
Kurebahkan tubuhku di sofa panjang ruang tengah dengan kesal,sambil memanyunkan bibirku namun tak semanyun bebek.
Aku begitu penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan kedua laki-laki di garasi sekarang.
"Mama dengar suara motor Rio tadi sebelum teman-temanmu pulang Ra,mana dia?"
Tanya mama padaku sambil duduk di sofa yang ada di sebelah tempatku merebahkan diri sekarang.
"Tuh masih di garasi sama kakak!"
Jawabku sambil menunjuk kesebelah rumah yang kami huni sekarang.
"Ngapain? kok tidak langsung pada masuk!"
"Lagi pada lomba nambal ban ma!"
Jawabku asal.
Mama hanya menggeleng,sambil sesekali memperhatikan tivi yang sedang menyala.
Ikut melihat kedua anak kembar berkepala botak yang sedang berada di sekolah.
"Kapan mereka akan masuk SD ya Ra?"
Tanya mama padaku dengan serius.
"Mungkin tahun depan ma!"
Jawabku tak kalah serius,bahkan aku sampai mengubah posisiku yang awalnya rebahan kini menjadi duduk sambil serius memandang tivi.
"Apa di negara mereka tidak ada bea siswa ya? jadi mereka di taman kanak-kanak terus!"
"Kita suruh saja mereka pindah kesini ma,kan bisa kita sekolahkan di SD!"
Jawabku mulai seenaknya.
"Terus nanti kamu yang urusi mereka? kamu ini apa-apa masih manggil mama sama bibi kok mau urusin anak kembar!"
"Gampang nanti ma bisa diatur,tinggal panggil papanya nanti."
"Tuh,calon papanya sudah datang!"
Ucap mama memberi tahukan kedatangan mas Rio padaku sambil menunjuk menantunya yang baru masuk kedalam,lalu disusul oleh kak Rendi.
"Assalamu'alaikum ma....!"
Ucap salam mas Rio sambil menyalami mama yang sedang duduk disampingku.
Aku tak mau kalah dari mama,segera kuraih tangan suamiku yang sudah diulurkan padaku lalu kucium punggung tangannya.
"Saya kekamar dulu ma!"
Ucap mas Rio lalu berjalan menaiki anak tangga sambil memandangku saat aku sedikit meliriknya.
"Ikuti suamimu sana!"
Perintah mama padaku.
"Ck,iya ma...!"
Dengan malas aku bangkit.
__ADS_1
"Yang ikhlas!"
Ucap mama padaku seakan sedang menekanku.
"Iya....."
Jawabku lagi sambil berjalan malas menaiki anak tangga.
Aku segera masuk kedalam kamar saat sampai didepan pintu kamarku,segera kututup dengan rapat pintu kamarku setelah aku masuk.
Kulihat mas Rio sedang melepas satu persatu pakaiannya lalu memasukkannya kedalam keranjang pakaian kotor yang ada di hadapannya.
Jangan lepas semuanya dikamar dong,apa memang sengaja mau memamerkan tubuh yang seperti roti sobek itu padaku?
gumamku dalam hati tanpa meneluarkan suara dengan nyata.
"Sudah mandi?"
Tanyanya sambil melepas ikat pinggang yang melilit di pinggang celana panjangnya.
"Belum!"
Jawabku sambil menggeleng.
"Mau......"
"Tidak! aku malu saat mama melihatnya!"
Dia tersenyum kepadaku sambil berjalan mendekat kearahku.
"Aku bahkan belum selesai bicara! kamu sudah memotongnya!"
Bisiknya sambil menyentuh lembut pipiku dengan jarinya.
"Aku ingin menawarkanmu untuk mandi lebih dulu,tapi sepertinya kamu sedang memikirkan hal lain!"
Ucapnya sambil menggendongku masuk kekamar mandi.
"Lepaskan aku mas! aku mandi sendiri saja nanti....!"
Teriakku sambil memukul-mukul punggungnya dengan kepalan kedua tanganku.
Dengan satu tangannya nenutup pintu dan menguncinya dari dalam,sedangkan tangan yang lain masih memegangi tubuhku yang kini masih berada di atas bahunya.
"Lepaskan aku mas....!"
"Iya ini juga mau aku lepaskan! semuanya."
Jawabnya sambil terkekeh.Segera dinyalakan kran,air dari shower membasahi tubuh serta pakaianku dan mas Rio yang kini bersidi dibawahnya hanya dengan bertelanjang dada.
"Apa yang kamu lakukan? bajuku jadi basah kuyup!"
Ucapku dengan kesal padanya.
"Kalau begitu biar kubantu melepasnya!"
Jawabnya sambil membantuku melepaskan jilbabku,kini bibirnya mulai memanggutku sambil tangannya perlahan melepaskan piyama yang kukenakan dan membuangnya kelantai.
Dia mulai memelukku dan tangannya menggerayangi punggungku lalu naik untuk membuka pengait bra milikku yang dengan cepat sudah dilempar kelantai dengan sembarangan.
Lidahnya mulai menyapu leherku,menjilati kembali tanda merah bekas jejaknya semalam sambil tangannya menyingkirkan tanganku yang sejak tadi berada di depan dadanya yang bidang.
__ADS_1
"Kamu milikku,jadilah istriku seutuhnya sayang!"
Ucapnya tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab dia sudah menuruni dadaku,menyesap gundukan gunung kembar milikku dan menjilatinya dengan rakus kadang digigitnya pelan membuatku tak tahan untuk mengeluarkan ******* pelan dari bibirku.
"Ahhhh.....! Sudah mas......hentikan!"
"Sssshhhhhh.....Ahhhhh......!
Suaraku desahanku semakin membuatnya berani untuk menurunkan celanaku,kini tinggal menyisakan pembungkus bagian inti dari tubuhku.
Dengan cepat dia juga membuka celana panjangnya sendiri,kini kami sama-sama bugil hanya tinggal menyisakan selembar pembungkus inti surgawi kami masing-masing.
Mas Rio semakin berani berjongkok untuk menciumi bagian bawah sana yang masih berbungkus sehelai kain berwarna merah muda yang sudah basah oleh cairan hangat hasil perbuatannya bercampur guyuran air dari keran yang mengalir melalui shower.
Tanganku menahannya saat tangannya mulai berani hendak masuk menerobos masuk kedalam celah kain pembatas diantara kami.
Kutarik tubuhnya untuk berdiri,aku memeluknya dengan erat saat kami saling berdiri berhadapan dengan tubuh saling menempel.
Dia memeluk tubuhku dengan erat menekan bagian belakang tubuhku hingga bagian bawah kami saling bergesekan saat menempel masih dengan selembar kain penghalang masing-masing.
"Aahhhh,sayang.....jangan menyiksaku seperti ini,please.....!"
Ucapnya memohon padaku.
"Jangan mas.....!"
Jawabku kembali menolaknya.
"Sudah sejauh ini sayang....!"
Aku hanya bisa menggeleng tanpa jawaban.
Dia memelukku sambil terus menekan bagian bawah tubuhku membuatku tak tahan hingga rasanya ingin meledak saat bagian bawah kami saling bergesekan dalam keadaan saling menempel dengan pembatas yang sangat minim dengan sebelah tangannya menjamah sana sini dan bibirnya menjelajah sesuka hatinya.
"Lepaskan!"
Teriakku sambil mendorong tubuhnya dengan kuat.
Dia terlihat marah saat aku melepaskan diriku darinya.
Aku segera ku sambar kimono mandiku sekenanya dan dengan cepat segera kukenakan lalu berusaha meraba kenop pintu kamar mandi sambil memandangnya waspada,namun dia tetap diam tak bergeming dibawah guyuran air kamar mandi.
Kututup pintu kamar mandi dengan kencang,kusandarkan tubuhku di pintu kamar mandi sambil kuatur nafasku yang masih terasa memburu.
Dadaku masih berdetak dengan kencang,aliran darah didalam tubuhku masih terasa panas dan aku hanya bisa terduduk di depan kamar mandi.
Entah apa jadinya jika aku tak bisa mengontrol diriku sendiri tadi,pasti aku sudah habis olehnya didalam sana.
Dasar tak bisa tepat janji,gumamku dalam hati.
Apa gunanya surat perjanjian itu dulu dibuat? hanya untuk membujukku agar mau segera menikah dengannya! Dasar! aku sekarang hanya seperti mainan untuknya,meski aki sudah berkali-kali menolaknya namun dia terus merengek bahkan memaksa untuk meminta haknya.
Aku berusaha bangkit dan kuat agar dia tidak dengan mudah menakhlukkanku,aku masih belum tau pasti tentang masalahnya dengan Jesika.
Bagaimana jika Jesika benar dan mas Rio yang berbohong!
Mas Rio memang suamiku,sudah sepatutnya aku mempercayainya namun Jesi juga sahabatku aku juga perlu mempercayainya serta mendukungnya dalam keadaannya yang seperti ini.
Aku masih berdiri didepan pintu kamar mandi,diam mematung saat mas Rio keluar dari kamar mandi.
Aku sudah kedinginan karena hanya mengenakan jubah mandi dengan keadaan rambut serta seluruh tubuh basah kuyup.
__ADS_1
Mas Rio hanya memandangiku sambil menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu kamar mandi.
BERSAMBUNG.......