Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kepergian nenek


__ADS_3

Sejak kami menikah hingga sekarang,pelukan atau sebuah ciuman yang mas Rio daratkan di kening hingga bibirku sudah mulai menjadi hal yang biasa dia lakukan padaku.


Meski aku masih merasa kurang nyaman dengan sikapnya namun kenyataannya aku juga tidak menolak dengan perlakuannya padaku,kecuali hal yang satu itu karena aku belum siap.


Aku begitu penasaran dengan perkataan mas Rio,kenapa dia berkata demikian? apakah dia akan meninggalkanku,atau dia akan pergi jauh untuk suatu keperluan.


"Apa maksudnya,kenapa mas bicara begitu?"


Tanyaku memberanikan diri bertanya karena aku tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak mendapapatkan jawaban atas rasa penasaranku.


Ternyata kemarin malam sesaat setelah selesai makan malam bersama kedua orang tua mas Rio dan juga bersama kak Reina dan kak Aldi juga mereka di ruang kerja membicarakan soal urusan kantor.


Papi meminta mas Rio untuk terjun kembali ke perusahaan,yang sudah seharusnya dengan dibatu oleh kak Aldi sebagai suami kak Reina.Papi tidak ingin kedua anaknya dibedakan,keduanya harus mengemban kewajiban yang sama serta mendapat hak yang sama.


Meski secara garis keturunan mas Rio adalah pewaris tunggal karena dia adalah satu-satunya cucu laki-laki dari keturunan keluarga Wijaya,namun papi ingin keduanya mendapatkan persamaan derajat tampa membedakan gender.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mas yang sekarang?"


Tanyaku padanya.


"Papi ingin aku secepatnya mengajukan resign dari sekolah,"


Jawabnya sambil menarik nafas panjang.


"Kenapa sepertinya berat sekali meninggalkan sekolah? takut kehilangan fans-fans yang menggilai anda di sekolah ya pak?"


Tanyaku sambil sedikit meledeknya.


"Kamu tidak takut rindu saat jauh dariku?"


"Tidak,"Jawabku singkat.


"Sungguh?"


"Iya......!".


"Benarkah?hah!"


Ucapnya sambil menggelitikku dengan gemasnya.


Aku hanya bisa tertawa karena marasa geli atas perlakuannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam,ku berikan barang yang sudah kubeli untuk mami tadi siang bersama mas Rio di mall.


Mami tampak begitu senang dengan barang sederhana yang kuberikan,meski dia tau barang pemberianku ini dibeli dengan uang anaknya tapi mami tampak sangat senang dan tak hentinya mengucapkan terima kasih.


Saat aku sedang asyik mengobrol dengan mami tiba-tiba saja mas Rio menghampiriku dan memintaku untuk bersiap pulang sekarang.


Saat aku bertanya kenapa dan ada apa,mas Rio hanya memelukku didepan mami tanpa mengatakan apapun lalu memintaku untuk segera bersiap-siap untuk pulang sekarang.


Sementara aku bersiap-siap mas Rio sudah kembali kekamar untuk berganti pakaian lalu mengajakku untuk segera turun karena semua sudah siap.


Perjalanan yang kukira akan berjalan seperti biasa ternyata akan menjadi sebuah perjalanan yang sangat luar biasa karena kali ini kami bukan menaiki mobil mewah seperti biasanya,namun dengan menendarai pesawat jet pribadi bersama dengan kedua orang tuanya serta kak Reina dan kak Aldi yang juga ikut serta.


Aku semakin bingung dibuatnya karena semua terkesan terburu-buru dan kenapa semuanya ikut? aku kira hanya aku dan mas Rio saja yang akan pulang atau mungkin Samuel yang akan kembali nebeng.


Tak ada penjelasan apapun dari siapapun,aku hanya diam dengan segala pertanyaan memenuhi pikiranku.


Saat kami tiba di rumah kedua orang tuaku suasana lain terlihat jelas didepan mataku,rumah yang biasanya sepi hanya ada kami sebagai penghuninya kini terlihat sangat ramai oleh beberapa orang asing.


"Mas.....ini?"


Aku masih merasa bingung dan takut,bahkan untuk sekedar menarik nafas dalam saja rasanya aku sungguh tak kuasa.


Kulihat seseorang menancapkan sebuah bendera kuning tanda duka didepan pagar rumahku.


Mas Rio memeluk bahuku mengajakku masuk kedalam.


Sepanjang perjalanan dari gerbang depan kukihat begitu banyak karangan bunga duka cita.


"Nenek! mas.....?"


Aku merasa lemas hingga kakiku tak lagi mampu kulangkahkan ketika melihat nama nenek terpampang di beberapa buah karanga bunga.


Dadaku rasanya sangat sesak hingga bernafas saja susah,darahku terasa sangat panas mengalir cepat di dalam tubuhku,rasa sakit yang teramat di dalam jantungku membuatku merasa pusing dan seketika semua menjadi gelap.


"Mas....aku mau lihat nenek....."


Bisikku lirih pada mas Rio yang sedang duduk di samping tempatku berbaring.


Tangisku pecah saat aku bangkit dari pembaringanku,perasaan ini.....ini yang kurasakan sejak tadi siang.Inilah perasaan yang kurasakan namun aku tidak tau karena apa,rasanya dadaku masih sangat sakit.


Mama masuk kedalam kamarku saat aku menangis dalam pelukan mas Rio yang berusaha menenangkanku.

__ADS_1


"Ma.....!"


Terlepas dari pelukan mas Rio,kini aku jatuhkan diriku dipelukan mama.


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"


Aku berusaha protes,namun sia-sia.


"Kami kira tadi siang nenek hanya sakit seperti biasa,kami tidak menyangka jika akan seperti ini."


Mama menceritakan padaku bahwa nenek sendiri yang menolak saat akan dibawa kerumah sakit,jadi keluarga hanya memanggil dokter yang biasa menangani nenek datang kerumah.Nenek juga nampak sudah membaik setelah mendapat penanganan dari dokter dirumah,meski dokter menyarankan agar nenek dirawat dirumah sakit saja namun nenek tetap menolak begitu menurut cerita mama pada kami.


Innalilahi wa inna ilaihi rajiun,sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada-Nya.


Nenek kami,nenek Sita ayu anggara semoga engkau husnul khotimah dan surga adalah tempatmu.


Pagi menjelang prosesi pemakaman nenek akan segera dilaksanakan,beberapa teman dekatku disekolah serta beberapa guru juga datang untuk mengucapkan bela sungkawa pada keluarga kami.


Dengan tertunduk Medina dan Jesika yang terus berada di sampingku tak hentinya memelukku.


Mereka seakan tau sekali bagaimana perasaanku saat ini.


Mataku masih sembab karena entah sudah berapa lama aku menangis dan entah sudah berapa liter air mata yang sudah ku tumpahkan sejak semalam.


Setelah prosesi pemakaman nenek usai,para pelayat perlahan mulai bepergian.


Jesika dan Medina masih dengan setia menemaniku di atas pusara nenek bersama kedua orang tua dan juga kakakku.


Bahkan ketika kedua orang tuaku mengajakku pulang sepertinya kakiku ini masih enggan dilangkahkan menjauhi sisa tanah basah yang mengubur tubuh renta nenek.


Kami pulang kerumah,meninggalkan nenek sendirian disana.Aku,medina dan Jesi pulang dengan menaiki mobil kak Rendi.Mereka masih betah berada dirumahku berusaha menghiburku agar tidak terus larut dalam duka kehilangan.


"Ra.....istirahatlah!kami antar kekamar ya?"


Bujuk Medina padaku,namun buru-buru kutolak karena aku teringat akan mas Rio.


Banyak barang-barang berada disana,ada juga foto pernikahan kami bagaimana jika mereka melihatnya?


"Aku disini saja,tidak apa-apa.Kalian pulanglah,aku sudah lebih baik sekarang,"


Jawabku pada mereka yang sepertinya tak percaya oleh perkataanku yang bilang bahwa aku tidak apa-apa.

__ADS_1


BERSAMBUNG .....


__ADS_2