Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Panggilan baru


__ADS_3

Aku begitu terkejut saat mendengar perkataan pak Mario barusan.Benarkah yang di ucapkan tadi padaku?


"Maksudnya bagaimana ya pak?"


"Ya kalau sampai dalam satu tahun kamu tidak mencintaiku dan merasa terpaksa menerima perjodohan ini,kamu boleh minta pisah dariku."


"Apa menurut bapak....


"Bapak lagi....."


"Lalu harus panggil apa?"


"Mmmmmm,mas Rio boleh."


"Hah?!"


"Mas!"


"Iya saya dengar,cuma terkejut saja. Apa menurut anda,kakak saya akan berhenti mengejar saya jika saya menikah dengan anda?"


"O....jadi kamu menerima perjodohan ini hanya untuk menghindari kakak kamu?atau untuk memenuhi permintaan orang tua Rosa?"


Aku hanya diam menunduk.


"Makanannya dihabiskan dulu."


"Baik."


Kami melanjutkan kembali menyantap makan malam sampai selesai dalam diam.


"Sudah selesai makannya?"


Aku hanya mengnggukkan kepala tanpa bersuara.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang di bicarakan,kita pulang."


Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepala tanpa berani membuka suara sepatah katapun.


"Jadi kamu mau kita pura-pura hanya untuk membohongi kakak kamu?"

__ADS_1


Tanyanya saat kami sidah didalam mobil yang masih terparkir di depan cafe


Aku masih terdiam sambil menundukkan kepalaku dihadapan pak Mario,aku takut dia akan marah padaku.


"Kenapa cuma diam saja? kita kan sedang berdiakusi."


"Maaf pak,saya nggak bermaksud mengecewakan bapak apa lagi sampai membuat bapak marah."


Jawabku tanpa berani mengangkat wajah.


"Marah? saya akan sangat marah jika kamu terus menerus memanggilku pak!"


Pak Mario mendegus.


"Maaf mas,maaf!"


"Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


Pak Mario memandangiku seolah seperti harimau mengintai mangsanya,membuatku semakin takut padanya.


"Rencananya bagaimana? saya sudah tau kamu pasti akan memerima perjodohan ini dengan terpaksa demi membantu Rosa supaya dekat dengan kakakmu."


Pak Mario tersenyum melihat wajahku terlihat saat aku sedikit melirik kearahnya.


"Sebenarnya kamu itu punya perasaan yang bagaimana pada kakak kamu itu? sebelum dan sesudah kamu mengetahui bahwa dia bukan kakak kandung kamu?"


Tanya pak Mario sambil melajukan mobil sedan yang kami tumpangi saat ini.


"Perasaan saya tidak pernah berubah sampai saat ini,tetap sama dan tidak pernah berubah sama sekali sejak dulu."


"Jadi kamu tidak mencintai dia layaknya seorang pria dan wanita dewasa pada umumnya?"


"Tidak."


"Kalau sama aku?"


Aku terdiam sejenak,memikirkan kata-kata yang pantas namun tak menyinggung perasaannya.

__ADS_1


"Bingung mau jawab apa ya? hahahaha."


"Saya....tidak berani menyimpulkan secepat itu mas,maaf."


"Lalu sama Roi?"


"Kami cuma teman biasa."


"Tapi dia pernah menyatakan cintanya sama kamu kan?"


"Bapak,Mas tau dari mana?"


"Banyak yang sudah saya tau dari kamu,juga tentang kamu yang juga pernah mengidolakan saya sejak masuk SMU.hahahhaha...."


Apa! sedetail itu pak Mario tau tentang aku,sedangkan aku tak tau apapun tentangnya.Selama ini informasi tentang kehidupan pribadi pak Mario begitu tertutup rapat bahkan tak ada seorangpun yang bisa menelusuri bahkan sosial medianya sekalipun.


"Kalian sempat pacaran?"


"Nggak."


"Tapi waktu itu kalian jalan berdua hampir seharian."


"Saya menolaknya karena memang tidak mau pacaran."


"O....maunya langsung menikah? Sama aku?"


Sontak pertanyaan pak Mario membuatku malu sekaligus geram.


"Kalau tidak mau pacaran,kok kalian jalan bareng? hampir seharian lagi."


"Sebenarnya waktu itu kami jalan bertiga dengan Jesika,tapi setelah makan siang Jesi pulang lebih dulu karena sakit perut."


"Hmmhh,Jesika! pintar sekali alasannya sakit perut."


"Maksudnya pak? eh maksudnya mas."


"Untungnya waktu itu Roi tau aku mengikutinya,jadi dia nggak berani macam-macam sama kamu seperti yang hampir dia lakukan pada Medina."


Pak Mario terdiam namun terlihat sangat geram dari perkataannya.

__ADS_1


"Maksudnya?"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2