
Segera kubuka pintu kamarku dan benar saja ada kak Rendi dan mas Mario tepat berada didepan kamarku.
"Sedang apa kalian?"
Tanyaku pada keduanya yang justru hanya saling pandang.
"Ngapain pada didepan kamarku?"
Tanyaku kembali pada keduanya.
"Nggak ada apa-apa!"
Jawab keduanya dengan kompak hampir bersamaan.
"Yakin? yaudah aku tutup lagi pintunya!"
Segera kututup kembali pintu kamarku dengan perlahan.
"Tunggu!"
Keduanya kembali kompak mengehentikanku.
"Kakak mau bicara!"
"Saya mau bicara!"
Ucap keduanya bersamaan,saat pintu kamarku belum benar-benar tertutup dengan rapat.
"Harus sekarang semua?"
Tanyaku pada keduannya dan yang ada lagi-lagi mereka berdua menjawab dengan kompak.
"Iya."Jawab keduanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalo gitu kita bicara bertiga biar adil ya!"
Usulku pada keduanya.
"Tidak perlu kalian bicara saja dulu berdua!"
Mas Mario berlalu meninggalkan kami menuju kamarnya kembali.
Aku dan kak Rendi kini berada di teras belakang,sambil memandang taman yang tak begitu luas namun nampak asri meski kini mama sudah tak banyak waktu merawatnya sejak nenek sakit.
"Kakak mau bicara apa?"
Tanyaku pada kak Rendi setelah kami duduk dengan nyaman.
"Tentang Rosa!"
Jawabnya pelan.
Tanyaku dengan penasaran.
"Aku begitu prihatin melihat keadaannya sekarang,meski kami sudah mantan tapi selama kami pacaran dia yang selalu mengerti aku sedangkan aku justru sering kali acuh seakan tak perduli dan sering kali mengabaikannya hanya demi keegoisan perasaanku sendiri."
"Jadi selama ini kakak tidak pernah mencintai kak Rosa!"
Kak Rendi menggeleng lalu menundukkan wajahnya.
"Aku benar-benar bodoh! selama ini aku telah menyia-nyiakan dia yang begitu menyayangiku.Sedangkan orang yang selama ini aku sayangi dan aku cintai justru hanya menganggapku tidak lebih dari saudara."
"Kaaaaak,maaf!"
"Kamu nggak salah dek,kakak yang salah.Hati kakak dibutakan oleh keegoisan."
"Lalu apa yang akan kakak lakukan?"
__ADS_1
"Keinginan terakhir Rosa adalah bersamaku,tapi dengan keadaannya sekarang......"
"Kenapa? kak Rosa berhak bahagia di sisa kehidupannya kak.Memang umur manusia hanya Allah yang tau,tapi bukankah selama ini kak Rosa begitu perduli dan juga begitu mencintai kakak!"
"Aku tidak yakin apakah yang kurasakan saat ini adalah rasa iba atau perasaan lain terhadapnya."
"Kakak mintalah petunjuk,Insya Allah kakak akan dapat jawaban yang terbaik."
"Huh! kamu bener juga dek.Apa kamu juga melakukan hal yang sama ketika akan menerima lamaran dari keluarga Rio?"
Aku hanya tersenyum lalu terdiam mengingat kembali ketika aku bersujud di sepertiga malam melaksanakan sunnah istikharah,untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT ketika tengah dilanda keraguan dalam menentukan pilihan kala itu.Meski sebenarnya aku masih belum begitu yakin setelah melaksanakannya,namun ketika ditengah acara saat aku harus menjawab untuk menolak atau menerima lamaran tersebut nyatanya dengan tenang serta lancar kuucapkan kata-kataku ketika itu seolah seperti ada yang mengarahkanku untuk menjawab 'Iya'.
'Ting!'
Bunyi nada chat masuk dari hapeku berbunyi.
Segera kugeser layar pada ponselku untuk segera membuka pesan yang masu,ternyata dari 'pak Mario'.
'Maaf untuk yang tadi,aku tidak ada maksud melakukan hal yang tak pantas padamu!'
Hanya kubaca pesannya dan tak kubalas,karena aku masih asyik mengobrol dengan kak Rendi.
'Kamu marah?'
Pesan kembali masuk dari pak Mario.
Masih tetap kuabaikan,hanya kubuka dan kubaca sekilas saja.
'Aku pulang!'
'iya.'Balasku singkat,tanpa memperdulikannya karena aku masih sangat kesal padanya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1