Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Setumpuk Masalah


__ADS_3

Aku segera berlari menuju kelasku setelah mengucapkan terima kasih pada bu Mayang karena telah mengingatkanku bahwa sudah bel tanda masuk kelas.Aku memang benar-benar tidak dengar bunyi bel,mungkin karena aku yang telah tenggelam dalam lamunan sehingga tidak fokus pada sekitar.


"Ra,kamu habis darimana? Aku nyariin kamu lho dari tadi."


"Dari perpus."


Jawabku sambil kembali ke bangkuku dengan malas.


"Kamu baik-baik saja kan? kamu sehat kan?"


Kata Medina sambil menempelkan punggung tangannya kedahiku.


Aku hanya diam tak menyahut,ketika Jesi yang juga ikutan mendekat padaku.


"Dari tadi pagi kamu diem aja,kenapa Ra sakit?"


Tanya Jesi padaku,sedangkan Medin justru menjauh ketika menyadari Jesi mendekat.


Kulihat antara Jesi dan Medin tampak begitu canggung tidak seperti biasanya.Ada apa lagi ini?


Ya ampun......! ada masalah apa lagi ini? belum cukupkah masalah demi masalah kau turunkan untuk mengujiku?


Aku menggerutu dalam hati.


Persahabatan kami bertiga yang kami jaga sejak awal kami masuk kesekolah ini sampai sekarang,serta Samuel yang baru masuk dalam kingkar persahabatan kami.Biasanya kami berempat kemana-mana bersama saat disekolah ataupun sekedar main keluar untuk seru-seruan.


Namun kini kulihat hubungan Jesi dan Medin nampak sedang tidak baik-baik saja,sedangkan aku dan Samuel baru saja tadi pagi kami berdebat soal Jesika,padahal awalnya aku hanya ingi sharing dan meminta pendapatnya soal perjodohanku dengan pak Mario justru ujungnya malah kami jadinsaling diam karena aku memang kecewa dengan perkataannya yang menjelek-jelekkan sabahatku Jesi.


Beberapa hari ini aku selalu acuh setiap kali Dam mengajakku bicara,dan begitu juga dengan Jesi dan Medin yang kulihat beberapa hari belakangan mereka tak pernah bertegur sapa.Bahkan ketika pergi ke kantin kami bertiga sudah tak pernah lagi jalan bertiga apalagi berempat.Setiap kali kutanyakan pada Medina atau Jesi,mereka hanya menjawab bahwa tidak ada apa-apa meski begitu tetap aku tidak percaya.Entah kenapa aku berfikir mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


Hari ini saat pulang sekolah Pak Yanto terlambat menjemputku,hari sudah semakin sore mendung menggelayut diatas kepala.


Medina langsung buru-buru pulang karena hari ini pesanan kue ibunya sedang ramai jadi harus buru-buru pulang untuk membantu ibunya membuat pesanan,sedangkan Jesi juga langsung pulang begitu mobil jemputannya datang.


Sekolah sudah semakin sepi,hanya tinggal beberapa guru dan staf yang mungkin masih ada keperluan disekolah.


"Jemputannya belum datang?"


Tanya pak Mario yang tiba-tiba saja berada dibelakangku membuatku terkejut.


"Iya pak."


"Bagaimana kabar nenek kamu?"


"Sudah lebih baik pak,mama saya bilang hari ini sudah boleh pulang."

__ADS_1


"Oh ya? kalau begitu berarti orang tuaku nggak perlu kerumah sakit,besuk dirumah saja kalau begitu."


"Orang tua pak Mario akan datang lagi?"


Tanyaku.


"Iya mereka mau membesuk nenekmu yang sedang sakit,sekalian untuk menghadiri acara penting besok malam."


Jawabnya sambil duduk di sebelah tempatku duduk.


"O......"


Beberapa kali kulihat jam tangan di pergelangan tanganku dan beberapa kali pula ku cek hapeku siapa tau ada chat atau panggilan masuk tapi aku tidak tau atau tidak mendengarnya.


Justru malah hape pak Mario yang berbunyi.


"Halo,Assalamu'alaikum om..."


"Baik om,kebetulan ini Rara sedang didekat saya menunggu jemputan."


Ternyata papa yang menelfon pak Mario,meminta tolong pak Mario mengantarkanku pulang sekalian berbarengan dengannya karena Pak Yanto harus menjemput nenek dirumah sakit.


"Ayo pulang sekarang,nanti keburu hujan."


"Emangnya nggak apa-apa pak jika kita pulang bareng?"


"Tenang,nanti bisa diatur."


Pak Mario kembali keruangannya sedangkan aku disuruh jalan dulu sampai depan gerbang seolah-olah masih menunggu jemputan diluar gerbang karena memang sebentar lagi gerbang akan segera di tutup karena sekolah telah kosong.


"Nungguin jemputan ya neng?"


Tanya pak Dodi padaku.


"Iya pak,maaf saya numpang menunggu jemputan disini boleh ya pak soalnya didalam sudah sepi saya takut."


Jawabku


"Iya neng nggak apa-apa,kok tumben telat banget jemputannya?"


Tanyanya sambil menutup sebelah pintu gerbang.


"Iya nih pak,mobilnya masih di pakai."


Jawabku.

__ADS_1


"Lho,kamu masih belum di jemput?"


Tanya pak Mario padaku.


"Belum pak,ini saya masih menunggu jemputan saya datang."


"Gini aja kamu saya antar pulang,kamu kabari orang rumah atau sopir kamu kalau kamu sudah pulang bareng saya terus kalau nanti ada yang datang jemput kamu biar pak Dodi yang kasih tau kalo kamu sudah pulang bareng saya."


Pak Mario menawariku didepan pak Dodi,padahal dari dalam tadi kami sudah menyusun semuanya agar pak Dodi mengira seolah kami tanpa sengaja pulang bareng.


"Tapi pak......"


"Kenapa,takut saya macam-macam sama kamu? kalau ada apa-apa sama kamu pak Dodi biar jadi saksi kalau saya yang antar kamu pulang,lagipula sebentar lagi akan turun hujan."


"Iya bener neng,mendungnya gelap banget lho sebentar lagi mau turun hujan masa eneng mau nunggu disini sendirian?"


Kata pak Dodi menyetujui usul pak Mario agar aku segera pulang bersama pak Mario.


"Baiklah,maaf ya pak jadi merepotkan dan terima kasih banyak ya pak."


Ucapku pada pak Mario sebelum mengenakam helm cadangan yang pak Mario berikan padaku.


"Duluan ya pak Dodi."


Kata pak Mario pada Pak Dodi lalu segera melajukan motornya.Setelah agak jauh dari area sekolah di sebuah jalan kecil di gang yang agak sepi pak Mario menghentikan motornya lalu melepas helm dan jaketnya.


"Ada apa pak?"


Tanyaku bingung dan sempat berfikir yang aneh-aneh karena membawaku kejalan yang sepi dan tidak seharusnya kami lewati.


"Ini pakai jaket biar tidak kedinginan."


"Terus bapak sendiri bagaiman? kan bapak yang di depan nanti malah kena angin."


"Udah nggak papa,cepat pakai sebentar lagi hujan."


Aku segera membetulkan jaket milik pak Mario yang dipakaikan padaku.


"Pegangan ya biar ngga jatuh,maaf sedikit ngebut biar nggak kehujanan."


Kata pak Mario sambil menstater motornya,dan benar saja pak Mario melajukan motornya begitu kencang hingga rasanya tubuh kurusku ini hampir terbang terbawa angin kencang membuatku terpaksa harus berpegang erat di pinggang pak Mario.


Benar saja,baru saja kami memasuki halaman rumahku hujan turun dengan begitu derasnya hingga membuat kami harus berlari segera masuk kedalam rumah sambil pak Mario menutupi kepalaku dengan kedua telapak tangannya agar kepalaku tak basah terkena air hujan.


"Assalamu'alaikum....."

__ADS_1


Ucapku sambil masuk kedalam rumah berbarengan dengan pak Mario,betapa terkejutnya kami saat masuk kedalam ruang tamu.


BERSAMBUNG......


__ADS_2