Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Hampir memilikiku


__ADS_3

Jika Samuel mengantar Jesika pulang itu artinya aku hanya akan berdua saja dengan mas Rio,ini bukanlah hal yang baik dan aman buatku.


Mas Rio menatapku seperti singa lapar yang sedang mengintai mangsa,santai dan tenang namun saat mangsanya lengah dia akan dengan cepat menerkam dan mencabik serta akan di telan sampai tanpa sisa.


Aku begidik ngeri melihat tatapan matanya padaku.


Aku harus mencari cara untuk menghindarinya,karena aku takut dia akan menagih apa yang sudah pernah tanpa sengaja kuucapkan padanya jika masalahnya dengan Jesika selesai.


"Sam biar aku saja yang antarkan Jesi pulang!"


Teriakku pada Samuel yang baru berjalan mendekat kearah sepeda motornya bersama Jesika.


Pak Mario hanya menyunggingkan senyum penuh ancaman terhadapku.


"Biarkan saja dia yang mengantarkan Jesi,Sam! kamu ikutlah denganku!"


Ucap pak Mario sambil berjalan pelan menuju Samuel dan Jesi yang sudah mulai dekat dengan motornya.


"Segera telfon sopirmu!"


Perintah pak Mario padaku.


Sambil menunggu pak Pras datang dari negeri entah berantah,kami duduk di bangku yang berada di teras rumah pak Mario bertiga tanpa si pemilik rumah ikuta serta.


Hanya ada aku dan Jesi di temani oleh Samuel duduk menunggu kedatangan pak Pras.


"Sam,kira-kira apa yang di rencanakan pak Mario nanti malam?"


Tanyaku pada Samuel dengan berbisik.


"Entahlah!"


Jawab Samuel menaikkan kedua bahunya.


"Kalau nanti Roi tetap tidak mau mengakui perbuatannya dan menolak tanggung jawab bagaimana?"


Tanya Jesi dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Jes....Jes....aku tau kamu tidak selugu itu,tapi aku heran kamu begitu ceroboh! kalau sudah kayak gini kamu sendiri yang rugi!"


Ledek Samuel pada Jesi yang hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.


"Cukup Sam! jangan menekannya lagi,beban Jesi saat ini sudah terlalu berat jangan menambahnya lagi."


Ucapku membela Jesi karena tidak setuju dengan ucapan Samuel yang terdengar semakin menjatuhkan Jesi.


Obrolan kami terhenti ketika mobil yang di kendarai pak Pras sampai di depan rumah pak Mario.


"Ayo Jes!"


Ajaku pada Jesi sambil menggandeng lengan sahabatku dan menuntunnya dengan hati-hati karena ada janin halus di perutnya.


"Kita pergi dulu ya Sam,"

__ADS_1


Ucap Jesi berbasa-basi pada Samuel.Sedangkan aku hanya memanyunkan bibirku kearah Samuel sambil berlalu meninggalkannya menuju mobil yang disana sudah siap sedia pak Pras membukakan pintu untuk kami agar segera masuk.


Jesi sudah lebih dulu masuk kedalam mobil sedangkan aku menyusul.


Sebelum masuk kedalam mobil kusempatkan melihat keatas,kearah dimana kamar mas Rio berada.


Disana dia sedang melihatku dari balkon kamarnya,tatapannya tajam bagaikan elang yang sedang mengintai.


Aku segera masuk kedalam mobil,lalu pak Pras menutupnya.


Kami mengantarkan Jesi sampai ke depan rumahnya,kusempatkan turun sekedar memastikan bahwa Jesi aman sampai dirumahnya.


"Dari mana saj kamu Jes!"


Bentak mamanya Jesi dari dalam rumah saat Jesi baru saja hendak memasuki ambang pintu rumahnya.


Aku bahkan ikut kagete mendengar suara mamanya yang dengan tiba-tiba terdengar hampir seperti teriakan yang ditujukan untuk putrinya.


"Sudah tau lagi dalam keadaan seperti ini,masih bisa kamu keluyuran nggak jelas!"


Ucapnya tanpa memberi kesempatan Jesi untuk bicara.


"Ma.....Jesi bisa jelaskan."


Kudengar suara Jesi dari luar pintu,aku merasa tak enak hati pada kedua orang tua Jesi karena pasti aku yang dianggap mempengaruhi Jesi untuk keluar dari rumah,disisi lain aku juga kasihan pada Jesi karena tidak bisa melakukan apapun disaat dia diperlakukan demikian oleh orang tuanya.


Kuputuskan untuk segera pulang karena hari juga hampir petang.


Sepanjang perjalanan berfikir bagaimana caranya nanti malam untuk Jesi keluar dari rumah,sedangkan tadi saja orang tuanya sudah marah padanya apalagi ini malam hari.


Tidak,tidak! jika aku menemuinya sekarang,bisa-bisa aku habis dilahap olehnya sekarang.


Lebih baik aku telfon saja dia,itu jauh lebih aman karena aku tidak akan bertemu secara langsung pada pria mesum itu!


Batinku sambil menimbang-nimbang hapeku ditangan.


"Halo,assalamu'alaikum mas ...."


"Waalaikum salam,ada apa?"


Jawabnya dari sebrang telfon.


"Ada yang mau aku bicarakan soal Jesika,"


"Baiklah,kalau begitu cepatlah kemari aku sudah menunggumu sejak tadi!"


"Maaf aku tidak bisa kesana sekarang,aku harus pulang dulu kerumah mama.Kita bicarakan soal Jesi ditelfon saja ya!"


"Baiklah!"


Jawabnya,membuatku bisa bernafas lega karena aku tidak perlu bertemu dengannya secara langsung.


Kuceritakan apa yang kulihat tadi dirumah Jesi pada mas Rio di telfon,mas Rio terdengar sedang menarik nafas panjang lalu dia bilang padaku untuk tenang biar dia dan Samuel yang mengatasinya nanti.

__ADS_1


Sesampainya dirumah mama,aku segera menuju kekamarku untuk mandi karena sebentar lagi waktu sholat maghrib akan segera tiba.


Betapa terkejutnya aku,karena saat memasuki kamar kulihat mas Rio sedang berbaring ditempat tidurku dengan santainya.


"Sejak kapan mas disitu?"


Tanyaku padany yang hanya diam tak bergeming dari tempatnya dengan senyuman menggodak yang ditujukan tentunya untukku.


"Masuk ucap salam kek! aku sudah sedari tadi disini."


Jawabnya sambil bangkit,lalu duduk ditepi tempat tidur.


"Assalamu'alaikum mas....."


Ucapku sambil meletakkan tas diatas meja belajar.


"Waalaikum salam...sini,mendekatlah!"


Ucapnya sambil melambaikan tangannya kearahku.


"Mau ngapain!"


Aku masih diam ditempatku tanpa berani maju selangkahpun kearahnya.


"Kemarilah! aku hanya ingin memeluk istriku!"


"Cuma memeluk saja kan?"


Tanyaku sambil berjalan pelan,sengaja kupelankan langkahku dengan ragu.


"Kalau lama,aku yang kesana dan tidak cuka sekedar peluk saja!"


Ancamnya padaku menyadari lambatnya langkahku menuju kearahnya.


"Iya-iya ....!"


Aku langsung melompat dengan cepat kearahnya,menabrak tubuhnya hingga terjungkal ketempat tidur.


Kini tubuhku jatuh diatas tubuhnya,menindihnya dengan sempurna.


"Wah,wah.....istriku ingin memulainya lebih dulu rupanya?"


Ledekku sambil mengepal jemariku hingga membuatku kesulitan bergerak apalagi bangun dari atas tubuhnya.


"Maaf mas,aku tidak sengaja! sungguh,tolong lepaskan tanganku mas....sakit!"


Aku meronta diatas tubuhnya,berusaha melepaskan diriku.Namun nahasnya dia justru memutar balikkan posisi tubuhku yang kini sudah berada dibawah kungkungan tububnya.


"Mas! sssssshh....aaaaah!


Aku benar-benar tak sanggup lagi menahan suara yang begitu saja keluar dari bibirku saat dengan cepat mas Rio membuka bagian bawah penutup diriku.Dia berjongkok di bawah sana mencicipi apa yang sudah seharusnya menjadi hak miliknya sejak kami dinikahkan.


Sesekali kugigit bibir bawahku sendiri bahkan menarik apapun sekenanya,kutarik seprei bahkan bantal.Kutarik dan kudekatkan kewajahku sendiri,kugigit ujung bantal dengan kuat untuk mengurangi suara berisik yang kutimbulkan karena ulah mas Rio.

__ADS_1


Tubuhku bergetar,tulang belulangku terasa kaku seperti orang kejang.Rasanya aku seperti balon udara yang terbang melayang lalu meledak diatas sana,sedangkan mas Rio hanya melihatku dari bawah sana dengan senyum kemenangan karena sebentar lagi dia akan meraihku dan memilikiku seutuhnya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2