Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Main hujan


__ADS_3

Aku memutar tubuhku,mataku menyapu sekeliling gak nampak adanya tanda-tanda keberadaan mas Rio disekitar.Kulanjutkan langkah kakiku mencari keberadaan mas Rio hingga hampir kembali ketitik nol ketika aku memasuki taman,samar-samar dari kejauhan nampak seluet.Meski aku tidak begitu yakin karena jarak pandang yang terbatas akibat derasnya air hujan yang menerpa sebagian tubuhku hingga membasahi sebagian pakaian yang kukenakan.


Aku berjalan semakin dekat karena aku semakin dekat semakin nampak jelas bahwa memang ada seseorang yang sedang duduk di sebuah bangku dibawah lampu taman yang berbentuk hati diatasnya.Kupercepat langkah kakiku saat aku benar-benar yakin orang yang duduk dibangku tersebut nampak seperti mas Roi saat kulihat wajahnya dari samping.


Kuhentikan langkahku.Dia melihat kearahku,mendongakkan kepalanya melihat wajahku dari balik payung.


"Kamu.....?"


"Hujan kenapa tidak pulang?"


"Aku menunggumu!"


"Sekarang ayo pulang!"


Mas Mario menjatuhkan tubuhnya dengan kaki ditekuk lututnya menyentuh tanah basah.


"Maaf!"


Ucapnya lirih sambil terus menunduk.


"Bangkit atau kutinggal pulang!"


Aku berbalik dan berjalan meninggalkannya,namun mas Mario masih tak bergeming dari tempatnya.


Aku berhenti sejenak menoleh kearahnya yang masih terduduk ditanah menunggu jawaban maaf dariku.


"Ayo pulang! nanti mas bisa sakit!"


Dia mendongak melihat wajahku,terlihat matanya basah entah karena air hujan atau air mata tapi matanya memerah seperti orang tengah menagis.


"Baiklah....! Ayo pulang!"


"Maksudnya? kamu maafin aku kan!"


"Iyaaa.....!"


Jawabku sambil memalingkan wajah kearah lain.


"Kamu nggak ikhlas!"

__ADS_1


"Mau pulang atau tidak? kalau tidak aku tinggal!"


Kataku dengan nada ketus.


Kuulurkan tanganku untuk membantunya bangkit,mas Mario meraihnya lalu bangkit dan berdiri disampingku.Kami berjalan sambil berlindung dari derasnya kucuran air hujan dibawah payung yang sama.


"Mas tidak bawa motor?"


Tanyaku sambil celingukan melihat sekitar tak terlihat ada motor atau mobil mas Mario disekitar kami.


"Hah! apa? ngomong yang kenceng aku nggak denger,hujannya deres banget!"


"Mas nggak bawa motor!"


Teriakku ditelinganya saat dia menundukkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya kedepan wajahku.


"Motor aku tinggal disekolah!"


"Trus,tadi kesini naik apa!"


"Naik taksi!"


"Sudah belum main hujan-hujanannya? Ayo naik!"


Teriak kak Rendi dari dalam mobil lewat kaca jendela yang sedikit terbuka.


Kami segera berlari dan masuk kedalam mobil kak Rendi.


"Kakak kok bisa ada disini?"


Tanyaku sambil membetulkan posisi dudukku di samping mas Rio di bangku penumpang.


"Aku khawatir aja kamu malem-malem naik taksi sendirian!"


"Terima kasih Ren!"


"Sama-sama,lain kali kalo marahan jangan main hujan-hujanan lagi."


Kak Rendi segera melajukan mobil ditengah derasnya hujan langsung menuju kerumah.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu!"


Kami bertiga langsung masuk kedalam rumah sambil mengucap salam.


"Bik tolong siapkan peralatan mandi untuk mas Rio dikamar tamu diatas ya!"Pintaku pada bibi.


"Baik non..."


"Tunggu dulu! kalian habis dari mana? kok basah kuyup kayak gini?"


Tanya mama pada kami berdua yang memang basah kuyup,sebenarnya hanya mas Mario yang total basah kuyup sedangkan aku hanya sebagian bawahanku saja yang basah karena air hujan dan kak Rendi aman tanpa terkena setetespun air hujan.


"Mereka habis main hujan-hujanan ma,trus kuajak aja mereka pulang.Dasar anak-anak bandel..!"


Kak Rendi mengusap kepalaku didepan mas Mario yang terlihat menunjukkan ketidak sukaannya melihat perlakuan kak Rendi padaku,lalu bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya setelah berpamitan pada kami semua disusul oleh bibi membawakan peralatan mandi untuknya.


"Apaan sih kak,aaaah! kebiasaan suka mainin kepala aku!"


"Kenapa emangnya? udah sana ganti baju dulu nanti masuk angin lho!"


"Iya iya....!"


"Buruan,habis itu cepat makan!"


"Iya.....!"


Teriakku sambil berlari menaiki anak tangga lalu berhenti sejenak karena berpapasan dengan bibi yang turun sedangan aku hendak naik.


Saat aku hampir sampai didepan pintu kamarku tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tanganku,siapa lagi kalau bukan mas Mario karena hanya dia yang kini ada di lantai atas bersamaku.


"Apaan sih....!"


Bisikku padanya supaya tak menimbulkan kegaduhan yang akan mengundang perhatian orang-orang yang berada dibawah.


"Kamu benar sudah maafin aku!"


"Terpaksa!" Jawabku padanya sambil menghempaskan tangnku dari pegangan tangannya lalu bergegas masuk kedalam kamarku dan ku tutup rapat sekaligus ku kunci.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2