Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Ancaman sayang


__ADS_3

Aku masih terdiam dengan pertanyaan mas Rio yang terasa seperti sedang menebak tepat di sasarannya.


Membuat batinku bertanya-tanya pada diriku sendiri,benarkah aku mencintainya? sampai-sampai aku tidak ingin dia meninggalkanku sekarang.


"Baiklah.....ayo masuk!"


Ajaknya sambil menggandeng tanganku menuju pintu untuk segera masuk kedalam rumah mama.


Kami mengucap salam secara bersamaan tanpa sengaja dan juga tidak terencana,membuat kami saling pandang dan lempar senyum seperti sedang malu-malu kucing.


"Waalaikum salam....."


Terdengar suara mama dan papa menjawab salam dari kami berdua dari dalam rumah secara bergantian.


"Eh....kalian sudah pulang?"


Tanya mama berbasa basi pada kami berdua sambil tersenyum pada kami.


Kami langsung mendekat kearah mama dan papa menyalami mereka dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Ma,pa Rara naik dulu ya...."


Kutinggalkan kedua orang tuaku yang sepertinya sedang ingin bernostalgia berduaan menonton tivi.


Mas Rio mengikutiku dari belakang seakan sedang menggiringku naik ke atas menuju kamar.


Setelah membuka pintu kamarku segera kuletakkan tas diatas meja belajar seperti biasa,kududukkan diriku di kursi meja belajar.Entah kenapa hari ini rasanya begitu enggan melakukan apapun jika teringat kembali tentang kejadian disekolah tadi.


"Kok malah duduk,nggak langsung mandi?"


Tanya mas Rio sambil mendekat kearahku lalu duduk di sampingku.


"Iya bentar!"


Jawabku malas sambil perlahan melepas jilbab persegi yang kukenakan.


"Kenapa lagi? cepat mandi biar segar,ini sudah malam!"


Perintahnya padaku agar segera mandi,karena aku malah dengan malas merebahkan diri keatas tempat tidur.


"Iya,iya....!"


Jawabku,dengan malas aku bangkit lalu kuseret tubuhku menuju kamar mandi agar tak lagi kudengar ocehan mas Rio yang hari ini berubah jadi cerewet seperti emak-emak.


Saat aku hendak menutup pintu kamar mandi,aku terkejut karena mas Rio yang ternyata diam-diam dan perlahan juga mengikutiku dari belakang menuju kekamar mandi.


"Tunggu!"


Ucapnya sambil menahan tanganku agar tidak buru-buru menutup pintu kamar mandi.


"Mau ngapain? tadi nyuruh aku cepetan mandi? kenapa malah kamu yang masuk!"

__ADS_1


Tanyaku kesal sekaligus bingung pada sikapnya.


"Mandi lah!"


Jawabnya sambil menggodaku dan ikutan nyelonong masuk kedalam kamar mandi begitu saja.


Awalnya aku hendak keluar lagi,karena pikirku dia mau mandi lebih dulu dariku karena terburu-buru tetapi ternyata dia menarik tanganku untuk masuk kedalam bersamanya serta.


Aku hanya diam sambil menggeleng melihat tingkahnya sekaligus malu ketika harus satu kamar mandi dengannya meski kami sudah menjadi suami istri sekarang.


Aku hanya bisa pasrah atas segala perlakuannya padaku didalam karena memang semua yang ada padaku adalah hak miliknya dan apa yang dia mau sudah jadi kewajibanku untuk mewujudkannya.


Lagipula aku menolak pun percuma,karena dia tidak akan mungkin pernah melepaskan apa yang sudah pernah dia dapatkan sebelumnya.


Setelah dia selesai menuntaskan hasratnya padaku,barulah kami benar-benar mandi bersama.


Terpaksa kukeringkan rambutku dengan hair dryer setelah mandi dan keramas,supaya saat tidur nanti rambutku sudah benar-benar kering dan tidak menimbulkan bau apek serta menghindari sakit kepala karena tidur dalam keadaan rambut basah,itu adalah ilmu yang ku dapat dari mama.


Setelah selesai sholat Isya' berjamaah dengan mas Rio yang mengimami sholatku,seperti biasa ku siapkan dulu peralatan sekolahku untuk besok pagi agar tidak terburu-buru.


Kulihat mas Rio nampak sedang sibuk dengan laptopnya di meja belajarku,sedangkan aku sudah selesai menata buku di dalam tas sekolahku.


"Kamu istirahatlah dulu,ada yang masih harus kukerjakan!"


Pintanya padaku agar segera bersiap untuk segera tidur.


Sudah hampir satu jam aku mencoba memejamkan mata sambil menutupi wajahku dengan selimut namun meski mata mengantuk tapi tak juga kunjung terlelap.


Ucap mas Rio seperti sedang berbicara sendirian,segera kubuka selimut yang menutupi wajahku karena penasaran.


"Mas bicara dengan siapa?"


Tanyaku sambil duduk diatas tempat tidur memandang kearahnya yang masih fokus pandangannya pada layar laptop yang menyala di hadapannya.


"Sama istriku lah,memangnya disini ada orang lain selain kita berdua?"


Jawabnya,lalu bertanya balik tanpa menoleh padaku.


Aku berjalan pelan mendekat kearahnya untuk memastikan dia benar-benar sedang bicara padaku atau sedang berbicara dengan orang lain lewat panggilan di ponselnya.


"Ada apa sayangku?"


Tanyanya padaku sambil menarik tanganku lalu mendudukkanku dipangkuannya,aku sempat berusaha berdiri dan hendak menyingkir dari pangkuannya namun dia justru mendudukkanku kembali melakukan hal yang sama bahkan aku merasa terkunci dan tak lagi bisa lepas darinya.


"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu! aku tidak bisa tidur karena lampunya masih terang benderang!"


Rengekku padanya karena memang tidak bisa tidur jika lampu masih terang benderang,sedangkan dia sendiri tidak suka jika memandang layar laptop dalam keadaan gelap atau pencahayaan yang kurang terang karena dia bilang matanya akan terasa sakit.


"Lalu kenapa malah mendekat untuk menggodaku?"


Tanyanya sambil merapikan pekerjaannya yang sudah selesai.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak menggodamu,aku hanya memastikan saja apa mas memang sedang bicara denganku atau sedang telfon seseorang!"


Jawabku kesal karena tak mampu bangkit dan melepaskan diri darinya meski kini salah satu dari tangannya tengah sibuk merapikan pekerjaannya.


"Kamu mau kemana?"


Tanyanya sambil usil menggodaku.


"Aku mau tidur......"


Jawabku pelan.


"Sayang."


Bisiknya lirih.


"Apa?"Tanyaku bingung.


"Panggil aku sayang mulai sekarang!"


Perintahnya sambil berdiri dan membalik tubuhku yang kini membuat kami saling berhadapan.


"Kenapa?"


Tanyaku padanya dengan sengaja.


"Lakukan saja!"


Bisiknya sambil menaikkan tubuhku dan menggendongku menuju tempat tidur.


"Tidak mau!"


Jawabku dengan kesal padanya.


"Turunkan aku mas!"


Bisikku ditelinganya saat dia sedang berusaha membuat rasa kantukku yang sedari tadi kurasakan perlahan mulai hilang.


"Kali ini aku tidak akan mengampunimu jika tidak patuh!"


Ancamnya dengan sentuhan yang dia lakukan dengan gila.


Dia benar-benar serius dengan ancamannya untuk tidak mengampuniku sebelum mematuhi perintahnya.


"Saaaaayaaaaang,"


"Mas!"


Teriakku kaget dan segera berusaha mendorong tubuhnya saat kurasakan sesuatu yang aneh menyembur hangat disana,namun usahaku sia-sia belaka karena dia semakin erat melilitku.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2