
Saat kami sedang duduk santai berdua sambil beristirahat,tiba-tiba datang seorang pelayan perempuan menghampiri kami dan memberitahukan bahwa mami dan papi sudah menunggu kami di meja makan untuk segera sarapan bersama.
Kami segera berjalan memasuki rumah lalu menuju meja makan setelah mencuci tangan tentunya.
Benar saja mami dan papi tampak sudah siap menunggu kami dimeja makan.
Kami segera menikmati sarapan bersama.
"Kalian tidak ada rencana untuk bulan madu?"
Tanya mami sesaat setelah kami selesai menghabiskan makan pagi kami.
"Uhuk,uhuk!"
Aku terbatuk saat sedang minum air putih dan mama malah menanyakan pertanyaan yang begitu mengejutkanku.
"Maaf!"
Ucapku sambil meletakkan gelas bekas minumku.
"Kamu baik-baik saja?"
Tanya mas Rio padaku.
"Iya tidak apa-apa,hanya tersedak!"Jawabku.
"Mi....Rara tidak mungkin mengajukan izin dan aku cuti dalam waktu yang bersamaan,lagi pula jika dapat izinpu paling juga cuma sehari atau dua hari untuk acara penting mi.....!"
Mas Rio berusaha mencari alasan yang tepat untuk kami supaya mami tidak meminta lebih.
"Honey moon kan tidak harus jauh dan berlama-lama,deket-deket sini saja kan bisa.Akhir pekan kalian dapat libur dua hari ditambah izin sehari atau dua hari cukup lah.... iya kan pi?"
Ucap mami dengan santai sambil melihat kearah kami.
"Mi....biarkan mereka menentukan sendiri waktu dan tempatnya,iya kan Rio?"
Aku merasa papi bukannya membela kami justru perkataan beliau tidak jauh beda dengan mendukung mami secara terang-terangan.
"Iya mi,pi,akan kami atur waktunya! sekarang kami mau mandi dulu!"
Ucap mas Rio sambil berlalu pergi sambil menarik tanganku.
"Maaf mi,pi,kami permisi dulu!"
__ADS_1
Ucapku sambil berjalan mengikuti mas Rio karena tanganku yang masih ditarik olehnya.
Kulihat mami dan papi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.
"Kenapa mas tidak sopan begitu dengan orang tua,main pergi begitu saja!"
Protesku padanya dengan kesal.
"apa kamu tidak sadar kemana arah pembicaraan mereka?"
"Iya aku tau,tapi kan nggak perlu kayak begitu juga menanggapinya!"
"Sudah lah,mandi dulu sana! setelah ini bersiaplah aku akan memperkenalkanmu pada mamiku!"
Maminya? apa maksudnya akan mengajakku berziarah kemakam mami kandungnya? memang sejak menjadi istrinya aku belum pernah sekalipun diajak ketempat peristirahat terakhir maminya.Aku juga belum pernah mengajak mas Rio berziarah ke makam ibu Pratiwiku,mungki lain waktu gantian aku yang akan memperkenalkannya pada ibu.
Kami sudah bersiap mengenakan setelan serba hitam,saat kami menuruni anak tangga kulihat mami dan papi juga sudah rapi dengan pakaian serba hitam sama seperti yang sedang kami kenakan saat ini.
"Kita berangkat sekarang?"
Tanya mami pada kami dan hanya dijawab dengan anggukan kepala mas Rio.
Mobil kami terparkir dengan rapi berjajar di tempat parkir yang berada area pemakaman umum,ada kak Reina dan juga kak Aldi yang sudah lebih dulu sampai.
Kami langsung berjalan menuju pintu masuk pemakaman,mas Rio membawa seikat karangan bunga mawar merah sedangkan aku membawa keranjang berisi bunga tabur.
Setelah kami panjatkan doa bersama untuk almarhumah,mami mendorong kursi roda papi untuk mendekat ke nisan almarhumah.Dielusnya dan di ciuminya nisan dengan penuh kasih sayang,seolah papi melihat nisan tersebut adalah wujud lain dari mendiang sang istri.
"Kak,maaf kami baru bisa datang lagi kemari.Begitu banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini,Rio sudah menemukan pendamping hidupnya.Dia datang kemari untuk memperkenalkannya padamu,jika kakak masih ada pasti juga akan menyukainya sepertiku!"
Mami berjongkok didekat batu nisan,sedang berbincang dengan seseorang yang bahkan sudah tidak lagi bisa mendengarkan ucapannya lagi.
Kak Reina dan kak Aldi juga mendapat giliran mendekat setelah mami dan papi mundur untuk memberikan kesempatan pada yang lain.
Semua yang hadir diacara ziarah sudah berlalu pergi memasuki mobil masing-masing kecuali aku dan mas Rio yang masih diam terpaku di tempat peristirahatan terakhir sang mami.
Mas Rio meraih pinggangku dan menuntunku untuk mendekat ke nisan sang mami,dilepaskannya kaca mata hitam yang sedari tadi menutupi matanya.
"Mi....Rio datang bersama seseorang,namanya Maura mi.Mami bisa memanggilnya Rara,dia adalah menantu mami."
Mas Rio terlihat menyeka air matanya denga punggung tangan setelah meletakkan seikat bunga mawar merah yang sedari tadi dibawanya,lalu menoleh kearahku yang sedang ikut berjongkok disampingnya.Diraihnya kepalaku lalu diciumnya dengan lembut ujung kepalaku yang tertutup hijab berwarna hitam senada dengan gamis yang kukenakan.
Mas Rio sepertinya masih enggan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir almarhumah maminy,meskipun sinar mentari sudah mulai naik.
__ADS_1
"Mi......kami pamit pulanh dulu ya mi,mami baik-baik disana ya karena Rio akan selalu kirimkan do'a untuk mami agar selalu bahagia disisinya!"
Mas Rio kembali mengenakan kaca mata hitamnya lalu menggandengku berjalan untuk keluar dari pemakaman.
Sedekat itu ternyata mas Rio dengan almarhum maminya,padahal beliau sudah sangat lama meninggalkannya sejak mas Rio masih duduk di bangku sekolah dasar namun kedekatan mereka masih tetap terjaga seolah baru kemarin mas Rio ditinggalkan oleh maminya.
Sebenarnya aku masih penasaran dengan panggilan mami Sarah pada almarhumah mami kandung mas Rio,tadi sempat kudengar mami Sarah memangginy dengan sebutan kakak.Apakah mereka sebenarnya ada hubungan keluarga? mungkinkah mereka itu adalah saudara.
Aku hanya bisa menyimpan rasa penasaranku sendiri dalam hati,sampai tiba waktu yang tepat untukku pertanyakan semua ini pada mas Rio suatu saat nanti.
Mas Rio melajukan mobilnya bukan menuju jalan kembali pulang kerumahnya,justru memarkirkan mobilnya di basement sebuah pusat perbelanjaan.Sepertinya ini adalah mall terbesar yang ada di kota tempatnya tinggal.
"Kita mau ngapain kesini mas?"
Tanyaku padanya yang sudah membukakan pintu mobil untukku.
"Membahagiakanmu!"
Jawabnya sambil mengulurkan tangannya kearahku dan segera kurai tangannya dan aku segera keluar dari mobil dengan heran.
"Membahagiakanku kesini?"
"Bukankah semua perempuan suka belanja? belilah apapun yang kamu mau!"
"Benarkah?"
Tanyaku dengan tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Tidak semua wanita gila belanja mas!"
Ucapku sambil berjalan mengikutinya.
"Benarkah?"
Tanyanya seakan tak percaya.
"Mas,bahkan uang yang setiap bulan kau transferkan ke rekeningku saja belum pernah sama sekali kugunakan!"
"Sejak kita menikah?"
"Iya,sama sekali belum pernah kugukan!"
"Kenapa?"
__ADS_1
Tanyanya padaku sambil berjalan melewati beberapa outlet,langkahku terhenti ketika melihat display pakaian anak pada manekin anak disebuah outlet.
BERSAMBUNG......