
Untuk menjawab rasa penasaran Yasmin ku perkenalkan kedua lelaki yang bersamaku.
"Oh iya Yas aku lupa ngenalin mereka ke kamu ya, kenalin ini namanya mas Rio suami aku dan yang satunya lagiiii...."
"Kenalkan,nama saya Frans panggil saja Pras." tiba tiba pak Pras memotong perkataanku dan langsung memperkenalkan dirinya pada Yasmin,sontak membuat aku dan mas Rio saling pandang dengan bingung karena pak Pras tak pernah seperti ini sebelumnya.
Pak Pras yang selama ini kami kenal sangat dingin dan cuek terutama pada perempuan, kini entah kenapa mendadak jadi agresif dan terlihat sangat aneh.
"Yasmin," jawab Yasmin sambil menjabat uluran tangan pak Pras.
"Bagai mana keadaanmu sekarang? apakah ada yang sakit atau terluka?" tanya pak Pras memberondong pertanyaan membuat Yasmin bingung.
"Maaf saya telah membuatmu celaka,dan maaf tadi tanpa sengaja saya mendengarkan pembicaraan kalian, dan soal ayah dari anak yang sedang kamu kandung saat ini.....saya rela bertanggung jawab." pak Pras dengan tegas mengucapkannya tanpa beban dan paksaan sama sekali.
Aku dan mas Rio semakin bingung dan terkejut sama halnya dengan Yasmin yang mendengar penuturan pak Pras barusan.
"Tapi saya....."
"Sudah tidak apa apa,anggap saja sebagai bentuk pertanggung jawaban saya karena telah menabrak anda." ucap pak Pras lagi berusaha meyakinkan Yasmin.
"Menabrak?!" tanya Yasmin bingung melihat kami bertiga secara bergantian.
"Iya maaf tadi tanpa sengaja saya yang kurang berhati hati saat mengendarai mobil menyenggol anda yang hendak menyeberang, maaf karena saya yang kurang fokus dan kurang berhati hati." ucap pak Pras sambil tertunduk lalu diam.
"Tapi kenapa di tubuh saya tidak ada luka lecet sedikitpun? Dan saya juga tidak merasakan sakit, saya merasa sedang baik baik saja sekarang." tanya Yasmin bingung.
__ADS_1
Dan justru aku dan mas Rio tidak berfikir bahkan sampai kesana,benar juga apa kata Yasmin karena dia tidak mengalami luka apapun pada dirinya lecet sedikitpun tidak.
"Tadi itu....saya langsung mendadak ngerem lalu tiba tiba kamu terjatuh,mungkin karena syok hampir tertabrak jadi langsung pingsan" jawab pak Pras dengan kaku dan justru entah kenapa perkataan pak Pras justru membuatku jadi merasa ganjal dan mencurigakan.
Yasmin belum bisa mengiyakan keputusan pak Pras yang secara tiba tiba akan bertanggung jawab atas kehamilan Yasmin,pasalnya bukan pak Pras orangnya yang membuat Yasmin seperti ini sekarang jadi kenapa pula harus pak Pras yang bertanggung jawab.
Kami bertiga menginap di rumah sakit menemani Yasmin setelah meminta izin kepada kedua orang tuaku bahwa kami akan menginap lagi di rumah mas Rio tentunya agar mereka tidak panik.
Kami sengaja merahasiakan keberadaan Yasmin untuk sementara waktu agar keberadaannya tidak diketahui oleh orang tuanya sementara waktu,kalau orang tuaku tau mereka pasti akan memberitahukan keberadaan Yasmin pada orang tuanya.
Kami sempat berbincang hinga larut dan kedua pria yang juga menemani kami kini sudah tertidur pulas di sofa berduaan dengan posisi yang kurang nyaman yaitu tidur dengan posisi duduk di sofa. Betapa lelahnya mereka dan kini tertidur dengan posisi yang tidak senyaman biasanya.
Pagi harinya setelah sarapan dan memastikan keadaan Yasmin mulai pulih kami putuskan untuk pulang tentunya tanpa Yasmin. Kami tinggalkan Yasmi dengan di tunggui oleh pak Pras sedangkan aku dan mas Rio harus pulang kerumah mama karena memang mama yang meminta kami pulang kesana untuk suatu keperluan.
Setelah hari agak sore kami berpamitan kembali kerumah mas Rio,dan yang sebenarnya kami kerumah sakit menemui Yasmin dan pak Pras yang tadi sempat memberi kabar bahwa keadaan Yasmin sudah membaik dan besok sudah bisa dibawa pulang dengan catatan harus banyak istirahat.
Kami pun berniat bermalam kembali di rumah sakit untuk menemani Yasmin. Kami sempatkan mampir ke toko pakaian untuk membelikan beberapa potong pakaian ganti untuk Yasmin karena saat ini hanya pakaian yang melekat ditubuhnya lah yang dia miliki.
Memang kami menemukan Yasmin tanpa membawa apapun di tepi jalanan yang sepi,bahkan aku hampir tak mengenalinya kemaren.
"Mas," panggilku pada mas Rio yang mengintiliku dari belakang sambil membawakanku paper bag berisi belanjaan.
"Apa sayang?" jawabnya dengan mesra sambil memeluk pinggangku untuk menggodaku saat kami sampai di parkiran dan pintu langsung dibukakan untukku.
"Iiiih aku serius...!" ucapku kesal.
__ADS_1
"Aku juga serius,sayang" jawabnya lagi lalu menutup kembali pintu mobil untukku.
"Mas,kira kira kenapa ya kok tiba tiba pak Pras mau bertanggung jawab dengan kehamilan Yasmin? Parahal kan bukan dia yang melakukannya." aku masih menimbang nimbang dalam pikiranku tentang keputusan pak Pras atas diri Yasmin.
"Entahlah sayang, mngkin Pras iri dengan kita lalu ingin segera menikah." jawab mas Rio terdengar asal asalan sambil fokus menyetir mobil yang kami tumpangi.
"Masa sih mas,cuma itu alasannya?" tanyaku penasaran sambil melihat kesekeliling jalanan melalui kaca jendela mobil saat mobil yang kami tumpangi mulai memasuki area rumah sakit.
Kami pun memasuki area parkir bagian depan rumah sakit. Mataku sekilas tertuju pada seorang ibu muda yang tengah hamil besar berjalan tartatih sambil memegangi perut dan salah satu tangannya berada di punggung. Nampak sang suami menuntunnya berjalan perlahan menuruni mobil pic up atau bak terbuka yang hanya bisa di tumpangi dua orang di depan sedangkan bagian belakang hanya boleh untuk mengangkut barang.
Dengan reflek aku ikut memegangi perutku yang masih rata, dengan tatapan mata yang tak lepas dari perempuan hamil tersebut.
"Kenapa?" tanya mas Rio melihat tanganku yang masih memegangi perut menirukan perempuan hamil yang kini mulai berjalan mendekati pintu masuk UGD tersebut bersama lelaki yang sedang bersamanya.
"Nggggg, nggak apa apa kok mas, hehehe" jawabku tersenyum lalu segera turun bersama mas Rio karena pintu mobil telah terbuka untukku.
Kaki kami melangkah keluar dari pintu lift menuju kamar dimana Yasmin kini dirawat.
Segera kami memasuki pintu di dalam ruangan tersebut,nampak dua pasang mata yang dengan canggung menoleh kearah kedatangan kami berdua.
"Kamu sudah makan Yas?" tanyaku sambil meletakkan bungkusan makanan yang sempat kami beli dalam perjalanan tadi menuju rumah sakit.
"Sudah kok Ra." jawab Yasmin tersenyum ramah,nampaknya Yasmin sudah mulai baikan bukan hanya kondisi tubuhnya saja namun nampak dari senyumannya yang lepas bahwa Yasmin sudah tidak lagi merasa tertekan.
BERSAMBUNG,
__ADS_1