Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Yasmin


__ADS_3

Mas Rio dan juga pak Pras nampak tak percaya mendengar pengakuanku barusan, kedua lelaki yang tadinya berada agak sedikit jauh dari posisi tubuhku kini mendekat beberapa langkah kearahku mungkin karena penasaran dan setengah tak percaya.


"Temanmu?! Kamu serius?!" tanya mas Rio tak percaya, namun aku tak bergeming danntak memalingkan sedikitpun pandanganku dari seorang wanita yang sudah tak lagi asing bagiku dan tengah berbaring terpejam.


Perlahan kulihat jemari Yasmin mulai bergerak,ku belalakkan mataku sambil ku kucek mataku untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang salah lihat.


"Mas!" panggilku sambil menoleh kearah suamiku yang kini tengah duduk santai di sofa bersama sahabat sekaligus asisten pribadinya tersebut.


"Iya sayang?" tanyanya sambil mendekat kearahku lalu pak Pras pun ikutan mendekat kearah kami.


"Nggggh,ssssh" hanya itu yang keluar dari mulut Yasmin dalam keadaan masih terpejam.


"Mas,pak Pras cepat panggil dokter!" pintaku dengan panik sekaligus senang karena sepertinya Yasmin mulai tersadar dari pingsannya.


Pak Pras segera mengambil langkah seribu untuk keluar dari ruangan menemui dokter,lalu langkahnya terhenti saat baru saja tangannya menggenggam hendle pintu.


"Mau kemana Pras!" tanya mas Rio sambil menekan tombol darurat untuk meminta pertolongan atau memanggil dokter dan tenaga medis lainnya.


Dengan tersipu malu pak Pras kembali melangkahkan kakinya menuju sofa dan merebahkan tubuhnya,nampak raut wajah sedih dan penyesalan diwajahnya. Entah apa yang dia fikirkan saat ini tapi sepertinya dia begitu takut terjadi hal buruk pada Yasmin.


Tak lama setelah itu, seorang dokter dengan di dampingi seorang petugas medis memasuki ruangan tempat kami menunggui Yasmin. Lalu dengan segera memeriksa keadaannya, setelah meminta kami keluar ruangan dan hanya salah satu saja dari kami yang di perbolehkan menungguin Yasmin selama pemeriksaa. Dan aku adalah orang yang terpilih karena kekeh tak mau keluar dan ingin terus berada di sisi Yasmin saat ini.


"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanyaku setelah dokter selesai memeriksa.


"Keadaan pasien sudah mulai membaik, dia hanya butuh banyak istirahat. Anda tidak perlu khawatir tidak lama lagi pasti akan segera sadar." jawab dokter menjelaskan keadaan Yasmin padaku yang nampak panik dan sedih melihat keadaan Yasmin saat ini.


"Baiklah,terima kasih dokter" ucapku saat dokter hendak melangkah meninggalkan kamar tempat aku dan Yasmin kini berada.


Lalu dengan tergesa- gesa kedua lelaki yang tadinya sedang menunggu diluar berebut ikut masuk kedalam sesaat setelah sang dokter dan perawat tersebut meninggalkan kami,yakni pak Pras dan mas Rio suamiku.

__ADS_1


"DOKTER BILANG APA?!" tanya keduanya bersamaaan, membuatku hanya menggeleng sambil meletakkan jari telunjuk ke depan bibirku sendiri.


"Sssssst....! pasien butuh banyak istirahat,jadi jangan berisik!" jawabku berbisik pelan.


"Ngggggh," terdengar suara dari arah Yasmin berada sontak kami bertiga saling diam dan menoleh kearah Yasmin bersamaan.


"Kaaaaliaaaan,siiiapa?" tanya nya terbata dengan suara parau dan lemas.


"Rara?!!!" betapa terkejutnya Yasmin saat aku mendekat kearahnya lalu menggenggam jemarinya.


"Iya,bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyaku pelan dengan senyuman yang terpaksa kusunggingkan disela rasa sedih dan panikku saat ini dengan keadaan sahabatku.


"Aku.....," Yasmin hanya diam dan malah meneteskan air mata lalu melihat kearah perutnya yang masih rata.


"Mas tolong belikan aku makan, aku lapar." pintaku pada mas Rio suamiku sambil ku beri kode kedua lelaki yang juga berada di dalam ruangan bersama kami. Sengaja kuusir mereka agar segera pergi meninggalkan kami,karena aku tau Yasmin merasa kurang nyaman dengan kehadiran mereka berdua. Karena sepertinya ada hal penting yang ingin Yasmin ceritakan padaku sebagai sesama perempuan.


"Eennnng,aku ikut?!" tanya pak Pras dengan polos.


"Ra,akuuu.....aku....." Yasmin terdiam sejenak untuk menghela nafas panjang, mungkin dia sedang mempersiapkan mentalnya untuk bercerita.


"Iya Yas?" aku masih menunggu kelanjutan dari ucapannya, namun juga tak berani untuk bertanya apalagi tega mengimitidasinya dalam keadaannya saat ini.


Meski jika melihat dari raut wajahnya saat ini,sudah bisa dipastikan bahwa Yasmin dan kehamilannya sedang dalam masalah tapi aku hanya bisa menunggu Yasmi bercerita dengan sendirinya tentang keadaan dirinya yang sebenar benarnya.


"Aku hamil Ra! hiks" terdengar jelas kata- kata Yasmin di telingaku meski suaranya sangat lirih.


Rasanya ingin saat itu juga aku ikut menangis saat melihat tangisan Yasmin meledak,namun tak mungkin aku ikut menangis dalam keadaan seperti ini. Aku harus bisa menguatkannya dan terlihat kuat serta tegar di hadapannya agar dia bisa merasa nyaman dan kuat.


"Apakah Dimas yang melakukannya?" tanyaku pelan sambil memeluknya yang masih sesenggukan dengan kucuran air mata.

__ADS_1


Yasmin hanya mengangguk pelan lalu kembali menangis dengan suara yang tak lagi mampu di tahan.


"Dia tidak mau tanggung jawab Ra, karena usia kami yang masih terlalu muda dan orang tuanya juga tidak memberi restu.hik hik" dia kembali mengeratkan pelukannya padaku masih dengan suara tangisan yang begitu pilu.


"Aku harus bagaimana Ra, aku kabur dari rumah karena orang tuaku meminta aku menggugurkan kandunganku." tangisan Yasmin terdengan begitu sedih dan menyesal karena perbuatannya yang berakibat sangat fatal.


"Lalu dimana Dimas sekarang?" tanyaku penasaran dan sangat geram dengan orang orang di sekeliling Yasmin yang begitu jahat. Kenapa pula orang tua Yasmin justru malah menganjurkannya untuk aborsi?! bukankah itu pembunuhan namanya,dan juga sangat beresiko untuk Yasmin sendiri karena bisa mengakibatkan pendarahan dan lebih parahnya kematian.


"Dimas sekarang sudah ke luar negri katanya,aku tidak bisa menemuinya apalagi menghubunginya Ra."


"Tenang lah Yas,kita akan mencari solusinya bersama sama." aku berusaha menenangkannya meski aku sendiri bingung harus bagaimana sekarang ini.


Tak lama setelah Yasmi agak sedikit tenang,aku menawarinya makan makanan yang sudah dinsediakan oleh pihak rumah sakit.


Awalnya Yasmin menolak, namun akhirnya dia luluh juga saat aku terus merayunya karena memang bayinya membutuhkan nutrisi yang cukup dan juga tidak boleh kelaparan di dalam sana.


"Ra, apa mungkin aku harus melahirkan bayi ini tanpa seorang ayah? aku malu Ra dan juga kasihan padanya saat dia besar kelak, pasti dia akan menjadi bahan olok olokan teman teman sebaya ny."


Keluh Yasmin setelah ia menghabiskan suapan terakhirnya.


"Yas kita semua akan membantumu mencari solusi, kita cari dulu Dimas dan keluarganya lalu kita datang ke keluarga kamu." jawabku namun Yasmin justru menggeleng.


"Percuma Ra,keluargaku sudah tak lagi mau menerimaku selama aku belum mendapatkan seorang ayah untuk bayiku atau aku harus menggugurkannya." Yasmin kembali menangis tersedu.


'tok,tok,tok'


Terdengar suara ketukan pintu, lalu muncullah kedua pria yang tengah membawa makanan yang sengaja kupinta tadi.


Yasmin memandang kearahku dengan pandangan menelisik seolah bertanya siapa kedua pria yang sejak tadi bersamaku menungguinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG,,,


__ADS_2