gendongannya meski kami sudah memasuki kamar.
"Maaaassss,tolong turunin aku doooong." pintaku dengan nada manja dan hanya di jawab dengan senyuman nakal yang dilemparkan padaku.
Dengan pelan dan perlahan diturunkannya tubuhku dari gendogan lalu dengan sangat perlahan diletakkannya tubuhku diatas tempat tidur yang empuk dan nyaman.
"Apakah kau lelah sayang?" tanya mas Rio seraya membelai pelan pipiku.
"Tidak terlalu,kenapa?" tanyaku polos karena penasaran dengan pertanyaannya.
"Hmmm.....gak papa. Istirahatlah, karena mungkin nanti malam kamu harus bekerja keras hehehe." jawabnya sambil tersenyum menggodaku lalu berjalan menuju kamar mandi untuk bersih- bersih diri.
Entah berapa lama mas Rio berada di kamar mandi,karena sempat ketiduran sekejap saat ia meninggalkanku tadi.
Entah kenapa mata ini terasa semakin berat dan minta segera dipejamkan,dan apalah dayaku tak mampu menahannya dan akhirnya akupun kembali terlelap melanjutkan tidurku yang sempat terhenti sejenak tadi.
__ADS_1
Meski aku bisa mengatakan tidak terlalu lelah namun nyatanya mata dan tubuhku ini tak mampu berbohong.
"Hoamh!" aku menguap sambil menutup mulut dengan telapak tanganku sendiri lalu menggeliat merenggangkan otot serta sendiku setelah bangun dari tidur soreku untuk menghilangkan rasa lelah.
"Sudah bangun?" tanya mas Rio padaku sambil menutup kembali pintu kamar mandi seraya berjalan menuju kearahku.
"Dari tadi mas baru keluar dari kamar mandi?" tanyaku heran,karena seingatku aku lngsng terlelap setelah mas Rio memasuki pintu kamar mandi dan aku merasa tidur sudah cukup lama namun kenapa dia baru keluar setelah sekian lama?.
"Hmmm, kebetulan saja aku kembali ke kamar mandi tadi. Bahkan aku sudah keluar untuk bermain PS tadi bersama Samuel dibawah.
"Benarkah? Hehehe,aku kira mas di kamar mandi selama itu." ucapku sambil tersenyum malu.
"Udah sore,mandi dulu sana sebentar lagi sudah mau maghrib."
"Baik bos!" jawabku sambil hormat kepada kepala rumah tanggaku.
"Dasar kamu ini,bisa aja. Dah sana buruan mandi,ntar aku mandiin lho!" goda mas Rio padaku,membuatku langsung mengambil jurus seribu langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Lho kalian sudah disini aja?!" tanyaku heran.
"Kenapa takut ganggu ya?" ledek Medina cengengesan sambil menyiapkan makan malam dimeja dibantu Samuel.
"Kalian ini mesra sekali?!" ledekku balik pada keduanya sambil berjalan mendekat kearah Medina untuk membantunya menyiapkan makanan.
"Eits,mau ngapain?! Duduk saja yang manis biar aku dan Samuel yang siapin semuanya. Nyonya dan tuan silahkan duduk menunggu semuanya siap." Ucap Medina diiringi gelak tawa semua orang tak terkecuali aku.
Setelah selesai makan malam,kami mulai mendiskusikan soal rencana kami kedepan.
Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota tempat tinggal suamiku agar kami tidak lagi terpisah oleh jarak dan waktu.
__ADS_1
Karena juga sebentar lagi pesta pernikahan ki akan segera digelar disana.
Sedangkan Samuel harus menuruti kemauan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah keluar negri dan pastinya dia dan Medina akan terpisah jauh.
Sedangkan Medina sendiri memilih untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya yang tak mampu lagi membiayainya meneruskan pendidikan di perguruan tinggi.
Sejujurnya aku merasa sangat prihatin dengan Medina yang sangat disayangkan sekali tak mampu meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun apa boleh buat ini adalah pilihan hidupnya,bahkan saat mas Rio menawarkan untuk membiayai seluruh biaya kuliah Medina jika ia berkenan malah ditolaknya dengan alasan tidak mau merepotkan.
Dalam minggu-minggu ini adalah saat-saat terakhirku tinggal di kota dimana aki dilahirkan dan juga dibesarkan oleh keluargaku. Karena mulai minggu depan aku harus pindah ke kota dimana asal dan tempat tinggal suamiku serta keluarganya berada.
Selain untuk mengurus pernikahan juga mengurus pendaftaran dan keperluan kuliahku disana nantinya.
Aku pasti akan sangat merindukan semuanya,keluargaku dan juga teman- temanku tentunya.
Disisa waktu terakhirku tinggal disini harus ku pergunakan sebaik mungkin untuk lebih dekat dengan orang- orang terdekatku sebelum aku benar- benar pergi jauh dari mereka semua.
Hal pertama yang akan aku lakukan sebelum pergi adalah mengunjungi makan Ibu kandungku dan juga makam Nenek untuk berpamitan pada mereka yang telah tiada melalui do'a- doa yang kupanjatkan pada mereka secara langsung saat berkunjung.
Kuajak serta mas Rio mengunjungi makam ibu kandungku dan juga makam nenek yang kebetulan berada di area pemakaman yang sama.
Hari sudah sore,angin dingin mulai menerpa kulitku yant terbungkus rapat pakaian panjanhku yang menjuntai menutupi seluruh auratku.
Hari makin sore dan cuaca juga agak mendung ditandai oleh langit yang mulai gelap dan angin dingin mulai ribut mengusir kami agar segera pulang atau mencari tempat teduh untuk berlindung sebelum tetesan air hujan datang keroyokan.
Meski sebenarnya aku masih enggan beranjak dari tanah pusara ibu,namun tak ada pilihan lain selain merelakan untuk pergi meninggalkan ibu sendirian lagi terkubur oleh gundukan tanah yang sebenarnya mulai rata tergerus oleh lamanya masa.
Hampir delapan belas tahun ibu kandungku tertanam didalam sana,sendirian hanya ditemankan oleh amal beliau semasa hidup dulu.
"Semoga Surga adalah tempatmu bu" ucapku dalam hati,menghadiahkan do'a untuk ibu yang telah mengandung dan melahirkanku meski tak di beri kesempatan untuk mengurus ,merawat dan juga membesarkanku dengan tangan dan juga kasih sayangnya sendiri.
__ADS_1
Tapi aku sangat yakin seyakin yakinnya, bahwa ibu juga sangat mencintai dan juga nenyayangiku setulus hatinya.
BERSAMBUNG....