Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Medina dan Samuel


__ADS_3

Hari semakin sore saat kami dalam perjalanan pulang ditambah cuaca yang mulai mendung membuat jalanan nampak lebih gelap dari seharusnya.


Aku terbangun dari tidurku ketika rintik-rintik hujan mulai membasahi seluruh kaca mobil yang kami tumpangi sedangkan Medina masih nampak pulas terlelap dengan posisi terduduk karena lelah.


"Ingat Sam,jangan macam-macam padanya jika kamu benar-benar menyayanginya!"


Ucap mas Rio terdengar sedang mena sehati Samuel yang ada di sampingnya.


"Tapi dia yang mengejarku,bukan aku yang ingin bersamanya!"


Jawab Samuel datar.


"Kalau kamu tidak menyukainya lalu kenapa kalian pacaran!"


Tanya mas Rio terdengar kesal.


"Aku tidak tega menolaknya kak,dia seperti begitu menyukaiku....!"


Jawab Sam dengan percaya dirinya,sepertinya mereka sedang membicarakan Medina.Aku kembali memejamkan mata dan pura-pura kembali tertidur sambil mendengarkan obrolan mereka.


"Alasan kamu! ingat,jangan samakan gadis polos ini seperti wanitamu yang lain diluar sana,dia gadis ya baik Sam! kasian keluarganya jika kamu merusaknya,dan lagi dia adalah sahabat istriku!"


Ancam mas Rio pada Samuel.


"Iya,iya.....aku tidak akan macam-macam padanya seperti si bodoh Roi itu!"


Jawab Samuel.


"Ingat,jangan merusak jika kamu tidak mampu menjaga!"


Ucap mas Rio berusaha mengingatkannya kembali.


"Iya,iya...! cerewet sekali seperti mama.Kakak sendiri beli begituan buat sama Rara,kenapa aku tidak boleh dengannya!"


Protes Samuel pada mas Rio dengan kesal.


"Bodoh! kami ini sudah menikah,sedangkan kamu jadinya zina! dosa besar!"


Jawab mas Rio kesal namun tetap berusaha sabar menghadapi Samuel.


"Yang penting tidak hamil kan tidak masalah kak!"


Ucap Samuel dengan santainya tanpa menyadari kekeliruan dan kesalahan dalam ucapannya barusan,ingin rasanya kutonjok mulutnya.


"Tidak boleh! kalau cuma nyoba dikit nggak sampe....."


"TIDAK!"


Jawabku dan mas Rio bersamaan sedikit membentak Samuel.


"Eh.....ada yang nguping ternyata!"


Ucap Samuel menoleh kearahki dan Medina yang masih terlelap.


"Kamu kenapa jahat sekali Sam! aku tidak menyangka kamu ternyata...."


Aku urungkan melanjutkan ucapanku pada Samuel karena Medina sudah mulai membuka mata dan terbangun.


"Sudah sampai ya Ra?"


Tanya Medina dengan suara serak khas bangun tidur sambil mengucek pelan matanya sendiri.


"Belum sayang....masih jauh,kamu tidur saja lagi kalau masih mengantuk."

__ADS_1


Ucap Samuel lembut pada Medina yang sepertinya sudah tidak lagi mengantuk.


"Mau minum?"


Tanya Samuel menawarkan sambil menyodorkan dua botol minum untuk kami berdua.


Aku menerimanya dengan kasar dari tangan Samuel karena masih merasa kesal padanya.


Jika suatu saat ada kesempatan ingin kutanyakan semua pada Samuel tentang sejauh mana hubungan mereka berdua.Aku tidak mau hal serupa yang menimpa Jesika terjadi pada Medina juga bahkan pada diriku sendiri.


"Kak,nanti biar Medina aku saja yang antarkan pulang ya kalian istirahatlah!"


Usul Samuel pada mas Rio sekaligus meminta izin meminjam mobilny untuk mengantarkan Medina pulang kerumahnya karena hujan.


"Tidak! kita antarkan Medina pulang lebih dulu saja kerumahnya!"


Jawabku dengan cepat,karena aku mulai takut jika Samuel akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Medina jika mengantarkannya pulang nanti.


"Baiklah.....!"


Jawab Samuel pasrah,sedangkan Medina masih nampak bingung dengan sikapku pada Samuel yang terdengar ketus sejak tadi.


Akhirnya kami semakin dekat dengan arah jalan pulang,mas Rio segera melajukan mobil menuju kearah rumah Medina sesuai permintaanku.


Hujan masih turun dengan deras saat kami sampai di depan rumah Medina.Samuel mengantarkan Medina untuk masuk kedalam rumah dengan memayunginya.


Mereka nampak kebingungan karena mendapati rumah Medina kosong dalam keadaan terkunci.


Akhirnya mereka kembali kedala mobil karena tidak Medina tidak dapat masuk kedalam rumah,menunggi sendirian diluarpun juga tidak mungkin.


"Kenapa Din?"


Tanyaku penasarn Medina dan Samuel kembali masuk kedalam mobil.


"Rumahnya kosong,kayaknya pada pergi semua."


"Sudah di telfon?"


Tanyaku padanya.


"Hapeku low bat Ra!"


Jawab Medina dengan wajah cemas.


"Aku pulang kerumah kamu dulu ya Ra?"


Pinta Medina padaku yang tidak langsung kujawab karena jika Medina melihat kamarku maka dia akan terkejut dan langsung akan tau jika aku dan mas Rio sudah tinggal serumah bahkan sekamar.


"Kita semua kerumahku saja dulu!"


Jawab mas Rio lalu melajukan kembali mobilnya menuju rumah kebanggaannya.


Kenapa malah membawa kami kerumahnya? bukan membawa kami kerumahku saja!


Batinku kesal.


Sesampainya dirumah mas Rio kami segera masuk karena hujan belum juga reda dan angin mulai berhembus sangat kencang membuat hawa dingin diluar semakin tidak nyaman jika berlama-lama diluar rumah.


"Duduk dulu Din!"


Aku segera masuk dan membuatkan minuman hangat utuk kami semua,sedangkan mas Rio segera naik dan masuk ke kamarnya.


Medina duduk di sofa ruang tamu ditemani oleh Samuel yang juga duduk di sampingnya.

__ADS_1


Awalnya Medina hendak ikut denganku kedapur untuk membuatkan minuman,namun aku melarangnya dan menyuruhnya istiraht saja dulu sambil mengisi daya pada ponselnya serta menunggu jika ada kabar dari keluarganya dirumah.


Mas Rio menghampiriku dan langsung memelukku dari arah belakang saat aku sedang sibuk membuat teh hangat untuk semuanya.


"Bikin apa sayang?"


Bisiknya ditelingaku sambil tangnnya memeluk tubuhku.


"Bikin teh hangat,singkirkan tanganmu nanti kena air panas lho!"


Jawabku sambil memperingatkannya agar menyingkir.


"Setelah ini hangatkan aku.....!"


Pintanya dengan bermanja padaku seperti anak kecil merengek meminta sesuatu.


"Didepan ada Medina,jangan macam-macam!"


Ancamku padanya sambil hendak berjalan menuju ruang tamu membawakan minuman hangat untuk Medina dan Samuel juga.


"Aku tadi melewati mereka dan tidak sengaja ...."


Mas Rio menghentikan ucapannya lalu mencium lembut bibirku.


"Maksudnya?"


Tanyaku bingung karena tidak mengerti apa maksud dari perkataannya.


"Mereka sedang....."


"Berciuman?!"


Tanyaku dengan membulatkan mata seakan tak percaya.


Mas Rio hanya menjawab dengan anggukan pelan.


"Kenapa dibiarkan saja! kalau mereka khilaf bagaimana?"


Aku segera menyambar toples berisi camilan dan kusodorkan kedepan mas Rio lalu berjalan pelan menuju ruang tamu sambil membawa baki berisi empat gelas teh hangat.


"Mas,tolong bantu aku bawakan camilannya ya!"


Teriakku pada mas Rio yang sudah membawa toples beriisi camilan berjalan pelan disampingku.


"Kenapa harus berteriak? aku kan...."


Tanya mas Rio padaku.


"Ssst! biar mereka tau kita akan kesana."


Bisikku padanya.


Saat kami sampai diruang tamu Medina dan Samuel sedang duduk berdekatan dengan canggung saat melihat kearah kami berdua.


"Sam.....dibibirmu......kenapa ada noda lipstik?"


Tanyaku pura-pura polos,membuat Medina gelagapan dan merasa malu serta salah tingkah melihat tatapan wajahku.


Kuletakkan baki berisi empat gelas teh hangat diatas meja lalu perlahan kudekati Medina.


"Din? kalian tidak habis melakukan apapun kan?"


Tanyaku menelisik berusaha menginterogasinya,mas Rio berusaha mencegahku dengan menarik tanganku saat aku berjalan mendekat kearah Medina justru membuatku terjungkal dan jatuh menimpa tubuhnya tepat diatas sofa panjang.

__ADS_1


Adegan dewasa yang tanpa sengaja terjadi dihadapan Medina dan Samuel yang harusnya tidak melihat adegan ini mesti tanpa sengaja.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2