Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Hanya Guru SMU


__ADS_3

Mas Mario memandangku dengan wajah bingung.


"Kamu kenapa! aku kan hanya tanya,kamu ngapain!"


"Tadi saya cuma mau bilang nunggu di ruang tamu saja,tapi mas ternyata tidur."


Jawabku berusaha menjelaskan supaya tak terjadi kesalah pahaman.


"Kenapa!"


"Saya.....merasa tidak nyaman karena kita hanya berdua disini."


"Takut sama saya?"


Aku hanya terdiam menundukkan wajah tanpa berani menjawab apalagi memandang wajahnya.


"Kenapa menunduk! takut melihat wajahku? atau karena sudah puas memandangku ketika tertidur tadi!"


"Hah!"


DEG!


Kenapa tebakannya tepat sekali? apakah sebenarnya sedari tadi dia cuma pura-pura tertidur dan diam-diam mengelabuiku.


"Mas Rio.......tadi,pura-pura tidur?"


"Huh! Dasar!"


Hanya itu yang dia ucapkan sambil berlalu menuju pintu depan,dan begitu aku mengikutinya dari belakang ternyata diluar sudah ada semua anggota keluarga mas Rio sudah kembali.


"Eh......ada Rara,kalian sudah makan sayang?"


Tanya tante Sarah sambil meletakkan tas yang di tentengnya di atas sofa.


"Sudah tante."


"Kamu sudah dari tadi disini Ra?"


Tanya kak Reina.


"Mmmmmm,baru ......."


"Sudah hampir satu jam kak,aku aja sampe ketiduran! hooooaaah!"


Jawab mas Rio memotong perkataanku sambil sesekali menguap dengan menutup mulutnya.


"Hah! ka....kalian.....?"


Kak Reina memandang kearah mas Rio dengan tatapan curiga.

__ADS_1


Sedangkan aku lebih memilih bermain dengan Zarra dari pada ikut campur urusan antara kakak dan adik.


"Apaan sih kaaaak!"


"Kamu nggak diapa-apain kan Ra,sama si Rio?!"


Kak Reina mendekat kearahku yang sedang main sama Zarra.


"Ngg? nggak kok kak,tenang saja.Aman! hehehe"


"Kamu serius sudah makan Ra?"


Tanya tante Sarah lagi padaku.


"Sudah kok tante,beneran."


"Rio?"


Tanyanya lagi padaku.


"Sudah juga tante,tadi sekalian makan siang dirumah saya tante."


"Kak,tadi habis pada dari mana sih?"


"Habis keluar sebentar,makan siang habisnya yang punya rumah nggak ada,nggak masak dan nggak ada bahan masakan juga."


"Emangnya kalau di rumah ada bahan masakan,kalian bakalan masak?"


"Nggak!"


Jawab kak Reina dengan cepat,singkat dan jelas.


"Ra,kamu bisa masak?"


Tanya kak Reina padaku.


"Hehehe....masak ya? ng......"


Aku merasa ragu saat akan menjawab dengan jujur karena ada tante Sarah juga yang pasti akan ikut mendengar jawaban dariku nanti.


"Perempuan itu nggak harus pinter masak,kalau nggak ada yang disuruh masak beli aja! kan gampang?"


Celetuk tante Sarah seolah memberiku angin segar ditengah kegerahan serta kepengapan.


"Ya Ampuuuuun! apa memang sudah takdir,semua perempuan didalam keluargaku tidak pandai memasak?"


Mas Rio menepuk jidatnya sambil menyandarkan kepala pada senderan sofa.


"Kak,memangnya tante Sarag nggak mempermasalahkan jika menantunya tidak bisa masak?"

__ADS_1


Bisikku pada kak Reina,justru disambut dengam gelak tawa kak Reina.


"Ahahahahhahaha,mami......! calon menantumu ini tidak pandai memasak,bagaimana ini mam?!"


Aku benar-benar merasa sangat malu karena kak Reina justru menertawakanku didepan semua anggota keluarga calon suamiku.


"Reina....!"


Tante Sarah memelototkan mata kearah kak Reina yang berada disampingku.


"Maaf,maaf kakak hanya bercanda ngga bermaksud menertawakanmu Ra."


Ucap kak Reina sambil memelukku.


"Mami saja tidak bisa masak dan hampir tidak pernah masak."


Kata kak Reina.


"Ngapain capek-capek masak,kalau dirumah....."


"Ehem! Mam......!"


Mas Rio memotong perkataan tante Sarah,aku merasa aneh karena tante Sarah tidak jadi meneruskan perkataannya.


"Dirumah ada pembantu kayak dirumah kamu Ra...."Kata kak Reina melanjutkan.


Tante Sarah pamit meninggalkan kami menuju lantai atas dengan menaiki anak tangga untuk berberes dan mengemas barang-barang untuk persiapan pulang sore ini,sedangkan mas Rio pamit ketoilet.


Aku dan kak Reina lebih memilih bermain dengan Zarra.


"Ra....kamu tidak keberatan kan jika nanti kalian sudah menikah dan Mario hanya berprofesi sebagai seorang guru SMU?"Tanya kak Reina padaku.


"Nggak kak,saya tidak pernah mempermasalahkannya."


Kugelengkan kepalaku.


"Kamu nggak malu kan?"


Tanya kak Reina lagi padaku dengan wajah serius.


"Kenapa harus malu kak?"


"Kamu kan anak seorang pengusaha,cucu dari keturunan Anggara.Sedangkan Rio itu cuma guru."Suasana seketika menjadi hening seoalah semua ingin mendengar jawabanku.


"Saya percaya,bahwa pilihan orang tua saya sudah tentu pasti terbaik untuk saya kak."


"Kamu.....ikhlas?"


"Demi bakti saya pada orang tua."

__ADS_1


Jawabku sambil menundukkan wajah,kak Reina memelukku.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2