
Selama perjalanan kami hanya terdiam,bahkan sepatah kata hanya sekedar basa-basipun tidak.
Pak Mario tentu sudah hafal jalan menuju rumahku karena memang sudah pernah mengantarkanku pulang sebelumnya.
"Bisa jalan sendiri kan?!"
Tanya pak Mario setelah memarkirkan mobil di depan pagar rumah,lalu melepas sabuknya.Maksudnya sabuk pengaman alias seat belt,jadi mohon untuk pembaca jangan salah faham ya.....😊.
"E......bisa pak."
Jawabku terbata karena baru saja terlepas dari suasana tegang selama perjalanan,rasanya hampir sama tegangnya seperti ketika sedang naik roller coaster.Padahal yang sedang kami naiki mobil matic serta jalanannya pun mulus-mulus saja tidak bergelombang serta tidak naik turun seperti di pegunungan.
"Ayo turun! malah bengong,apa perlu di gendong lagi?!"
"Eh! maaf pak,tidak perlu saya bisa jalan sendiri kok."
Lalu dengan buru-buru ku buka seat belt dan segera turun dari dalam mobil lalu berjalan perlahan menuju pintu pagar karena kepalaku masih agak pusing,sementara pak Mario nampak berkali-kali memencet tombol bel di pagar rumahku.
Ya Allah....lama banget sih bukainnya? batinku.Kepalaku rasanya semakin pusing jika berlama-lama berdiri begini,mana panas lagi.Untung tubuh pak Mario lebih tinggi dariku,jadi aku bisa berlindung dibalik tubuhnya agar tak langsung terkena sinar matahari.
"Apa dirumahmu tidak ada orang?"
"Biasanya ada kok pak,ada mama sama bibi."
Jawabku sambil menyeka keningku yang mulai berkeringat.
__ADS_1
"Kalau kamu masih pusing tunggu dimobil saja."
"Nggak apa-apa pak,sebentar lagi pasti juga dibukain."
Kuambil hape dari dalam tasku lalu kucoba menelfon orang rumah,baru saja kutekan nomor mama di layar hapeku pintu pagar sudah terbuka.
"Lho! Rara,kok jam segini sudah pulang?"
Tanya mama sambil mempersilahkan pak Mario masuk,lalu membantuku masuk kedalam rumah.
Setelah kami masuk pak Mario menjelaskan kejadian yang menimpaku disekolah hari ini,tak lama setelah berbasa-basi pak Mario berpamitan bahkan mama belum sempat menawarinya minum.
Mungkin pak Mario buru-buru pulang karena harus kembali mengajar di sekolah.
"Maaf ya sayang tadi mama lama bukainnya,soalnya tadi lagi dikamar mandi."
"Bibi kemana emangnya ma?"
Tanyaku penasaran.
"Bibi lagi belanja diantar sama pak Amin."
"Pantesan didepan nggak ada yang jagain."
"Maaf ya sayang...,gimana kepalanya masih pusing?mama telfn tante Susi dulu ya."
__ADS_1
Tante susi itu adalah istrinya om Aris,yang kebetulan juga dokter dikeluargaku.
Mama bilang tante Susi tidak bisa langsung datang sekarang karena masih praktek dirumah sakit dan tidak mungkin meninggalkan pasiennya begitu saja.Mama bilang mungkin nanti agak sorean baru bisa datang kesini,lalu aku putuskan beristirahat.
Semoga setelah bangun tidur nanti pusing dikepalaku berkurang.
Setelah aku bangun ternyata hari sudah sore.
"Aw! emh." Kututup mulutku.
Rasanya kepalaku masih pusing,malah sekarang mual lagi.
"Lho,non Rara sudah bangun?"
Tanya bibi sambil meletakkan nampan berisi makanan diatas nakas didekat tempat tidurku.
"Non makan dulu ya....bibi sudah buatkan bubur,nyonya bilang non Rara harus makan bubur dulu."
"Tante Susi sudah dateng belum ya bi?"
"Sudah non,baru saja tadi nyonya memgantarnya kedepan waktu bibi mau nganterin makanan kesini non."
Waktu kulitat mangkun berisi bubur rasanya aku semakin mual,sebenarnya perut ini rasanya lapar sekali tapi aku sama sekali tak menyukai makanan satu ini yang orang-orang memanggilnya bubur.
"Bibi suapi ya non? jangan diliat buburnya,tutup saja matanya non."
__ADS_1
Bibi berusaha merayuku agar mau makan bubur meski dia tau aku tidak suka.
BERSAMBUNG.....