Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Aku hanya menundukkan wajahku menghindari tatapan matanya yang begitu menggoda,aku hanya takut aku tak mampu menahan diriku lagi dan justru terjebak dalam permainannya kembali.


"Bisa tolong jelaskan padaku kenapa kemarin malam kita bisa sampai melakukannya?"


Tanyaku tanpa berani menatap wajahnya,aku begitu malu saat mempertanyakan ini padanya.


Bahkan aku hanya bisa menunduk dan kupejamkan mataku saat mempertanyakan ini padanya.


"Bukankah kamu yang menginginkannya? kenapa malah bertanya padaku?"


Dengan santainya ucapan itu muncul begitu saja dari mulutnya yang justru menyulut emosiku.


Kuangkat wajahku dan kuberanikan untuk menatap tajam wajahnya yang begitu sempurna memikat hati setiap wanita,namun aku tidak mau terlena dan kembali jatuh kedalam lubang yang sama.


"Tidak mungkin semudah itu aku menyerahkan padamu jika tidak ada sesuatu mas!"


Ucapku sambil membulatkan mataku.


"Kamu ini kenapa? aku kira hubungan kita sudah baik-baik saja,kenapa kamu kembali marah-marah tidak jelas begini sih!"


"Marah-marah tidak jelas? Ya jelas lah aku marah padamu! lalu aku harus marah pada siapa lagi? kamu tega melakukannya,melanggar perjanjian kita!"


Aku masih mendongak melihat wajahnya bahkan sampai dia berdiri tegak lalu berjalan membelakangiku menuju tempat tidur.


"Bukankah aku sudah bilang jangan,bahkan berkali-kali aku mengatakannya mas! tunggu sampai aku lulus dulu,kenapa tidak sabaran sekali sih!"


Mas Rio hanya diam mendengarkan ocehan dan luapan amarah dariku yang selalu menyalahkannya,lalu dia bangkit untuk membuka tas laptop miliknya dan menyalakannya di hadapanku.


Tak lama setelah dia membuka sebuah file ditinjukkannya padaku sebuah video dimana kami menjebak kak Roi kemarin malam.


Disitu adalah video yang diambil dari ruang khusus dimana aku dak Kak Roi ada di sana sesaat setelah Jesika pergi dari ruangan tersebut bersamaku.


Kulihat kak Roi memasukkan sesuatu kedalam gelas minumanku saat dia hanya sendirian sedsngkan aku sedang mengantarkan Jesi keparkiran sambil berpura-pura memarahinya kemarin.

__ADS_1


"Stop!"


Mas Rio segera menekan tombol pause lalu melihat kearahku.


Aku hanya diam sambil menggigit jariku sendiri dengan gemetar lalu berangsur berjalan mundur dan berhenti ketika kakiku menabrak pinggiran tampat tidur dan mendudukkan diriku di tepinya.


Mas Rio segers bangkit dan berjalan mendekat kearahku,aku masih diam bahkan saat mas Rio menyentuh tanganku yang terasa sangat dingin seperti es.


Dadaku mendadak terasa sesak untuk bernafas,rasanya ingin sekali menangis namun semuanya hanya tertahan di tenggorokan hingga membuatku sesenggukan tanpa mengeluarkan air mata.


Entah apa yang terjadi jika semua ini bukanlah setingan kami belaka untuk membantu Jesika,entah apa yang akan kak Roi lakukan padaku kemarin malam jika aku hanya sendirian menemuinya.


Aku bahkan malu pada mas Rio yang sejak kemarin terus kusalahkan karena kuanggap tega memanfaatkan kesempatan,tapi memang kenyataannya aku sendirilah yang bersalah karena tak mampu menahan diriku sendiri kemarin malam saat bersamanya dan semua ini terjadi karena kak Roi.


"Jadi semua ini adalah kesalahanku sendiri mas!"


Ucapku sambil berlinang air mata menyesali ucapanku yang terus menyalahkannya.


Kulepaskan diriku dari pelukannya dan terus berusaha menghindar.


Tanyanya padaku tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Menyesal? mungkin iya,tapi apa yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali.


Lalu apa gunanya aku menyesal? toh yang merenggut diriku malam itu adalah laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku dan imam dalam setiap sholatku.


Segalanya berkecamuk dalam pikiranku seolah ada sisi lain dari diriku yang saling berlawanan satu sama lain.


"Ra,kita ini sudah sah menjadi suami istri.Yang kita lakukan bukanlah perbuatan dosa,mungkin inilah cara Tuhan untuk menyatukan kita secara utuh."


Mas Rio berusaha menenangkan diriku yang maish sesenggukan tanpa mengatakan apapun.Kuberanikan diri untuk memandang wajah laki-laki dihadapanku yang memang benar sudah menjadi suamiku dan bahkan telah mendapatkan haknya sesuai apa yang dia inginkan selama ini.Tapi entah kenapa masih ada perasaan mengganjal didalam hatiku jika teringat kejadian kemarin malam,seolah hatiku belum bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi.Mungkin mas Rio benar jika aku menyesal karena telah menyerahkan semua padanya.


"Kenapa Ra? apa karena kamu tidak mencintaiku?"

__ADS_1


Tanyanya lagi semakin membuatku terbungkam.


Benarkah apa yang mas Rio katakan? benarkah jika perasaan menyesal ini ada karena aku tidak mencintainya? lalu kenapa saat dia meminta untuk yang kedua kalinya aku tidak menolak? padahal sudah jelas saat itu aku dalam keadaan sadar betul tanpa pengaruh apapun bahkan dia juga tidak sedang memalsaku,namun aku menurutinya begitu saja.


Aku semakin bingung dengan diriku sendiri dan bimbang dengan perasaanku sendiri.Bahkan aku tidak mampu menjawab sepatah katapu dari semua pertanyaan mas Rio padaku.


"Jangan menangis lagi,hatiku sakit rasanya jika melihatmu seperti ini."


Ucap mas Rio sambil berjongkok dihadapanku yang masih duduk si tepi tempat tidur.


"Apakah benar mas mencintaiku? apakah mas akan meninggalkanku setelah mendapatkan apa yang mas mau dariku? apakah mas akan mencari wanita lain yang lebih baik jika sudah merasa bosan padaku?"


Hanya pertanyaan-pertanyaan konyol yang justru keluar dari bibirku,mepertanyakan segalanya pada mas Rio yang hanya tersenyum.


Mungkin pertanyaanku ini terkesan lucu untuknya,untuk itu hanya perlu dijawab dengan senyumannya saja tanpa menjelaskan apapun padaku yang bodoh ini.


Apakah memang dia sengaja tidak membuatku hamil agar tidak terbebani oleh tanggung jawab anak jika dia bosan nanti,jadi dia bisa dengan mudah meninggalkanku nanti.Ataukah benar yang dia katakan bahwa dia tidak mau mewujudkan ketakutanku tentang kehamilan sebelum kelulusan sekolah.


Aku semakin dibuat gila oleh prasangka-prasangka dari dalam diriku sendiri,aku begitu menakutkan banyak hal yang bahkan belum tentu akan terjadi dalam kehidupanku.


"Ra,apakah kamu meragukanku? untuk apa aku mencari wanita lain diluar sana? jika disini ada wanita luar biasa yang bahkan tak akan pernah habis meski kuterkam setiap malam bahkan setiap saat!"


Masih bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu,bahkan ketika hatiku sedang dalam keadaan seperti ini.


Dia menyeka air mata dipipiku lalu menggenggam jemariku.


"Percayalah,sampai kapanpun tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu."


Entahpa hatiku kembali luluh dengan perkataannya kali ini.Nyatanya kini kegundahan dan dilema dalam diriku mulai berkurang,hatiku mulai melunak serta pikiranku berangsur mulai tenang.


Dia memelukku dengan erat,mencium keningku begitu lama dan adegan yang terjadi kemarin malam dirumah mas Rio kembali terjadi dan aku kembali tak mampu menolaknya lagi.


Dia begitu haus akan diriku hingga aku benar-benar tak lagi tega menolaknya,begitu juga denganku yang perlahan mulai menikmati apapun yang dia lakukan padaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2