
Hari ini tepat satu bulan setelah kepergian nenek.
Pak Yanto masih bekerja di keluarga kami sebagai sopir pribadi papa,sedangkan bu Sum lebih memilih untuk tidak bekerja lagi dan memilih pulang ke kampung halamannya.
Keluarga kami selalu menerimanya dengan tangan terbuka apabila bu Sum berubah pikiran dan ingin kembali bekerja di rumah kami,bu Sum memang sudah kami anggap seperti keluarga karena dia sudah bekerja untuk nenek sejak aku masih sangat kecil atau mungkin sebelum aku lahir.
Pagi ini seperti biasa pak Pras mengantarku kesekolah dan mas Rio mengiringi kami dari belakang dengan sepeda motornya.
Mas Rio tak ingin menyia-nyiakan hari-hari terakhirnya disini,karena dia sudah mengajukan resign di awal bulan dan akhir bulan ini masa mengajarnya akan selesai.
"Ra,kamu tau tidak kalau pak Mario mau keluar lho!"
Ucap Jesi pada kami.
"Benarkah?"
Tanya Medina dengan wajah terkejut,sedangkan aku hanya diam seolah tidak begitu perduli.
"Kalian tidak percaya padaku?"Ucap Jesi meyakinkan Medina
"Kamu tau darimana? Samuel saja yang saudaranya tidak pernah bilang apa-apa kok!"
"Ini masih pagi,berhentilah bergosip!"
Ucapku datar sambil mengeluarkan buku pelajaran bahasa Indonesiaku,karena semalam aku baru saja dapat bocoran dari suamiku kalau hari ini akan ada ulangan dadakan.
"Wah,wah....siswi teladan pagi-pagi begini belajar kayak mau ulangan saja!"
Sindir Jesika padaku yang nampak serius mengulangi kemnbali pembelajaran beberapa hari lalu sebagai materi ulangannya nanti.
"Selamat pagi.....!"
Sapa Samuel yang baru saja datang dengan senyum merona kearah Medina,dan kulihat Medina menyambutnya dengan senyuman tersipu malu.
Kulirik keduanya yang seakan bertingkah tidak seperti biasanya,manimbulkan kecurigaan.
"Rajin banget kamu Ra?"
Tanya Samuel sambil memandang kearahku.
"Iya,siapa tau tiba-tiba ulangan mendadak.Kita kan tidak tau kapan pak Mario akan memberi kita kejutan!"
Ketiga temanku nampak tercengang,mungkin mereka teringat beberapa kali pak Mario memberikan kejutan pada kami berupa ulangan dadakan.
"Iya juga ya Ra......!"
Jesi menimpali,lalu segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya membolak-balik halamannya seperti sedang mencari sesuatu.
Tiba-tiba saja Jesi berlari secepat kilat keluar kelas seperti pahlawan super yang hendak menolong korbannya di beberapa film action.
"Kenapa dia?"
Tanya Medin memandangku dan Samuel bergantian.
Aku hanya diam dan Samuel mengangkat kedua bahunya.
"Tadi kulihat dia berlari sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangan!"
Ucap samuel memberi tau kami berdua,dengan secepat kilat pula menyusul Jesi bagaikan sedang beradu lomba lari.
Kami segera menuju ketoilet,takut terjadi sesuatu padanya disana.
__ADS_1
Wajah Jesi pucat pasi sambil membetulkan rambut,matanya yang sipit kini sudah tak lagi mengenakan kaca mata sejak satu tahun terakhir terlihat sayu.
"Kamu kenapa Jes?"
Tanyaku.
"Sakit kamu Jes?"
Medina menimpali.
Tiba-tiba Jesi kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya,dengan langkah cepat kembali masuk kedalam kamar mandi.
'Brak!'
Terdengar bunyi pintu toilet sekolah di tutup dengan kencang olehnya dari dalam.
"Howek!"
Suara Jesi terdengar dari dalam toilet hingga keluar pintu.
'Tok,tok,tok'
"Jes! kamu baik-baik saja Jes?"
Tanyaku dan Medina bersahut-sahutan.
Jesi keluar dari toilet tanpa sepatah katapun,wajahnya yang putih bersih semakin tak berwarna.Pucat seperti mayat, tangannya begitu dingin seperti es saat kami pegang lengan jesi yang nampak sangat lemas.
Kami memapah Jesi membantunya berjalan.
"Kita bawa ke UKS Din!"
Usulku melihat keadaan Jesi yang sudah tak mampu mengatakan apapun hanya bisa berjalan lemas atas bantuan kami.
Dari kejauhan kami melihat pak Mario berjalan menuju pintu kelas kami,sedangkan kami masih berusaha membawa Jesi ke UKS.
"Jesiiii.......!!!!!"
Teriakku dan Medina bersamaan saat melihat Jesi terkulai lemas dan kami tak mampu membantunya bangkit lagi.
Kulihat pak Mario dengan cepat membopong tubuh lemas Jesi lalu berjalan cepat menuju UKS.
"Ayo Ra!"
Ajak Medina menggandeng tanganku,kami segera menyusul mereka berdua ke UKS.
Entah mengapa ada perasaan aneh ketika mata ini melihat pak Mario membopong tubuh Jesika,rasanya dada ini seperti sedang kehilangan sesuatu.
Seperti rasa sedih dan kecewa bercampur menjadi satu,mungkinkah ini cemburu? batinku,lalu segera kuabaikan perasaanku yang kurasa tidaklah penting dibandingkan dengan keadaan teman baikku saat ini.
"Kalian temani dia disini dulu!saya harus kembali kekelas."
Ucap pak Mario pada kami berdua.
"Baik pak!"
Jawab kami berdua kompak.
"Terima kasih pak sudah membatu kami,menggendong Jesika!"
Kutekan kata-kata terakhirku sambil kutatap tajam matanya.
__ADS_1
Pak Mario hanya membalas tatapanku,membetulkan letak kaca matanya lalu pergi meninggalkan ruang UKS.
Saat Jesika tersadar,kak Ana yang bertugas di rung UKS menanyakan beberapa pertanyaan pada Jesika.Kami sedikit tercengang saat mendengar salah satu pertanyaan kak Ana yang menurut kami aneh.
"Kapan kamu terakhir datang bulan?"
Tanya kak Ana pada Jesi yang hanya diam seperti sedang mengingat-ingat kapan dia terakhir datang bulan.
"Apakah kamu merasa terlambat datang bulan?"
Tanyanya lagi menegaskan.
"Harusnya dalam minggu ini saya harusnya sudah datang bulan kak,tapi memang sering mundur seperti ini kok!"
Jawab Jesi yang masih bebaring di bed UKS.
Untuk lebih pastinya lagi kak Ana membawa kami ke klinik terdekat,selain untuk memastikan kecurigaan kak Ana juga supaya Jesika segera mendapat infus dikarenakan keadaannya yang terlihat lemah.
Aku dan Kak Ana menemani Jesika ke klinik terdekat dari sekolah,sedangkan Medina diminta kembali ke kelas karena hanya diperbolehkan salah satu saja dari kami yang diperbolehkan ikut menemani jesi keklinik.
Sebelum kembali kedalam kelas Medina diminta oleh kak Ana untuk tidak menyebarkan berita apapun mengenai keadaan Jesika saat ini karena belum adanya kepastian dengan hasil diagnosa dokter dari klinik.
Sesampainya di klinik,Jesika segera ditangani oleh pihak dokter dan petugas medis.
Dokter yang telah selesai menangani Jesika,memanggil kami untuk memberitahukan keadaan Jesika.
"Kalian ini perwakilan dari pihak sekolah pasien?"
Tanya dokter pada kami.
"Benar dokter,saya petugas UKS yang berjaga di sekolah."
Jawab Kak Ana.
"Begini,sebenarnya ini adalah gejala yang wajar dialami oleh perempuan yang sedang hamil."
"Hah! hamil dokter!"
Ucapku setengah berteriak karena terkejut lalu dengan buru-buru menutup mulutku dengan kedua tanganku setelah menyadari keributan yang sempat kutimbulkan.
Kak Ana nampak menggelengkan kepala saat dokter meninggalkan kami yang masih terduduk di bangku tempat dokter tadi memberikan penjelasan tentang keadaan Jesi pada kami.
"Kak,bagaimana ini? jesi hamil!"
"Terpaksa kita harus memberi tahukan ini pada pihak sekolah,biar mereka yang memutuskan."
Jawab kak Ana sambil bangkit dari tempatnya duduk.
"Apa nanti Jesika akan di keluarkan kak?"
Tanyaku mengikuti langkah kak Ana menuju tempat Jesi dirawat.
"Aku juga tidak tau."
Jawab kak Ana pelan tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Kasihan Jesi kak!"
"Itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri bersama orang yang menghamilinya,dia harus belajar bertanggung jawab."
Ujar kak Ana seiring langkah kakinya yang mulai dekat dengan tempat Jesi kini berbaring.
__ADS_1
BERSAMBUNG......