
Tidak mungkin,tidak mungkin kalau laki-laki yang mau dijodohkan denganku adalah pak Mario yang saat ini duduk tepat disampingku.
Pikiranku semakin kemana-mana,mataku berkali-kali melirik kearah pintu masuk restoran berharap akan ada laki-laki lain yang datang untuk menghampiri meja kami.
"Kamu lagi nunggu seseorang,hah?"
Bisik pak Mario padaku sambil menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,aku hanya diam dengan perasaan campur aduk.
Jadi kak Reina bukan istrinya pak Mario,melainkan kakak perempuannya dan Zarra bukan anaknya tapi keponakannya.
Ya Allah.....bodoh sekali aku dengan begitu mudahnya menyimpulkan apa yang aku lihat tanpa bertanya dan mendengarkan.
Setelah selesai makan malam,keluarga pihak laki-laki mulai membuka percakapan tentang maksud diadakannya pertemuan ini.
Bahwa maksud dan tujuan disini baru sekedar memperkenalkan Rara dari pihak keluarga Anggara dengan Rio dari keluarga Wijaya.
Rio? batinku,sambil melihat sekeliling karena setauku tak ada yang bernaam Rio disini.Dan baru aku tau Rio itu adalah nama panggilan pak Mario di keluarganya,seperti halnya namaku Maura yang dipanggil Rara.
Benar saja,sesuai dengan apa yang papa katakan bahwa pihak keluarga laki-laki memberiku kesempatan selama satu minggu untuk memberi keputusan apakah aku akan menerima atau menolak perjodohan ini.Jika aku menerima makan satu minggu setelahnya akan diadakan acara pertunangan dan pernikahan baru akan diadakan setelah aku lulus sekolah nanti,itu baru rencana jika aku mau menerima perjodohan ini.
"Tante harap kamu tidak menolak perjodohan ini Ra,tante akan sangat senang jika memiliki menantu sepertimu."
Ucap tante Sarah sembari mengelus ujung kepalaku saat kucium punggung tangannya untuk berpamitan.
Kaluargaku dan keluarga pak Mario nampak begitu akrab,disini hanya aku saja yang merasa seperti orang asing yang tak tau apa-apa.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang nenek terus menggenggam tanganku,sepertinya nenek tau betul perasaanku saat ini.
Tak bisa kubayangkan jika aku harus menikah dengan pak Mario guru disekolahku dan lagi pak Mario adalah orang yang selama ini digilai oleh sahabatku.Jesika bahkan pantang mundur meski telah berkali-kali cintanya ditolak oleh pak Mario.
Mingkinkah pak Mario menolak Jesika karena sudah tau akan dijodohkan denganku? lalu kenapa selama ini pak Mario bersikap seolah-olah biasa saja padaku.
Entah apa jadinya jika satu sekolah mengetahui perjodohan ini,terutama Jesika.Aku tak punya alasan yang tepat untuk menolak perjodohan ini,namun aku juga tak bisa menerima perjodohan ini begitu saja.
Pikiranku begitu kacau,kepalaku penuh dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini.Sesampainya dirumah kulihat mobil kak Rendi sudah terparkir dengan rapi di garasi,sepertinya kak Rendi sudah pulang.
Kudengar sekilas mama dan papa saling bisik menyebut nama kak Rendi,aku jadi semakin khawatir jika nanti kak Rendi akan marah setelah tau kami pergi untuk membahas masalah perjodohanku.
Saat kami baru saja masuk kedalam rumah,kak Rendi sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan tivi.
"Dari mana?"
"Jadi papa sengaja menyuruhku keluar kota supaya aku tidak mengganggu acara kalian?Apa aku sudah tidak lagi dianggap sebagai keluarga!!!"
Nada bicara kak Rendi semakin meninggi,bahkan papa tidak diberi sedikitpun kesempatan untuk bicara.
'BRUAK!!!'
Kak Rendi meninju meja kaca didepannya hingga kacanya pecah mengenai punggung tangnnya.
"Kenapa pada diam!!! apa semua orang dirumah ini bisu?atau tuli?!!!"
__ADS_1
Kak Rendi seperti bukan lagi kak Rendi yang kukenal selama ini,kak Rendi yang selama ini kukenal sangat penyayang dan penurut kini berubah bagaikan iblis yang sedang termakan api amarah.
Mama menahan tanganku dan menggelengkan kepalanya pelan ketika aku hendak maju untuk mendekat kearah kak Rendi.Sedangkan Bu Sum langsung membawa nenek masuk kekamarnya atas perintah mama.
"Ren,dengerin penjelasan kami dulu."
Papa berusaha bersikap selembut mungkin untuk menghadapi kak Rendi yang sedang meledak-ledak emosinya,papa tau betul bagaimana cara mengambil hati anak-anaknya ketika sedang marah.
Setelah kak Rendi mulai tenang papa berusaha menjelaskan kenapa dan bagaimana harus ada perjodohan ini dan papa juga menjelaskan alasan kenapa sampai kak Rendi tidak diikut sertakan dalam acara malam ini.Sebenarnya papa bukannya tidak mau mengikut sertakan kak Rendi,namun waktu dan keadaannya belum tepat papa hanya takut jika kak Rendi justru akan mempermalukan dirinya sendiri didepan umum nantinya.Papa akan mengajak kak Rendi dalam pertemuan minggu depan karena ingin kak Rendi menyaksikan sendiri keputusanku nanti apakah aku akan menerima atau menolak perjodohan ini tanpa paksaan dari siapapun.
"Papa harap kamu berlapang dada atas apapun nanti keputusan adikmu Ren."
Papa menepuk pelan pundak kak Rendi,dan kak Rendi terlihat berkaca-kaca sambil melihat kelangit-langit agar air matanya tak tumpah.
"Kamu ini laki-laki,jangan bersikap bodoh.Lihat lah dirimu sekarang,justru hanya akan membuat adikmu takut padamu."
Kak Rendi menundukkan kepala seolah menyesali perbuatan bodohnya barusan.
Papa benar,apa yang kak Rendi barusan justru membuatku semakin takut padanya bahkan sebelum kejadian hari ini pun sikap kak Rendi benar-benar sudah berubah padaku seakan bukan lagi kak Rendi yang kukenal sejak kecil.
Mungkin jika saja sikap dan perilakunya padaku tidak seperti ini,mungkin aku tak akan semakin menghindarinya ketika tau bahwa kami bukan saudara kandung.
Malam ini aku tak berani tidur dikamarku sendiri,aku lebih memilih tidur dikamar nenek dengan ditemani oleh bu Sum yang setiap hari merawat nenek dan menemaninya tidur setiap malam.
Aku benar-benar takut dengan kak Rendi,namun tidak mungkin juga aku tidur dikamar orang tuaku.
__ADS_1
Pagi ini kak Roi mengirim pesan chat padaku mengajakku jalan,tapi kutolak karena dia hanya mengajakku jalan berdua dengannya saja.Tak lama setelah kubalas chat dari kak Roi,ada pesan masuk lagi dan ternyata itu dari pak Mario.
Bersambung.....