Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Rencana Jesika


__ADS_3

Kami lebih dulu mengantarkan Medina pulang kerumahnya,barulah giliranku.


"Ra,kira-kira momennya pas nggak sih kalo aku nembak pak Mario nanti pas di hari ultahku?"


Tanya Jesi padaku.


"Hmmmmm,gimana ya Jes?masa kamu yang nembak duluan gitu?"


Jawabku agak ragu,takut kalo jawabanku justru membuat Jesi marah lagi.


"Emangnya kenapa Ra? nggak boleh ya kalo cewek yang nembak?"


"Ngggg,ya.....nggak juga sih.cummmaaa...nanti kalo...."


"Kalo kenapa?kalo ditolak? hahahaaha..."


"Kok kamu ketawa Jes?!"


Tanyaku jadi penasaran.


Mendadal wajah Jesi berubah serius.


"Kalo ditolak aku dukuni aja!"


"Astagfirullah Jes."


"Hahaha,bercanda Ra."

__ADS_1


"Tapi masa iya pak Mario nolak aku? emang aku ini kurang apa?"


"Kan pak Mario itu guru kira Jes!"


"Nggak papa,aku pernah bac di novel tentang murid yang suka sama gurunya dan ternyata mereka berjodoh akhirnya menikah dan hidup bahagia."


"Tapi itu kan di novel Jes,bisa aja itu hanya fiktif dari penulisnya aja."


"Nggak ada salahnya kan mencoba Ra."


"Hmmmm,iya sih."


"Kamu.....nggak suka juga kan sama pak Mario Ra?"


"Hah! ngggg ngggak lah."


"Syukur deh,nanti kalo kami nikah nggak papa deh aku ikut agamanya pak Mario."


"Hah! serius kamu Jes?!"


Jesi hanya mengangguk dengan semangat,Jesi memang non muslim sedangkan setauku pak Mario itu muslim karena aku pernah lihat pak Mario kemushola sekolah untuk menunaikan sholat.


Soal biodata pribadi pak Mario memang sangat tertutup,bahkan tidak ada yang tau pasti status pak Mario itu single,punya pacar ataukah sudah berkeluarga.


Tanpa terasa mobil berhenti tepat didepan rumahku,aku bersyukur perjalanan kami tidak terlalu lama jadi aku tidak perlu berlama-lama mendengarkan Jesi menmbicarakan perihal pak Mario yang membuatku pening.


"Aku masuk dulu ya Jes,thanks ya buat semuanya hari ini."

__ADS_1


"Ok Ra,kapan-kapan kita jalan lagi ya...."


Aku hanya tersenyum sambil menunggu mobil Jesi berlalu baru aku bisa bernafas lega.


Aku segera masuk kedalam rumah,untungnya hari masih sore dan waktu maghrib masih lama aku langsung naik dan masuk kedalam kamarku untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi aku segera turun dan menuju dapur,kulihat disana sudah ada mama dan bibi sedang sibuk memasak untuk persiapan makan malam.Aku segera membaur untuk ikut membantu sebisaku,ternyata didapur juga ada bu Sum yang ikut membantu.


Aku memang lebih banyak bertanya tentang bantuan apa yang bisa aku kerjakan karena aku memang tidak terbiasa membantu didapur,hanya sesekali saja iseng ikutan ngrecokin mama kalo lagi masak.


Saat kami sedang sibuk menyiapkan makanan dimeja,nenek masuk keruang makan dengan dibantu oleh bu Sum.


"Ma,apa nenek sedang sakit?"


Tanyaku pada mama sambil berbisik.


Sedangkan mama hanya mengangguk tanda mengiyakan jawaban dari pertanyaanku.


Ternyata kedatangan nenek kerumah kami semata-mata untuk berobat karena kondisi kedehatannya yang mulai menurun,mungkin karena faktor usia yang membuat nenek mulai sering sakit-sakitan.


Selain agar lebih dekat dengan keluarga,pengobatan rumah sakit besar di kota tentunya akam jauh lebih baik jika dibandingkan dikota kecil yang mungkin peralatannya belum secanggih dikota besar.


Jujur mendengar kabar tentang kondisi kesehatan nenek membuatku merasa sedih dan prihatin,meski selama ini sikap nenek tidak begitu baik padaku namun bagaimanapun beliau tetaplah nenekku.


Setelah selesai makan malam kak Rendi bilang ada yang mau dibicarakan padaku,tapi aku harus membantu mama membereskan meja makan terlebih dahulu.Akhirnya kuminta kak Rendi untuk naik lebih dulu dan menunggu dikamarku.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2