
Kami bertiga berada di dalam kamar yang sama tanpa sepatah katapun terucap dari bibir kami,suasana seolah berubah menjadi canggung dan hampa.
"Nona,pekerjaan saya sudah selesai bolehkah saya keluar sekarang?"
Tanya mbak Tari padaku dan hanya kujawab dengan gelengan kepala sambil kuberanikan diri melihat mas Rio dari pantulan cermin yang ada didepanku.
Mas Mario masih diam tak mengatakan apapun,masih sambil memandangiku dari belakang.
"Ada perlu apa mas datang kesini? mbak Tari sudah selesai melaksanakan tugasnya dan akan keluar sekarang!"
Mas Mario hanya bangkit dan berjalan pelan menuju pintu kamarku lalu keluar begitu saja tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya.
"Aneh sekali orang ini! apa tuan mudamu memang selalu bersikap seperti itu mbak?"
Tanyaku pada mbak Tari,yang hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman.
"Kenapa mbak hanya diam dan tersenyum saja? jawab dong!"
"Maaf nona,saya....."
"Kalau mbak Tari tidak mau jawab,tidak boleh keluar dari sini!"
Ucapku kesal.
"Lalu saya harus menjawab apa nona?"
"Terserah,apa saja boleh!"
"Menurutmu apa yang sedang dia pikirkan tadi? datang kekamarku,duduk,diam lalu pergi begitu saja!"
"Maaf nona,saya tidak tau! saya bukan paranormal yang bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain."
Jawaban yang bisa diterima akal sehat namun tidak untukku karena sepertinya akalku sedang tidak sehat kali ini.
"Mbak Tari pernah punya pacar?"
"Maaf nona,pertanyaan nona terlalu privasi untuk saya jawab."
"Mbak .....ayolah! kenapa semua orang begitu kejam padaku!"
Aku menggerutu kesal pada semua juga pada diriku sendiri.
"Maaf nona,bolehkan saya keluar sekarang?"
Tanyanya kembali.
"Keluarlah! aku sedang kesal!"
Jawabku sambil merebahkan diri ditempat tidur,mbak tari segera berjalan pelan menuju pintu kamarku lalu menutupnya dengan pelan dari luar.Saking pelannya nyaris tak terdengar bunyi pintu tertutup olehku.
Aku segera merebahkan tubuhku diatas ranjang besar dan empuk lalu kupejamkan mataku tanpa mematikan lampu kamar terlebih dahulu.
Sekilas aku mendengar suara langkah kaki dan suara seseorang menekan tombol saklar lampu lalu terdengar suara pintu yang tertutup.
Aku tersentak kaget dan segera membuka mata,namun saat kulihat pintu masih tertutup rapat dan lampu kini telah berganti menjadi mode redup tak lagi terang benderang seperti saat aku merebahkan diri diatas tempat tidur dengan sembarangan tadi.Tubuhki kini juga terasa jauh lebih hangat karena selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhku.
Aku tidur dengan sangat pulas,sampai saat terdengar bunyi alarm yang berasal dari hapeku.
__ADS_1
Setiap hari alarm dari jam yang ku setel di hapekulah yang membangunkanku di pagi hari untuk sholat subuh.
Dengan malas ku paksa tubuhku bangkit dan menuju kamar mandi.Setelah selesai mandi aku segera mengenakan pakaian dan melaksanakan sholat subuh,aku memang sudah terbiasa mandi setelah bangun tidur atau sebelum melaksanakan sholat subuh.
Mama yang selalu membiasakanku mandi sebelum subuh sejak aku masih duduk dibanku sekolah dasar,saat aku baru belajar sholat dan terkadang sering kesiangan atau bolong-bolong karena sering lupa.
Kebiasaan baik ini menjadi hal wajib untukku disetiap harinya,bahkan saat berhalangan dan tidak solat sekalipun aku tetap terbiasa mandi setelah bangun tidur.
'Sudah bangun belum?'
'Sholat subuh dulu!'
'Mau berjamaah?'
'Masih tidur ya?'
Begitu banyak pesan masuk dari mas Rio sekitar setengah jam yang lalu,itu berarti saat aku masih mandi atau baru selesai mandi hendak melaksanakan sholat subuh tadi.
'Maaf tadi sedang mandi,atau mungkin tadi saya baru mau sholat subuh.'
Kubalas dengan cepat pesan darinya.
Aku berusaha menelfon mama dan kak Rendi namun tak ada yang menjawab,saat ku telfon papa justru sibuk karena sedang melakukan panggilan lain.
Kembali telfon kak Rendi yang kini juga ikutan sibuk,aku merasa bosan karena hanya bediam diri dikamar.
Akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mencari tau dimana kamar tempat kak Rendi atau mama dan papa menginap.
"Halo sayang....bagaimana kabarmu hari ini?"
Kulihat kak Rendi sedang sibuk melakukan panggilan,mungkin dengan kak Rosa.
"Kakak mau kemana?"
Tanyaku padanya.
"Joging dong.....! ikutan yuk,mumpung masih pagi dan udaranya masih segar!"
"Nggak ah! aku kekamar mama aja!"
"Mama sudah turun! sepertinya hanya tinggal kamu sendirian yang belum siap!"
"Memangnya mau kemana?"
"Memangnya semalam Rio tidak memberitaumu? bukankah semalam dia datang kekamarmu saat pelayan sedang membersihkan riasanmu?"
"Iya sih,tapi dia tidak bilang apapun padaku!"
"Adikku tersayang,pagi ini semuanya akan joging bersama antar besan.Nenek juga sudah diajak ke taman sama bu Sum,setelah itu baru sarapan trus lanjut jalan-jalan."
"Kemana?"
Tanyaku penasaran.
"Tanya saja pada Rio,tuh!"
Jawab kak Rendi sambil menunjuk kearah belakangku dan saat kutoleh ternyata mas Rio sudah berada di belakang punggungku.
__ADS_1
"Ayo turun!"
Ajaknya,sedangkan aku hanya diam memandanginya dengan kesal.
"Kenapa lagi?"
Tanyanya dengan bingung melihat eksperesi wajahku.
"Kenapa semalam tidak bilang apapun untuk rencana hari ini?"
Protesku.
"Maaf aku lupa!"
Jawabnya sambil berjalan mendahuluiku.
"Tunggu! hapeku tertinggal dikamar,aku akan segera kembali untuk mengambilnya!"
"Cepatlah!"
Aku segera berjalan cepat menuju kamarku kembali dan menyambar tas serta hape yang dengan cepat kumasukkan kedalamnya dan bergegas kembali keluar.
Saat aku keluar dari kamar ternyata mas Rio masih didepan kamarku menungguku keluar dari kamar.
"Tidak perlu terburu-buru!"
"Lagi pula,kenapa semalam tidak bicara apapun!"
Protesku lagi sambil menutup rapat pintu kamarku.
"Semalam aku sudah kembali untuk memberitahumu tapi kamu sudah tertidur!"
"Sesaat setelah mbak Tari keluar?"
"Entah siapa nama pelayan itu,setelah dia keluar aku......"
"Jadi yang mematikan lampu dan menyelimutiku......?"
"Iya!"
Jawabnya cepat sambil menekan salah satu tombol pada dinding lift khusus dan kami berdua segera masuk.
"Dari mana mas tau kalau aku suka tidur dengan lampu redup?"
"Aku tau semuanya tantangmu! Hanya apa maumu saja yang belum aku tau!"
Jawabnya sambil keluar dari dalam lift saat pintu terbuka.
"Dasar penyusup!"Gumamku pelan.
"Pelan-pelan dong jalannya,kakiku kan tidak sepanjang kakimu!"
Mas Mario berhenti dan mempersilahkanku untuk berjalan lebih dahulu,sedangkan dia mengikutiku dari belakang.
Setelah selesai joging atau lebih tepatnya aku hanya berjalan-jalan santai menemani nenek di taman yang berada di hotel dengan di dampingi oleh bu Sum,kami sarapan bersama di resto hotel tempat kami menginap.
Tak kulihat keberadaan papa,ayah Doni dan om Dedi diantara kami,entah ada kesibukan apa dengan ketiganya.Mungkin ada hal lain sehingga mereka bertiga tidak dapat ikut serta berkumpul bersama kami disini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....