Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Alat tes kehamilan


__ADS_3

Sudah lebih dari satu minggu sejak kejadian malam itu saat dia benar-benar lepas kontrol atas dirinya padaku.


Namun tak kunjung adanya tanda-tanda kehamilan seperti yang Jesika alami,tetapi masa menstruasiku seharusnya juga sudah tiba beberapa hari yang lalu.


Kulihat kalender yang berara di atas meja belajarku,kubolak-balik di bulan-bulan sebelumnya yang penuh dengan lingkaran warna-warni untuk penanda hal-hal penting tertentu salah satunya adalah tanggal menstruasiku setiap bulannya.


Harusnya lusa atau kemarin aku sudah kedatangan tamu bulanan paling lambat setidaknya hari ini harusnya datang,namun kenapa tak juga kunjung datang?


"Mas....aku kayaknya beneran hamil deh!"


Ucapku pada tersangka utama atas apa yang terjadi padaku saat dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Aku selalu dag dig dug setiap melihat pemandangan yang seperti ini,darahku terasa berdesir sambil menelan saliva.


"Baiklah,besok kita ke dokter!"


Jawabnya datar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan membuka almari pakaiannya.


"Kalau kita tes sendiri dulu pakai alat tes kehamilan beli di apotek bagaimana?"


Tanyaku sambil bangkit hendak membuka almari pakaianku yang bersebelahan dengannya.


"Baiklah sayangku...tapi tolong kenakan dulu pakaianmu,kalau kamu mendekat kearahku dalam keadaan seperti ini saya artinya kamu memancing ku untuk menerkammu!"


Jawabnya ketika melihatku di sampingnya hanya mengenakan jubah mandi sejak tadi.


Padahal aku sudah selesai mandi sedari tadi namun sampai dia selesai mandi belum juga kukenakan apapun karena sejak tadi sibuk melamunkan tentang kehamilan terus menerus.


"Sayang! aku tidak sedang menggoda atau bahkan memancingmu! jadi jangan Ge-er ya!"


Jawabku ketus sambil meledeknya.


Justru ucapanku malah memancingnya.

__ADS_1


"Mumpung masih sama-sama polos!"


Ucapnya dengan cepat mendekat kearahku lalu dengan perlahan dia melakukannya setelah lebih dari satu minggu dia tidak mendapatkanya dariku.


Mas Rio benar-benar sudah hampir seperti hewan buas yang tidak mendapatkan hewan buruannya dalam waktu yang sangat lama hingga membuatku benar-benar kewalahan dan kelelahan dan tertidur di pelukannya sore ini.


Mas Rio membangunkanku untuk kembali mandi dan melaksanakan sholat Asar,saat aku menggeliatkan tubuhku yang masih polos dibalik selimut tanpa sengaja aku justru menyentuh barang terlarang miliknya yang tanpa kusengaja justru membangunkannya kembali.


Aku yang terkrjut segera menarik tanganku dengan cepat dan berbalik badan menutupi wajahku yang memerah karena merasa malu.


"Kenapa tidak di teruskan saja! hah?"


Mas Rio menggodaku dengan semakin mendekat dan menempel di punggungku,membuatku merasa semakin malu dan tidak nyaman dengan tingkahnya.


"Maaf mas aku....tadi tidak sengaja!"


Jawabku sambil berusaha menghindarinya dan hendak lari kekamar mandi.


Aku bahkan tak punya daya dan kekuatan untuk melawannya,tak ada yang bisa kulakukan selain memasrahkan apa yang sudah menjadi kehendaknya saat ini.


Apa yang ada padaku saat ini sudah seperti candu untuknya yang setiap kali melihatku mungkin saat itulah dia selalu ingin merasainya.


Semakin lama kurasa dia sering kali hilang kendali,karena tak pernah kulihat lagi dia kenakan lagi pengaman seperti saat kami melakukannya diawal.


Bahkan kurasa dia tidak pernah memperdulikan kekhawatiranku selama ini.


Saat malam tiba kami pergi ke apotek yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahku untuk membeli alat tes kehamilan,aku merasa ragu dan malu jika harus membelinya sendiri.


"Mas kamu yang beli ya!"


Pintaku padanya yang masih duduk mematung di dalam mobil,padahal mobil sudah terparkir di depan apotek dan salah satu diantara kami tinggal masuk saja.


"lho kok aku? ya malu lah .....masa cowok beli gayak gituan!"

__ADS_1


Jawabnya terlihat dia tidak mau menuruti permintaanku.


"Lupa ya ini ulah siapa!"Ancamku padanya sambil menunjuk kearah perutku yang benar-benar sangat rata.


"Tapi.....kan yang pakai kamu....aku mana ngerti yang kayak begitu?"


Jawabnya beralasan.


"Kalau aku yang beli akan semakin malu mas! wajahku masih terlihat sangat muda dan aku sudah hamil,mereka pikir aku sudah berzina dan hamil diluar nikah dengan pacarku!"


Ucapku kesal padanya karena kurasa dia seperti mau lepas dari tanggung jawab.


Baru di suruh beli alat tes kehamilan saja sudah tidak mau,apa lagi kalau nanti aku beneran hami dan melahirkan anaknya kelak.


"Jadi ini mas bentuk tanggung jawabmu!"


Tanyaku dengan kesal padanya,yang hanya diam seolah sedang menimbang-nimbang kembali keputusannya.


"Iya,iya aku yang beli.Apa namanya?"


Jawabnya dengan terpaksa sambil melepas sabuk pengaman yang melilit didadanya.


"Beli saja alat tes kehamilan,titipan dari istri. gitu! kalau mas kan sudah terlihat bapak-bapak jadi orang pasti tidak akan ada yang curiga dan percaya saja kalau istrinya sedang hamil."


Ucapku sambil tersenyum nyengir kearahnya yang terlihat cemberut dan nampak tidak suka dengan kata-kataku padanya.


"Enak aja bapak-bapak!"


Jawabnya sambil membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.


Terlihat dari dalam mobil dia berjalan menuju kearah pintu masuk apotek dengan ragu karena beberapa kali melihat kearah belakang untuk melihatku di dalam mobil.Mungkin dia berharap aku yang akan turun untuk menggantikannya saat ini.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2