Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Insiden berdarah


__ADS_3

Mataku perlahan terbuka saat cahaya silau menerangi kamarku seiring bunyi alarm yang berasal dari hapeku.


Kulihat mas Rio sudah berada di depan meja belajarku dengan laptop yang sudah menyala,sedangkan aku baru bangun tidur.


Sesekali kututup mulutku saat menguap karena masih terasa mengantuk.


"Tidak sholat subuh?"


Tanya mas Rio sambil menoleh kearahku,lalu kembali kelayar laptopnya.


"Tidak!"


Jawabku singkat,kukira dia pasti sudah tau alasanku tidak sholat subuh.


"Masih belum selesai?"


Tanyanya lagi tanpa berpaling dari layar laptopnya.


"Belum,"


Jawabku singkat lalu bangkit dari tempat tidurku.


"Apa kamu selalu tidur dengan mengenakan hijab seperti ini?"


"Tidak!"


"Kenapa semalaman hijabmu tetap menempel bahkan saat sedang tidur?"


"Karen ada mas lah"

__ADS_1


"Aku ini kan suamimu,memangnya kenapa kalau aku lihat? toh semua memang sudah menjadi milikku!"


Ucapnya sambil menutup laptop yang layarnya sudah tak lagi menyala lalu dengan cepat dibereskannya kembali kedalam tas.


Aku segera waspada saat dia mendekat kearahku,aku tak mau kejadian tadi sore didepan pintu kamar mandi terulang kembali.


"Kamu kalau tidur masih ngiler ya!"


Tanyanya sambil tertawa meledeku.


"Enak aja!"


Jawabku sambil meraba bibir dan pipiku sendiri dengan salah tingkah lalu melihat diriku didepan cermin meja rias.


Tak ada bekas saliva disana,sepertinya dia sengaja berbohong untuk menggodaku.


"Aow....!"


Teriakku saat tanpa sengaja jemariku tertusuk jarum yang berasal dari hijab yang sedang kukenalan.


Dengan cepat mas Rio meraih jariku yang mulai mengeluarkan sedikit darah lalu mengelapnya dengan tisu yang berada di meja riasku.


"Makanya,hati-hati! ada plaster tidak?"


"Ada dibawah!"


Jawabku sambil menahan perih yang berasal dari jari tanganku.


Mas Rio segera keluar dari kamarku dan dengan cepat pula segera kembali kekamarku dengan membawa plaster untuk dibalutkannya kejariku yang sudah berhenti meneteskan darah.

__ADS_1


"Terima kasih!"


Ucapku sambil kembali melanjutkan kukenakan hijabku.


"Sama-sama,"


Jawabnya singakat tanpa melihat kearahku.


Lalu kami turun bersama untuk sarapan pagi bersama anggota keluarga yang lain.


"Selamat pagi nona,kita berangkat sekarang?"


Sapa pak Pras sambil menanyakan kalimat yang biasa ditanyakan padaku setiap pagi sebelum berangkat kesekolah,lalu membukakan pintu untukku.


Aku dan mas Rio berangkat kesekolah bersama,namun dengan menumpangi mobil yang berbeda.


Kami tidak mau menimbulkan pertanyaan pada siapapun yang nantinya bisa saja melihat kami turun dari mobil yang sama.


Begitu juga saat pulang sekolah,aku pulang lebih dulu dengan di antar oleh pak Pras sedangkan mas Rio pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya disekolah dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Malam ini mas Rio menginap dirumah orang tuaku lagi,menjadi malam kedua untuk kami tidur dalam ranjang yang sama.


Malam ini aku harus kembali sport jantung saat tidur seranjang dengannya,karena saat berdekatan dengannya rasanya jantungku ini tak bisa berdetak dengan normal.


Malam ini mama dan papa memintaku dan juga mas Rio untuk membicarakan hal serius seteah selesai makan malam.


Kami berempat sudah berkumpul di ruang tengah,aku duduk di samping mas Rio dengan tenang meski sebenarnya hati selalu berdenar ketika berada di dekatnya.Rasa canggung selalu menyelimuti saat dia berada dijarak yang begitu dekat denganku.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2