
Aku terbangun bukan karena bunyi alarm yang sering kali menggangguku setiap pagi,melainkan karena sorot cahaya sinar mata hari yang menyilaukan mataku saat tirai kamar sang tuan muda di sibak oleh pemiliknya.
"Nggh..!"
"Kamu sudah bangun sayang? selamat pagi cantik....!"
Mas Rio mendekat kearahku dan duduk disampingku.
"Aduh,sssh!"
Aku mengaduh karena rasa sakit saat aku hendak menggerakkan tubuhku.
Rasa sakit diseluruh tubuhku dan rasa perih dari bawah sana membuatku harus menarik nafas panjang untuk menetralisir rasa tak nyaman.
"Apakah masih sakit sayang?"
Tanya mas Rio terlihat panik,saat melihatku mengaduh dan menarik nafas panjang.
"He'em,"
Jawabku sambil tertunduk malu teringat kembali yang kami lakukan semalam,lebih malu lagi karena aku yang memulainya.Entah setan apa yang sudah merasukiku hingga aku tak mampu menahan diriku sendiri terhadap laki-laki yang ada di hadapanku.
"Permisi mas,aku mau kekamar mandi."
Perlahan aku duduk dan menggeser tubuhku dengan menahan rasa perih dibawah sana.
Aku sudah berhasil duduk di tepi tempat tidur di samping mas Rio dengan selimut yang kugulung untuk menutupi seluruh tubuhku yang polos tanpa apapun sedangkan mas Rio nampak sudah rapi dan sepertiny juga sudah mandi jika cium dari aroma tubuhnya yang wangi dan juga terlihat segar jika dibandingkan denganku yang masih kusut dan acak-acakan.
"Perlu kubantu sayang?"
Tanya mas Rio padaku sambil membantuku bangkit untuk berdiri.
"Tidak perlu,"
Jawabku saat sudah berhasil berdiri.
Mas Rio memelukku dan tak hentinya menciumi keningku.
"Terima kasih sayang karena sudah melaksanakan tugasmu sebagai istriku,maaf karena hal itu aku membuatmu kesakitan bahkan sampai saat ini."
"Iya mas,maaf jika selama ini aku selalu menolakmu."
Jawabku masih dalam pelukannya berbalut selimut.
"Kalau masih sakit untuk berjalan,biar aku gendong sampai kedalam kamar mandi ya?"
Ucapnya sambil memandangku dengan khawatir dan rasa iba dengan keadaanku sekarang.
"Tidak perlu..."
Jawabku sambil berjalan pelan menuju kamar mandi dengan menahan rasa sakit dan tidak nyaman karena terasa seperti masih ada yang mengganjal dibawah sana.
Saat keluar dari kamar mandi tubuhku terasa jauh lebih segar dan rasa sakit yang sedar semalam kurasakan sudah mulai sedikit membaik.
Kugulung rambutku dengan handuk karena masih basah dan aku keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi milik mas Rio yang ada di almari khusus handuk didalam kamar mandinya.
"Sudah tidak sakit lagi sayang?"
__ADS_1
Tanya mas Rio saat aku melihat diriku sendiri dicermin full dinding depan pintu kamar mandinya.
"Sedikit"
Jawabku sambil membuka almari pakaian dan aku lupa bahwa aku sedang dirumahnya dan tidak ada satupun pakaianku disini.
Lalu kututup kembali pintu almari dengan perasaan kesal setelah kusadari tak mungkin kutemukan tumpukan bajuku didalam.
"Kenapa ditutup lagi?"
Tanya mas Rio sambil berjalan mendekat kearahku,membuka kembali pintu almari dari belakangku lalu meletakkan dagunya di bahuku.
"Ini,ini dan ini....semuanya milikmu!"
Tangannya menunjuk tumpukan pakaian baru yang bahkan sudah dicuci bersih dan siap pakai.
Aku memandangnya dengan heran lalu kuambil lipatan baju paling atas dan beberapa pakain dalam untuk ku kenakan di dalam kamar mandi.
Bagaimana bisa dia menyiapkan semua ini?baju-baju sesuai ukuran tubuhku,jilbab bahkan pakaian dalam semuanya sesuai ukuran tubuhku.Apakah dia pernah melihat bahkan menyentuh barang-barang pribadiku selama kami tinggal sekamar? bagaimana bisa dia tau semua ukuran ini sesuai untukku jika dia tidak pernah melihat atau menyentuhnya.
"Dasar pengintit!"
Gumamku pelan saat didalam kamar mandi.
"Semuanya pas kan?"
Tanyanya sambil memandangku yang masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
"Iya,terima kasih ya mas.Apakah mas sendiri yang menyiapkan semua ini untukku?"
Tanyaku dan hanya dijawan dengan anggukan saat aku duduk di sampingnya yang kini berada di sofa yang menghadap ke tivi.
"Ayo aaaaa.....,ini sudah hampir siang dan kamu belum sarapan!"
Ucapnya sambil menyuapkan makanan kemulutku yang sudah terbuka.
Kulirik jam dinding yang ada di kamar sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dan aku baru selesai mandi dan kini sedang sarapan bahkan aku melewatkan ibadah Subuhku.
"Kenapa tidak membangunkanku untuk sholat Subuh tadi?"
Tanyaku sedikit merajuk.
"Aku tidak tega melihatmu yang masih tertidur pulas!"
Jawabnya sambil menyuapkan makanan terakhir untukku.
"Jangan bilang kalo mas Juga tidak sholat subuh karena bangun kesiangan!"
Ledekku padanya yang hanya tersenyum kearahku lalu meletakkan piring bekas makanku di meja.
"Iya?"
Tanyaku lagi.
"Tidak,meski hampir kesiangan tapi masih keburu subuhnya kok."
Jawabnya sambil kembali memelukku yang masih duduk disampingnya,bermanja-manja seperti ketika Zarra berada didekatku.
__ADS_1
"Kita pulang kerumah mama yuk mas,aku khawatir Jesika akan bertanya tentangku kenapa sejak semalam aku tidak pulang."
Ajakku padanya yang masih betah bermanja-manja padaku seperti anak kecil.
"Nanti saja dulu,aku sudah meminta mama untuk mencarikan alasan yang tepat untukmu jika Jesi bertanya tentangmu."
"Tapi aku ingin pulang...."
Rengekku padanya.
"Nanti saja...."
Bisiknya di telingaku sambil menciumi leherku yang masih penuh dengan jejak percintaan semalam.
"Sayang,apakah benar sudah tidak sakit?"
Tanyanya masih sambil menciumi leherku.
Aku segera menggeser tubuhku dari dekatnya hingga membuatnya hampir terjungkal di sofa karena tidak siap dengan pindahnya posisi tubuhku.
Ku tatap matanya dengan kesal sambil menggeleng pelan.
"Kenapa?"
Tanyanya padaku sambil bergeser mendekat kearahku,lalu kembali memelukku.
"Boleh lagi tidak?"
Tanyanya sambil tersenyum dan mengedip-kedipkan matanya.
Tangan yang awalnya hanya memeluk lama kelamaan mulai aktif melakukan apapun sesuka hatinya karena memang yang sedang dia kerjai adalah bak miliknya sendiri.Dia tak perduli sama sekali pada penolakanku kali ini,bahkan rambutku saja belum sempat kering dan setelah ini harus mandi keramas lagi karena ulahnya.
"Tolong jangan terlalu berisik,karena dibawah ada Pras dan Samuel!"
Bisiknya padaku berusaha memperingatkanku disela-sela kesibukannya terhadapku.
"Memangnya semalam mereka kemana?"
Tanyaku padanya sambil membelai rambutnya.
"Mereka kusuruh mengurus Roi sementara aku mengurusmu disini."
Katanya sambil menunjuk diriku dibagian yang baru saja disukainya.
"Lalu bagaimana dengan kak Roo sekarang mas?"
Aki kembali bertanya,membuatnya menghentikan perbuatannya sejenak.
"Nanti saja membahas Roi,sekarang kita urus dulu urusan kita!"
Ucapnya sambil kembali meneruskan apa yang kini menjadi kegemarannya.
Dengan sentuhan-sentuhan lembut dia mengulangi kembali perbuatannya semalam dengan jauh lebih berhati-hati karena sepertinya dia masih takut akan membuatku sakit lagi.
Sepertinya dia mulai kecanduan dengan diriku yang kini sudah benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.
"Mas.....bagaimana jika aku hamil?"
__ADS_1
Tanyaku padanya sesaat setelah kami berdua ambruk bersama di atas sofa.
BERSAMBUNG......