Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Zarra nempel terus


__ADS_3

Kulihat mas Rio hanya tersenyum ketika Samuel yang duduk didekatnya tak berhenti menggodanya.Rona bahagia nampak begitu jelas dari senyumannya yang tak hentinya mengembang yang tak pernah kulihat sebelumnya baik disekolah atau diluar sekolah,sedangkan aku sendiri seperti sedang berperang melawan segala kekhawatiranku sendiri.


Apa jadinya jika Jesi mengetahui hal ini? mungkinkah dia akan membenciku nanti? entahlah.


Setelah mendengar jawaban dariku secara langsung maka kedua belah pihak keluarga memutuskan sepakat akan melaksanakan pesta acara pertunangan kami secara resmi minggu depan,awalnya acara akan dilaksanakan disini namun orang tua mas Rio ingin kami gantian mengundang keluarga kami untuk berkunjung ke kediaman keluarga mereka.


Akhirnya keluargaku menyetujuinya,karena memang tidak ada salahnya jika pesta pertunangan dilaksanakan di kota tempat tinggal keluarga mas Rio.


Malam semakin larut,Zarra tertidur dipangkuanku karena sedari tadi memang merengek terus minta ku gendong.


Entah kenapa setiap kali kami bertemu Zarra selalu lengket sekali padaku sejak pertama kali kami bertemu ditaman yang saat itu kukira Zarra adalah anak pak Mario.


Sebenarnya sudah sejak tadi kak Reina berusaha mengambil Zarra dari gendonganku tapi Zarra seolah masih enggan lepas dari gendonganku bahkan setelah tidurpun kak Reina masih belum berhasil melepaskan Zarra dari pangkuanku.


Malam semakin larut kedua orang tua kami akhirnya menyudahi obrolan mereka,entah karena sudah sadar waktu atau mulai kehabisan bahan obrolan tapi sepertinya tidak mungkin karena obrolan mereka tak pernah ada habisnya.


Papaku dan om Dedi nampak begitu akrab mengenang pertenanan mereka semasa kecil hingga remaja,karena memang mereka sering kali diajak oleh papa-papa mereka jika ada kesempatan bertemu.


Namun ketika mereka mulai tumbuh semakin dewasa harus dipisahkan oleh jarak,ruang dan waktu karena keluarga Wijaya harus pindah karena suatu hal tapi kedua keluarga tersebut masih tetap berhubungan baik dan tetap mengingat janji mereka tentang perjodohan keturunan mereka kelak.

__ADS_1


Sepertinya Zarra tidur begitu lelap,kak Reina mendekat dan hendak mengangkat Zarra yang terlelap dipangkuanku namun Zarra malah terbangun dan menangis lalu kembali memelukku dan minta di gendong lagi padahal kak Reina dan keluarga sudah berpamitan untuk pulang fan Zarra malah masih tidak mau lepas dariku.


Akhirnya terpaksa aku harus ikut serta mengantar Zarra sampai kerumah mas Rio.


"Rio,biar mami dan papi sama aku aja ya kalian sama Zarra."


Kata kak Aldi suaminya kak Reina.


"Lho kok gitu kak?nggak bisa gitu dong!"


"Bisa...."


Jawab kak Aldi sambil membukakan pintu mobil untuk istri dan mertuanya dengan sopan.


Mas Rio membukakan pintu mobil untukku karena tanganku yang sedang menggendong Zarra kesusahan membuka pintu sendiri.


Aku segera masuk kedalam mobil,mas Rio segera memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil.


"Bisa pasang seatbelt nya?aku bantu ya?"

__ADS_1


Pak Mario berusaha membantuku memasangkan seatbelt karena tanganku terus di pegang oleh Zarra dan tak mau dilepaskan sama sekali.


"Eeeee......maaf,permisi ya!"


Mas Rio dengan canggung mendekatkan wajahnya kewajahku dan tangannya menarik seatbelt untukku.


Tiba-tiba kak Rendi mengetuk kaca pintu mobil yang kami tumpangi.


'Tok,tok,tok!'


'Srrrret!'


Mas Rio membukakan kaca yang di ketuk kak Rendi.


"Ada apa kak?"


Tanyaku.


"Barusan kalian ngapain!"

__ADS_1


"Hah?"Tanyaku dengan wajah bingung dan hanya saling pandang dengan mas Rio yang terdiam.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2