
Terselip sebuah kartu ucapan saat tanpa sengaja aku menjatuhkan karti tersebut.
Segera kubuka dan kubaca isi dari kartu ucapan tersebut.
'Untuk istri kecilku _Maura putri anggara_
I love U,dari _Mario ardianto wijaya_'
"Boleh aku buka sekarang?"
Tanyaku sambil mendekatkan kotak tersebut kearah kamera hapeku. oleh
Mas Rio hanya mengangguk pelan sambil menunggu reaksiku ketika membuka kotak tersebut.
Sebuah bros berbentuk hati yang terlihat begitu cantik,dan juga sebuah gantungan kunci burung merpati putih.
"Pasangannya ada disini."
Ucap mas Rio menunjukkan gantungan miliknya yang sama persis dengan yang ku pegang sekarang.
Panggilan telfon kami terpaksa harus berakhir karena bibi memanggilku untuk segera turun dan makan siang bersama.
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa merindukannya dan aku tersenyum sendiri ketika memikirkannya.
Aku menuruni anak tangga dengan riang,senyum dibibirku tak hentinya mengembang.
Semua orang yang kini sudah siap dimeja makan hanya memandangiku dengan heran karena keanehan tingkahku terutama kak Rendi yang tadi sempat melihatku kesal dan menangis tapi kini,dalam sekejap moodku sudah berubah drastis.
Setelah selesai makan siang terdengar suara bel dari pintu rumah kami,dengan buru-buru bibi berjalan cepat menuju sumber suara dan bergegas membukanya.
Bibi memberitahukan bahwa di depan sedang ada keluarga Jesi datang untuk menjemput putri mereka.
Mama dan papa juga ikut keluar untuk menemani Jesi menemui kedua orang tuanya dan memastikan bahwa keadaan sudah membaik serta Jesi akan aman bersama keluarganya.
Dari yang kudengar dari pembicaraan mereka,sepertinya mereka sudah menyesal karena merasa kurang memperhatikan Jesika selama ini hingga membuat Jesi salah dalam bergaul.
Mereka berterima kasih karena keluarga kami telah perduli menampung Jesi disini dan juga berjanji akan jauh lebih memperhatikan Jesika kedepannya.
Kami hanya bisa merelakan Jesi pergi bersama kedua orang tuannya,karena merekalah yang kebih berhak atas diri Jesika dan saat ini Jesi masih menjadi tanggung jawab mereka.
Aku sedang duduk di kursi depan meja belajarku,membereskan beberapa buku dan memasukkannya kedalam tasku.Sudah menjadi kebiasaanku setiap sebelum tidur selalu kusiapkan keperluan untuk kesekolan esok hari.
Hawa dingin menyeruak hingga kedalam tulang,hujan rintik-rintik mulai membasahi tanah,rumput serta dedaunan yang sudah merasa haus karena seharian disinari oleh teriknya sinar mentari.
__ADS_1
Kututup dengan rapat jendela,tirai serta pintu menuju balkon kamarku agar udara yang semakin dingin tidak masuk memenuhi kamar tidurku.kurasakah hembusan angin semakin kencang seiring derasnya air hujan yang jatuh dari langit malam ini.
Kulirik jam dinding dikamarku sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam,namun mas Rio tak kunjung pulang kemari.
Apakah malam ini dia tidak jadi pulang kesini? kenapa sampai jam segini belum sampai juga? sedangkan diluar sedang hujan deras sekali.
Segera kukunci pintu menuju balkon lalu kuraih hapeku yang sedari tadi tergeletak diatas meja belajarku.
Kucoba menelfonnya namun tak ada jawaban,mungkin dia sedang dalam perjalanan,batinku.
"Kira-kira dia kemari sendirian atau diantarkan pak Pras ya? pak Pras pasti tau kemana dia sekarang!"
Gumamku pelan pada diriku sendiri,lalu kucoba menghubungi nomor pak Pras dan dalam sekejap segera di angkat.
"Halo,selamat malam nona!"
Jawab pak Pras sedikit berteriak dari ujung telfon karena suaranya yang terdengar bercampur dengan berisiknya suara air hujan yang begitu derasnya.
"Halo pak,pak Pras dimana? sedang bersama mas Rio tidak?"
Tanyaku padanya,lalu tiba-tiba tak lagi terdengar suaranya dan tak ada suara apapun yang terdengar oleh telingaku padahal panggilan masih tersambung.
Kulihat tampilan signal pada layar ponselku,ternyata jaringannya sedang buruk pantas saja terlfon jadi tersendat.
'Pak Pras dan mas Rio sedang dimana sekarang?'
Tanyaku ke pak pras pada pesan yang kukirimkan,namun tidak ada tanggapan padahal jelas terlihat pada pesan chat di aplikasiku centang dua namun masih berwarna abu-abu.
Kucoba kirim pesan pada mas Rio,mungkin dia akan membuka pesanku nanti saat melihat hapenya.
'Mas dimana? jadi pulang kerumah mama tidak?'
Tanyaku dalam pesan yang ku kirim ke mas Rio.
Sama,tak ada tanggapan apapun darinya.
Aku hanya menunggu,berdiam diri dirumah tanpa bisa melakukan apapun berharap dia akan segera sampai kerumah dalam keadaan baik-baik saja.
Dalam diam aku kembali teringat kejadian malam itu dimana aku pasrahkan segalanya pada mas Rio tanpa paksaan,aku kembali bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Mungkinkah aku kena pelet mas Rio? sebera kutepis pikiran buruk tentangnya dan mencoba berprasangka baik.
Lalu jika bukan karena pelet dan semacamnya,lalu bagaimana mungkin secara tiba-tiba aku pasrahkan dengan ikhlas sesuatu yang selama ini mati-matian kupertahankan? Meski aku tau ini adalah hak nya namun aku tak pernah memperdulikan semua itu meski atu tau penolakan yang selama ini kulakukan adalah dosa,namun aku tetap menolaknya.
__ADS_1
Kuletakkan kedua lenganku diatas meja sebagai tumpuan kepalaku karena mulai pusing memikirkan yang terjadi kemarin malam padaku.
Aku begitu penasaran dengan diriku sendiri,kenapa malam itu aku justru memulainya? dengan tak tau malunya aku malah menggodanya padahal dia sedang tidak meminta.
"Ya Allah........!"
Bisikku pada diri sendiri sambil kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku sendiri.
Suara seseorang membuka pintu kamar membuatku terkejut dan seketika tersadar dari lamunan,karena sekeras apapun aku memikirkan kejadian itu dan mempertanyakan apa yang terjadi padaku tetap saja aku tidak menemukan jawaban apapun serta tidak mengingat apapun sampai pada akhirnya kami telah melakukannya.
"Mas!"
Ucapku terkejut dengan spontan berdiri dari tempatku duduk sedari tadi memikirkan tentang kejadian itu.
"Maaf aku pulang terlambat karena di jalan ada pohon tumbang dan jalanan macet sekali,jadi terpaksa harus putar arah!"
Sambil menutup rapat pintu kamar dan segera melepas pakaian yang dikenakannya dan segera menggantinya dengan pakaian dari dalam almari.
"Kamu kenapa? kulihat dari tadi hanya melamun saja,bukankah tadi kamu mencemaskanku bahkan menelfon Pras berkali-kali."
Mas Rio meletakkan pakaian kotornya kedalam keranjang pakaian kotor lalu berjalan kearahku.
Aku masih diam tak bergeming dan juga tak menjawab perkataan serta pertanyaannya.
Sampai dia mencium keningku dengan lembut barulah aku mendongak untuk melihat kearah wajahnya yang sedang tersenyum memandangiku.
"Kamu kenapa?"
Tanyanya lagi padaku.
"Mas pelet atau guna-guna aku ya?"
Tanyaku padanya dengan serius namun dia hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Jawab mas! kenapa malah hanya tersenyum?"
Aku mulai kesal karena pertanyaanku tak kunjung dapat jawaban,justru dia malah tersenyum seperti sedang mempermainkanku.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Tanyanya padaku dengan tenang lalu menundukkam kepala kearah wajahku hingga wajah kami kini begitu dekat.
BERSAMBUNG......
__ADS_1