
'Tok,tok,tok'
"Jes.....Jesi....Jesika....,ini kami Jes....Rara sama Medin."
Kataku sambil beberapa kali mengetuk pintu kamarnya.
Hening,tak ada sahutan sama sekali dari dalam.
"Jes,buka pintunya Jes!"
Medina ikut memanggil-manggil namanya.
"Jes....ayolah Jes.....buka pintunya."
Bujukku lagi sambil kami ulangi beberapa kali mengetuk pintu kamarnya lagi.
"Jes.....!"
"Siapa?!"
Jawabnya dari dalam.
"Jesi,itu suara Jesi dari dalam."
Bisik Medina padaku.
"Iya aku juga denger,itu memang suara Jesi."
Bisikku balik padanya.
"Ini Kami Jes,Rara dan Medin!"
"Rara? Rara siapa? Medin siapa juga itu?!"
Teriaknya seperti sudah dekat dengan pintu.
"Masa kamu lupa sama kami Jes! ini aku Medina,kita kan temen satu kelas Jes!"
Jawab Medina.
"Medina? Sama Maura?!"
"I,iya Jes! Kamu inget kami kan?"
"Masa aku lupa sama kalian? kalian tuh yang lupa sama aku!"
__ADS_1
Ucapnya sambil membukakan pintu untuk kami,tampak kesal dengan mata sembab dan tisu berserakan kemana-mana.
Sepertinya jika terlambat lima menit saja datang kemari mungkin kamar ini akan berubah menjadi gunung tisu.
"Jes....."
Kupeluk Jesi dan Medina ikutan mendekat dan kami berpelukan.
"Kita kayak Teletubies ya....."
Kata Jesi,membuatku terkejut karena disuasana kayak gini masih bisanya dia melucu membuat kami jadi tertawa bersama sambil menangis bersama juga.
"Maaf ya Jes,kemarin aku buru-buru balik."
"Iya,aku ngerti kok.Betewe,gimana keadaan Nenek kamu sekarang?"
"Udah membaik sih,tapi masih perlu perawatan dirumah sakit."
"Semog cepet sembuh ya nenek kamu."
"He'emh,mksh ya Jes do'anya.Sory.....banget kemaren aku nggak ada buat kamu,saat....."
"Nggak papa kok,kamu dan kakakmu benar."
Aku mengernyitkan dahi karena merasa bingung,apanya yang benar? pikirku.
"Itu usul kakakku Jes."
"Apa kakakmu sudah bisa memperediksi kalau aku bakalan ditolak Ra?"
Aku hanya mengangkat kedua bahuku tanda ketidak tahuanku.
"Hik,hik,hik,hwaaaaaaaaaaa......aku nggak terima! masa aku ditolak,emangnya aku ini kurang cantik ya?!" hwaaaaaa....!"
"Jes.....udah dong Jes....jangan nangis lagi.....cowok kan nggak cuma pak Mario saja Jes....!"
Bujukku berusaha menenangkannya.
Kupeluk tubuh Jesi yang masih berbalut gaun yang sama seperti saat acara ulang tahunnya kemarin.
"Jes.....?"
"Hmmmmm,apa Ra?"
"Kamu......sejak dari kemaren nggak makan?"
__ADS_1
"Nggak,aku nggak nafsu makan!"
"Nggak mandi juga? kok baju kamu.....belum ganti?"
Jesi spontan melihat ketubuhnya sendiri yang dibalut gaun cantik berwarna ungu,sambil nyengir kearahku dan Medina.
"Hmmmm,pantesan bau acem!"
Ucap Medina sambil melirik kearahku,sedangkan aku hanya senyum dengan tingkah kedua temenku.
"Kamu nggak laper Jes?"
Tanyaku,berusaha memancingnya agar mau makan.
"Nggak nafsu makan!"
Jawabnya ketus,sepertinya dia masih kesal.
"Kita makan yuk Jes.....aku laper nih,temenin makan yuk!"
"Ra,kamu kesini mau minta makan? nggak sopan tau Ra makan dirumah orang!"
Tanpa menjelaskan apapun hanya ku kedipkan sebelah mataku kearah Medina,sedangkan Jesika nampak bingung memandang kearah kami.
"Sebenarnya aku laper juga sih...tapi males mau makan,nggak nafsu.Aku lagi patah hati tauuuuuuu!"
"Iya,iya kita ngerti tapi dengan menyiksa diri begini nggak akan membuat pak Mario jadi mau sama kamu kan?"
Ucapku kembali memancing.
Jesi terdiam seolah sedang berfikir.
"Emangnya apa alasan pak Mario kemaren menolakmu?"
"Nggak jelas alasannya,dia cuma bilang padaku...."
'belajar yang rajin dan raih cita-citamu,kehidupanmu masih panjang dan jangan mengharapkan saya.'
Jesi menirukan perkataan pak Mario
"Cuma gitu dia bilang"
"Yaudah deh Jes,kita cari cowok lain aja yang lebih kece dari pak Mario."
Medina memberi usul dan menurutku masuk akal juga.
__ADS_1
Bersambung.....