Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Keputusanku


__ADS_3

Aku masih belum bisa memberi keputusan apapun sekarang ini,aku masih belum siap menjadi seorang istri dengan statusku sebagai seorang pelajar.


"Apakah jika kita menikah siri,mas akan......"


Pertanyaanku terhenti,bahkan aku ragu untuk melanjutkannya.


"Apa? kenapa tidak dilanjutkan pertanyaannya?tanyakanlah!"


"Tidak!"


Jawabku singkat


"Kenapa?"


Tanyanya padaku,sedangkan aku hanya terdiam.Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Jadi,apa keputusanmu?"Tanyanya lagi padaku.


"Entahlah,aku tidak tau! aku belum siap menikah sekarang mas,yang kufikirkan saat ini hanyalah sekolahku!"


Jawabku sambil menyandarkan kepalaku.


"Bukankah sudah kubilang,kamu tidak akan dikeluarkan dari sekolah jika pernikahan kita tidak ketahuan."


"Aku takut!"


"Apa lagi yang kamu takutkan? aku mohon sekali lagi padamu,demi papi....."


Kulihat matanya mulai berkaca,dia benar-benar memohon dengan kesungguhan padaku


"Meski pernikahan kita tidak ada yang tau,lalu bagaimana jika aku sampai hamil olehmu? apakah itu tidak akan membuatku dikeluarkan dari sekolah!"


Mas Mario tersentak,bola matanya membulat.


Dilihatnya diriku,lalu tersungging seyum dibibirnya.


"Jadi itu yang paling kamu takutkan?"


Tanyanya padaku sambil tersenyum.


Aku hanya diam dan menggigit bibir bawahku sendiri dengan rasa takut.


Kenapa dia malah tersenyum? bukannya marah.


Batinku.


"Dengarkan aku Maura putri anggara,meski nanti kita sudah menikah siri aku tidak akan menyentuhmu kecuali atas seizinmu atau kamu yang menginginkannya!"


Jawabnya dengan nada serius,lalu tiba-tiba terkekeh seolah menertawakanku.


"Lagipula,siapa juga yang menginginkanmu!"


Jawabku sinis sambil memalingkan wajah kearah luar mobil yang kaca jendelanya terbuka,sehingga membuatku lebih leluasa melihat kearah luar.


"Kamu mau turun?"


Tanyanya.


"Tidak!"


Jawabku kesal.


"Jadi?"


"Apa!"

__ADS_1


"will you marry me?"


Kini aku yang tersentak kaget mendengar permintaannya.


"Demi papi,"


Sambungnya,kupejamkan mata dan kubuka perlahan dan kuanggukkan kepalaku pelan tanda setuju.


"Oke,besok penghulu akan datang kerumah sakit untuk menikahkan kita."


"Dirumah sakit?"


Tanyaku.


"Iya kita menikah di rumah sakit,dihadapan papi.Bukankah pernikahan ini dipercepat atas kemauan papi?"


Tak pernah terbayangkan olehku harus menikah diusia semuda ini yang masih berstatus sebagai siswi SMA,serta harus menikah di rumah sakit.


Hidupku sudah seperti di sinetron yang sering di tontong emak-emak yang sering membuat mereka ikut menangis dan terkadang ikutan kesal dengan alur ceritanya.


"Mas janji,tidak akan meminta hak mas sebagai suami setelah pernikahan kita!"


Ucapku kembali meyakinkan.


"Iya!"


Jawabnya dengan halus.


"Ucapkan dengan benar janjimu itu!"


Desakku padanya.


"Baiklah,Saya Mario ardianto wijaya berjanji tidak akan menyentuh Maura putri anggara setelah pernikahan siri kami berlangsung kecuali dia yang menginginkanku! apakah kau puas sekarang? perlukah pakai surat perjanjian?"


Ucapku.


"Kita ke rumah sakit sekarang,untuk memberitahukan kabar ini pada papi."


Mas Rio memutar arah mobil yang kami tumpangi dan melajukannya kembali kerumah sakit.


Kami sempat membuat sebuah surat perjanjian pra nikah sebelum sampi dirumah sakit,yang berisi bahwa kami sama-sama setuju menikah siri namun tidak boleh ada hubungan suami istri selama pernikahan.


Mas Mario menambahkan kata-kata pengecualian,bahwa jika aku yang menginginkannya maka itu bukan kesalahannya.


Kami pun setuju dengan perjanjian tertulis yang kami berdua tanda tangani.Lalu segera kembali kerumah sakit untuk menemui om Dedi guna memberitahukan kabar gembira untuk beliau ini.


Mas Rio menggandeng lenganku saat kami tiba dirumah sakit dan langsung masuk kembali kedalam ruang dimana om Dedi sedang dirawat sekarang.


Saat kami baru tiba,semua orang bangkit dari bangkunya masing-masing dengan tatapan penuh tanda tanya namun mas Rio tak menggubrisnya.


Dia terus berjalan sambil menggandeng tanganku melewati semua anggota keluarga kami tanpa sepatah katapun.


"Pi....."


Mas Rio memanggil papinya pelan yang sedang memejamkan mata.


"Kalian sudah kembali? apakah kalian membawa kabar baik untukku?"


Tanya om Dedi sambil memandang kami berdua penuh harap.


"Iya pi,kami sudah memutuskannya."


Jawab mas Rio.


Sedangkan mata om Dedi tak hentinya tertuju padaku,seolah meminta jawaban dariku.

__ADS_1


"Dan kamu Ra?"


Tanya beliau padaku ingin mendengar jawaban pasti dariku.


"Iya om,tapi.....bolehkah Rara meminta syarat?"


Tanyaku bernegosiasi.


Mas Rio terkejut mendengar pertanyaanku,matanya membulat saat melihat kearahku.


"Syarat? apa itu nak? katakanlah!"


"Setelah menikah masih bolehkah saya meneruskan sekolah saya?"


Om Dedi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala pelan.


"Maaf jika papi harus menyusahkan kalian,papi hanya tidak ingin saat menikah Rio sudah tidak ada orang tua kandung yang mendampingi."


Ucap om Dedi lirih,membuat mata mas Rio kembali banjir air mata yang sejak tadi sudah ia tahan ketika didepanku.


"Pi.....sudahlah,jangan katakan itu lagi.Rio mohon!"


"Kenapa? kamu malu menangis di hadapan calon istrimu!"


Ledek om Dedi sambil terkekeh.


"Papi akan baik-baik saja,papi pasti sembuh!"


Mas Rio memeluk tubuh yang berbaring lemah disampingnya.


"Kalian segeralah urus semuanya! besok bukankah kalian akan menikah?"


Aku dan mas Rio keluar dari pintu ruang perawatan om Dedi,semua mata kembali menatap kearah kami dengan penuh tanya yang tak mampu terucap namun ingin mendengar jawaban.


Aku berjalan pelan kearah mama,tubuhku jatuh dipelukan mama.Sedangkan mas Rio terduduk di samping papa sambil menyandarkan punggungnya.


Papa terlihat sedang menengangkan mas Rio,sedangkan aku masih terdiam dipelukan mama dengan rasa bimbang dengan pernikahan yang akan dilaksanakan besok.


"Halo Pras!


Suruh orang untuk mengurus pernikahanku dan Maura besok!


Iya,dirumah sakit!"


Terdengar jelas olehku,mas Rio lewat panggilan telfonnya memerintahkan pak Pras untuk mengurus pernikahan kami besok yang akan dilangsungkan dirumah sakit.


Mami yang ikut memelukku bersama mama sedari tadi tak hentinya mengucap syukur dan berterima kasih padaku berulang kali.


Mami berterima kasih untuk pengorbanan besar yang kuberikan untuk keluarga ini.


Kami sekeluarga bersama keluarga Wijaya pulang kekediaman keluarga Wijaya kecuali kak Rendi yang menemani mas Rio berjaga dirumah sakit.


Mami meminta orang butik untuk menyiapkan kebaya untuk untukku malam itu juga,meski ini hanya pernikahan sederhana dalam keadaan darurat namun mami tetap menginginkan yang terbaik untukku.


Kuutarakan kegundahan hatiku pada mama saat kami hanya tinggal berdua didalam kamarku sambil menangis sepuasku.


Menangis,ya hanya itu yang bisa kulakukan dalam kekacauan hati dan pikiranku saat ini.


Besok pernikahanku akan dilaksanakan,tidak pernah terbayangkan olehki akan melangsungkan pernikahan dirumah sakit dalam keadaan seperti ini.


Kenapa kehidupanku harus seperti ini? terpaksa menerima perjodohan dengan guru disekolahku dan sekarang terpaksa harus menikah dadakan sementara aku sendiri belum lulus sekolah.


Pernikahan yang harusnya menjadi moment bahagia,namun entahlah.....aku sendiri masih bingung.Apakah harus bahagia atau nelangsa dengan nasib diriku sendiri.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2