Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Dasi


__ADS_3

"Kalau seumpamanya,ini baru seumpamanya aja nih dek.


Seumpamanya Jesika beneran jadian sama pak gurumu itu....


"Stop! nggak usah dibahas lagi."


Segera kupotong kalimat yang terucap dari bibir kak Rendi sebelum pembahasannya jadi kemana-mana.


"Oke,oke..."


"Bisa kan perjalanan kita teruskan?!"


Pintaku dengan nada jengkel.


"Siap tuan putri,hehehe."


Guraunya lalu kembali melanjutkan perjalanan,selama perjalanan kami hanya saling diam membuatku semakin lama merasa mengantuk karena efek kenyang,suasana didalam mobil yang tenang diiringi alunan musik lagu jaz yang diputar kak Rendi serta dinginnya AC membuatku terlena dan tanpa sadar mulai terlelap.


Rasanya tidurku begitu nyenyak bahkan hingga tubuhku yang sudah berpindah ketempat tidurpun aku tak tau.Saat terbangun tiba-tiba saja aku sudah berada didalam kamarku dan terbaring diatas tempat tidurku yang nyaman.


Mungkin kak Rendi yang menggotongku dari mobil ketempat tidur,pikirku.


Tapi kalau kak Rendi yang menggendongku.....apakah benar kak Rendi hanya menggendongku?mengingat kembali perlakuan kak Rendi padaku yang tak biasa membuatku mulai takut padanya.


Saat ku keluar dari kamar dan sudah bersiap untuk sarapan sebelum berangkat kesekolah kebetulan kak Rendi juga keluar dari kamarnya.


Aku sudah siap dengan seragam putih abu-abuku yang biasa kukenakan dihari Senin,sedangkan kak Rendi nampak gagah dengan setelan jasnya.


"Kenapa liatin kakak kayak gitu dek?"


Kuhentikan langkahku dan sejenak memperhatikannya karena menurutku ada yang aneh.


"Dasinya tuh nggak rapi."


Ucapku sambil kembali melanjutkan langkahku hendak menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Eit,sini dulu."


Kak Rendi menarik tanganku hingga tubuh kami saling berhadapan,serta wajah kami begitu dekat.


"Bantuin kakak benerin dasi."


Pintanya sambil menuntun tanganku dan diarahkannya kedada supaya aku fokus kedasi yang menggantung dilehernya.


Dengan terpaksa kudongakkan kepalaku dihadapannya karena tinggi tubuhnya yang melampauiku dan kuletakkan kedua tanganku didadanya untuk membantu merapikan dasiny.


"Sudah kak."


Ucapku sambil membalikkan tubuhku membelakanginya berniat meninggalkanny.


"Makasih ya dek."


Bisiknya mendekat kearah telingaku yang terbungkus hijab.


Tanpa menjawab aku hanya berlalu menuruni anak tangga menuju meja makan dan kak Rendi mengikutiku dari belakang.


"Sarapannya agak cepet ya dek,pagi ini kakak ada meeting dengan klien penting soalnya."


"Kalo aku naik ojek aja gimana kak?"


"Jangan! nanti kamu kenapa-kenapa kakak yang diomelin mama papa."


"Nggak papa daripada kakak telat ,nanti buru-buru dijalan kan bahaya."


"Nggak papa masih keburu kok,asal jangan lelet aja kamu sarapannya."


"Nggak lelet kok yang penting kenyang,hehehe."


"Non,mau bawa bekel nggak? biar bibi siapin."


" Nggak usah bi."

__ADS_1


Jawabku sambil menenggak susu dihadapanku sampai habis lalu kulahap roti ditanganku sampai habis.


Memang sejak setelah aku sakit,mama selalu menyiapkan bekel untukku setiap kali kesekolah agar aku tak jajan sembarangan dan tidak telat makan lagi.Segera kusambar tas sekolahku dan bergegas keluar menuju mobil karena kak Rendi sudah siap di mobil.


Karena aku nggak mau membuatnya mengomel nantinya.


Segera kak Rendi melajukan mobil dengan kecepatan full agar segera sampai di sekolahku dan tidak terlambat meeting pagi ini.


Sesampainya disekolah segera aku berlalu meninggalkan kak Rendi setelah mencium punggung tangannya,kulangkahkan kakiku menuju gerbang pintu masuk sekolahku.


Saat aku masuk keruang kelas tak kudapati Jesi,mungkin dia belum datang pikirku.


Tapi bukankah sebentar lagi kelas akan dimulai,kenapa Jesi belum datang?


"Din,Medin, Medina......!"


Aku sedikit berteriak setengah berbisik pada Medina karena tak mau membuat kelas terdengar gaduh oleh teriakanku.


"Apa?"


Jawabnya datar sambil menoleh kearahku.


"Jesi nggak datang?atau telat kali dia ya?"


Tanyaku padanya.


Seketika Medina menggeser tubuhnya untuk duduk dusebelahku tepatnya ditempat duduk Jesi.


"Kayaknya Jesi hari ini nggak masuk."


"Hah! kenapa?"


"Emang kemaren kamu nggak tau? Jesi nggak ngabarin kamu?"


Ucap Medina dengan wajah serius.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2