Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Permintaan maaf Jesika


__ADS_3

Kududukkan Jesi yang masih terisak tepat disampingku untuk duduk bersamaku.


"Jesika,bicaralah dengan baik setelah kamu tenang.Aku akan menunggumu mengatakan apa yang ingin kamu katakan."


Ucap pak Mario.


"Saya....minta maaf karena telah menuduh bapak melakukan hal yang tidak benar."


Ucap Jesi mengulangi lagi perkataan maafnya pada pak Mario.


"Kamu sudah mencemarkan nama saya pada semua orang dan sekarang dengan mudahnya kamu minta maaf!"


Pak Mario menekan perkataannya membuat Jesi semakin ketakutan.


"Tolong jangan membuat Jesika takut pak!"


Pintaku pada pak Mario karena aku merasa semakin kasihan pada Jesi.


"Maura kalau kamu masih mau berada disini diamlah,kecuali kamu mau menunggu temanmu ini diluar!"


Ucapannya padaku memang pelan namun terasa sekali dia sedang mengusirku.


Jesi memegang lenganku dengan kuat,dia ingin aku tetap berada disini menemaninya menghadapi pak Mario.


"Pak,saya benar-benar minta maaf sekali lagi secara pribadi.Jika bapak menginginkan saya meminta maaf dan melakukan klarifikasi di sekolah maka saya siap melakukannya,asalkan bapak tidak melaporkan saya kepolisi pak."


Ucap Jesika dengan memohon.


"Lalu kenapa saat itu kamu katakan pada semua orang bahwa saya pelakunya?"


Tanya pak Mario,nadanya kini sudah mulai turun diambang batas wajar.


"Saya terpaksa karena dia tidak mau bertanggung jawab,saya bingung hanya ada nama bapak di hati dan pikiran saya setiap saat jadi saya menyebut nama bapak."


"Dia,dia siapa yang kamu maksud? dia itu pelakunya kan?"


Jesika mengangguk pelan sambil kembali tertunduk.


"Siapa namanya?"Tany pak Mario pada Jesika.


"Namanya kak Roi,pak!"


Jawabnya.


"Roi.....? dia pacarmu?"


Tanya pak Mario dengan tenang.


"Kalau dia bukan pacarmu,lalu kenapa kamu mau melakukannya?"


Tanya pak Mario lagi,aku terpaksa diam mendengarkan obrolan mereka supaya bisa tetap disini menemani Jesika.

__ADS_1


"Saya terpaksa pak,tapi kini dia tidak mau bertanggung jawab malah menyuruh saya untuk membuangnya jangan sampai dia lahir."


"Ck,ck,ck,ck! lalu dengan seenaknya kamu menuduhku?"


Pak Mario nampak kembali berapi-api.


"Saya minta maaf pak,saya mohon jangan laporkan saya kepolisi,saya mohon pak!"


Isak tangis Jesika kembali terdengar.


"Kamu tau apa akibat dari perbuatanmu! semua orang percaya pada kata-katamu,bahkan calon istri saya sekalipun percaya bahwa saya adalah pelakunya!"


Jesi masih diam tak bergeming,hanya isak tangis yang terdengar darinya saat ini.Tangannya meremas sisi sofa yang ia duduki.


Mataku membulat menatap mas Rio sambil menggeleng,memintanya untuk berhenti menekan Jesika.Dia hanya membalasnya dengan senyuman nakal padaku,dia berani menggodaku bahkan didepan Jesi yang sedang menangis sesenggukan bisa-bisanya dia masih tersenyum.


Benar-benar tidak punya hati nurani.


Batinku dengan kesal padanya.


"Jika aku memaafkanmu apa yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu padaku?"


Tanya pak Mario pada Jesi,nada bicaranya kembali melunak membuatku bisa bernafas lega.


"Apapun yang bapak mau...."


Ucap Jesi memandang pak Mario penuh harap.


"Dirimu!"


Aku menatap mas Rio dengan kesal,bahkan kubulatkan bola mataku hingga hampir lepas dari kepalaku.


Dia hanya tersenyum sambil bangkit dari duduknya,berjalan menuju kami berdua.


"Bagaimana Jes?bukankah itu mudah saja untukmu?"


Tanyanya lagi pada Jesi yang masih diam.


"Maksud bapak apa!"


Tanyaku dengan geram,ingin rasanya langsung ku jambak rambutnya,ku jitak kepalanya dan ku cubit kecil pinggangnya hingga dia kesakitan jika tidak ada Jesi disini.


"Saya bicara dengan Jesika,Maura,bukan denganmu!"


Ucapnya sambil berhenti tepat dihadapanku,tangannya mendekat kearah hijabku.


"Atau...kamu mau menggantikan Jesika?"


Tanyanya sambil menyingkirkan tangannya yang hampir menyentuh kerudung yang kukenakan.


"Saya akan turuti apapun keinginan bapak! tapi saya mohon jangan ganggu sahabat saya!"

__ADS_1


Jesi menarik tubuhku dan kini dia berada di tengah antara aku dan pak Mario,seolah dia sedang berusaha melindungiku dari singa rakus ini.


"Baiklah Jesi,mulai sekarang kamu milikku dan harus menuruti apapun kemauanku sampai beberapa hari kedepan!"


Mataku kembali membulat,kukeratkan gigiku dan kini tanganku sudah mengepal karena kesal.


Dia tak ada bedanya dengan kak Roi yang membuat Jesi seperti ini.


"Sekarang Jesi ikutlah bersamaku!"


Pak Mario berjalan menuju ruang tengah diikuti langkah Jesi dibelakangnya,lalu pak Mario mengemhentikan langkahnya menoleh kembali kebelakang menatapku yang masih diam tak bergeming di ruang tamu sendirian.


"Kamu juga boleh ikut!"


Ucapnya padaku dengan diiringi senyuman dan uluran tangan.


Dengan cepat aku berjalan mendekat bukan untuk meraih tangan yang diulurkan padaku,namun dengan cepat jariku menancao kelengannya mencubit dengan penuh amarah.


Dia hanya diam menahan rasa sakit dari cubitanku karena ada Jesi di sisinya,jika saja tak ada orang lain mungkin sudah habis aku di mangsa olehnya.


Kulihat Sam sedang berada di ruang tengah dengan laptop yang menyala di hadapannya,menampilkan beberapa foto Jesi dengan Kak Roi di beberapa tempat yang berbeda,dihari yang berbeda dan dengan mengenakan pakaian yang beda di setiap fotonya.


"Sebenarnya kami sedang mengumpulkan bukti kedekatanmu dengannya,saya juga sudsh punya rekaman pengakuanmu ketika ditaman bersama Maura!"


Pak Mario memutar kembali rekaman suara yang berisi percakapanku dengan Jesi versi full sejak aku datang menghampiri Jesi di taman bahkan sampai aku membujuknya menemui pak Mario untuk meminta maaf.


Aku dan Jesi saling pandang,seolah Jesi menuduhku menghianatinya.


"Rekaman ini diambil tanpa sepengetahuan kalian berdua saat ditaman tadi,tapi....terima kasih Jesi kamu sudah dengan jujur mengakuinya,dan saya salut dengan sahabatmu ini yang tidak pernah meninggalkanmu tapi dia mendukungmu untuk mengambil langkah benar."


Jangan-jangan rekaman suara itu diambil sesaat setelah dia selesai menelfonku dan memintku untuk cepat memasukkan hapeku kedalam tas karena Jesi sudah lama menunggu,dia bilang dia yang akan menutup panggilan telfon.Apa mungkin dia tidak menutupnya tapi menggunakan kesempatan untuk merekam pembicaraan kami.


"Hal yang harus kamu lakukan adalah membersihkan nama baik saya,jelaskan pada semua orang yang sejujurnya termasuk pada orang tua kamu!"


"Baiklah pak nanti setelah dari sini saya akan bicara dengan orang tua saya,dan hari senin besok saya akan datang kesekolah untuk mengklarifikasikan semuanya."


Janji Jesi dengan kesungguhan.


"Juga pada tunangan saya!"


Tambah pak Mario.


"Baik pak,tolong pertemukan dengan beliau maka saya akan meminta maaf secar pribadi dan menjelaskan semuanya."


Ucap Jesi dengan lancar,sepertinya beban di hatinya perlahan luruh membuatnya sedikit tenang sekarang.


"Nanti malam kita temui Roi,kita paksa dia untuk mengakui perbuatannya padamu dengan cara apapun!"


Pak Mario seperti sedang menyusun rencana.


"Sam,antarkan Jesika pulang.Biar dia istirahat dirumah soal Roi nanti kita atur lagi"

__ADS_1


Perintah pak Mario pada Samuel.


BERSAMBUNG......


__ADS_2