
Nenek bersikeras menolak perjodohan ini,seperti yang pernah nenek katakan padaku menerika takdir sebagai perempuan dari keluarga ini yang harus merelakan masa depan dengan menerima perjodohan atau memilih jalan hidupku sendiri diluar sana dengan cara pergi dari keluarga ini.
"Pa,boleh nggak Rara usul?"
Tanyaku sambil bangkit dan memeluk mama.
"Boleh,usul apa nak?"
Tanya papa.
"Apa boleh Rara keluar dari rumah ini untuk menentukan kehidupan Rara sendiri diluar sana?"
Tanyaku.
"TIDAK!"
Jawab mama dan papa berbarengan.
"Kehidupan diluar sana tak semudah yang kamu bayangkan."
Kata mama memelukku semakin erat.
"Mama kamu benar,tidak aman untukmu tinggal diluar sana tanpa pengawasan."
Papa menimpali.
Seharian aku memikirkannya,ku kunci pintu kamarku dan aku tak mau diganggunoleh siapapun.Hanya ingin sendiri merenungi nasib diri,ku utak atik tak jelas hape di tanganku.
__ADS_1
Ku usap dan kugeser layarnya lalu jemariku dengan sendirinya tanpa ku komando menekan sebuah kontak pada sebuah aplikasi chat,tertulis nama Yasmin disana dan panggilan tersambung.
"Halo....."
Terdengar suara Yasmin,sahabat semasa SMPku dulu.Kuceritakan semua yang kualami selama ini sambil sesenggukan melalui sambungan telfon dengannya.
Yasmin begitu sabar mendengar curahan hatiku tanpa bosan,Yasmin ikut sedih ketika mendengar suaraku yang terisak namun dia tak hentinya menghiburku serta menenangkanku.
Aku terbangun ketika perut ini terasa lapar,saat kubuka mata hari sudah siang.
Ternyata aku ketiduran karena lelah menangis setelah menelfon Yasmin tadi,kurasa mataku agak sedikit berat karena sembab.
Kulihat layar hapeku,beberapa panggilan tak terjawab dan chat muncul di notifikasi.
Ternyata dari kak Roi sang kakak kelas,aku kira aku sudah aman darinya karena sekarang dia sudah lulus dan kami sudah tak lagi satu sekolah.Ternyata aku salah,nyatanya dia masih sering menghubungiku meski hanya sekedar menanyakan kabarku.Kak Roi tak pernah bosan mengejarku padahal sudah berkali-kali aku menolak bahkan mengabaikannya.
Awalnya kutolak ajakannya,namun ternyata kak Roi bukan hanya mengajakku namun ada Jesi juga yang ternyata sudah siap tinggal jalan kemari menjemputku.
Buru-buru aku bersiap untuk pergi karena sudah tidak mungkin menolak ajakan kak Roi kali ini,sesaat setelah selesai berganti pakaian dan hendan turun kulihat kak Rendi keluar dari kamarnya.
Kak Rendi hendak berjalan kearahku namun aku buru-buru lari menuruni anak tangga dan segera menuju kekamar mama untuk berpamitan dan meminta izin pergi bersama kak Roi dan Jesi.
Mama ikut keluar menemui Jesi dan kak Roi saat mereka sampai,mama meminta mereka untuk masuk dulu karena mama ingin berkenalan dengan kak Roi.
Sebenarnya aku sendiri begitu merasa penasaran dengan maksud mama.
Setelah berpesan agar kami jangan pulang terlalu sore,aku harus kembali sebelum maghrib.
__ADS_1
Kak Roi memintaku duduk di bangku depan menemaninya,sedangkan Jesi duduk dibelakang sendirian.
"Maura sudah makan siang?"
Tanya kak Roi padaku sambil mengemudikan mobilnya dijalanan yang begitu ramai.
"Mmmm,belum kak."
Jawabku.
"Kebetulan sekali,kita sekalian makan siang ya."
Sahut Jesi.
"Medina nggak kita ajak Jes?"
"Dia nggak bisa,katanya lagi bantuin ibunya banyak pesanan."
Mungkin memang benar Medina sedang sibuk membantu ibunya jualan kue apa lagi jika mereka ketiban rezeki dengan banyaknya pesenan kue,hal tersebut membuat Medina semakin sibuk harus membantu ibunya yang sudah pasti akan kerepotan menangani semuanya sendirian.
Kak Roi memarkirkan mobil yang kami tumpangi didapan sebuah cafe yang cukup ternama dikota kami.
Aku dan kak Roi turun lebih dulu sedangkan Jesi katanya nanti mau menyusul.
Saat kami baru saja duduk aku melihat sosok yang tak asing bagiku,ya itu adalah pak Mario dengan seorang perempuan dan seorang anak perempuan yang sedang berada dipangkuan pak Mario.
Bersambung....
__ADS_1