Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Liontin Batu Ruby


__ADS_3

Tante Sarah duduk di tepi tempat tidur hingga kami duduk saling berhadapan dengan memegang kotak warna merah yang baru saja dikeluarkan dari dalam almari,dibukanya kotak tersebut ternyata isinya adalah sebuah cincin dan kalung dengan liontin berwarna merah.


"Ini buat kamu Ra."


Ucapnya sambil mengalungkan kalung dileherku.


"Ini buat apa tante?"


Tanyaku dengan wajah heran.


"Ini adalah satu set perhiasan turun temurun yang diwariskan kepada menantu perempuan di keluarga Wijaya."


"Tapi tante,Rara kan belum resmi menjadi istrinya mas Rio?"


"Dulu kalung ini juga pernah diberikan pada ibu kandung Mario dan Reina sebelum acara pertunangan."


"Ibu kandung tante?"


"Jadi,tante .......?"


"Iya,tante ini hanya ibu sambung mereka."


"Maaf tante,Rara nggak bermaksud menyinggung soal....."


"Tidak apa-apa sayang,kalung berliontin Rubi ini melambangkan  kedamaian, kekuatan, serta cinta dalam keluarga kalian kelak."


Aku hanya tersenyum sambil menganggukkam pelan kepalaku.


"Dan untuk cincin ini juga untukmu saat acara pertunangan nanti,tolong jaga baik-baik warisan keluarga kami ya Ra."


"Insya Allah tante."


"Dan satu lagi,mulai sekarang panggilnya MAAAMI jangan tante lagi ya!"


"Iya,baik tante.Eh maaf Maaaami! hehehehe."


Tante Sarah yang kini kupanggil mami memelukku,lalu mengusap lembut ujung kepalaku yang terbungkus hijab.


'Tok,tok,tok'


"Mam,mami sudah siap?"

__ADS_1


Tanya mas Rio dari balik pintu.


"Iya sudah."


'Ceklek'


Mami Sarah membuka pintu,aku muncul dari balik punggungnya saat pintu benar-benar terbuka lebar.Mas Mario masih berdiri mematung dihadapan kami saat mami menutup kembali pintu kamarnya dari luar.


"Papi sudah ada dibawah mi."


"Baiklah,ayo kita turun!"


Kami bertiga segera turun,mas Mario berjalan di belakangku dengan membawa sebuah koper milik orang tuanya sedangkan Mami Sarah memimpin paling depan.


"Sudah siap semuanya?Kita berangkat sekarang ya!"


Tanya kak Aldi sambil menenteng koper kak Reina menuruni anak tangga.


Mas Mario dan kak Aldi memasukan koper kedalam bagasi,Zarra sudah berada di gendongan kak Reina yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobil.Mami Sarah berjalan sambil merangkul pundakku sedangkan om Dedi mengiringi kami dari belakang.


"Kalau ada waktu luang sering-sering kirim kabar kekami ya sayang!"


"Baik mam,Insya Allah."


Jawabku saat langkah kami mulai dekat dengan mobil.


"Rio meskipun Rara ini muridmu,jangan terlalu keras sama dia ketika di sekolah!"


Kata om Dedi pada mas Mario.


"Hhmmmmm."


"Riiioooo!"


"Iya papiiiiii.....!"


"Nah....gitu dong!"


Om Dedi menepuk bahu mas Rio lalu masuk kedalam mobil di sebelah kak Aldi yang berada di kursi kemudi,sedangkan mami Sarah duduk di bangku penumpang bersama kak Reina dan Zarra.


Kak Reina memberiku pelukan perlisahan.

__ADS_1


"Kalian yang akur ya....!"


Pesan kak Reina pada kami.


Lalu kucium ounggung tangan om Dedi juga punggung tangan mami dan mami kembali memeluk serta mencium pipiku sama seperti hal yang mamaku lakukan setiap kali aku mau pergi.


"Rio! langsung antarkan Rara pulang ya!"


Pesan om Dedi pada mas Rio.


"Iya pa....ini juga kami mau langsung jalan kok."


"Hati-hati ya kak Aldi!"


"Iya...."Jawab kak Aldi sambil menstater mobil.


"Ayo! ku antar kau pulang."


Ajak mas Rio sambil masuk kedalam rumah dan kuikuti dia dari belakang.


Saat dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku,seketika aku ikut berhenti.Untung saja tubuhku tidak sampai menabrak punggungnya karena dia berhenti secara mendadak tepat didepanku.


"Kenapa ikut masuk lagi!"


Tanyanya padaku saat aku.


"Tas saya masih didalam."


Lalu mas Rio menaiki anak tangga dan tak lama kemudian turun lagi dengan membawa kunci mobil ditangannya.


"Sejal tadi saya tidak melihat Sam,apa dia tidak dirumah?"Tanyaku saat melihatnya turun dari anak tangga terakhir,lalu ku masukka hape kedalam tas dengan buru-buru.


"Kenapa,kangen!"


"Iya! memangnya kenapa? tidak boleh!"


Tanyaku sambil berjalan keluar menuju mobil.


"Tunggu!"


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2