Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pak Mario menyebalkan


__ADS_3

Pak Mario memandang wajahku begitu lama membuatku semakin salah tingkah,apalagi ketika kulihat tatapan matanya yang membuatku bagaikan es batu terkena teriknya sinar matahari serasa meleleh.


Aku buru-buru menyadarkan diriku sendiri dan dengan cepat memalingkan wajah agar tak berlama-lama terpesona oleh ketampanan wajah pak Mario yang tampak bagaikan opa korea pada drama korea yang sering kutonton di aplikasi drakor di hapeku.


"Kamu........tidak berfikir untuk menolak perjodohan kita kan?"


Kini ekspresi wajahnya mulai serius.


"Memangnya kenapa pak? sebenarnya saya masih punya banyak angan-angan punya masa depan yang cerah,setelah lulus sekolah nanti kuliah di perguruan tinggi bukan menjadi seorang istri dan menjadi ibu rumah tangga dalam waktu dekat pak."


"Apa setelah menikah kamu sudah tidak bisa kuliah? apa setelah kamu menikah sudah tidak lagi memiliki masa depan? atau mungkin kamu lebih memilih menikah dengan kak Rendimu itu?!"


Perkataan pak Mario sontak membuatku tercengang,karena ternyata pak Mario tau semuanya tentangku.


"Rendi tidak akan membiarkanmu menikah dengan siapapun,bahkan laki-laki manapun yang berani dekat denganmu pasti akan dihajar olehnya.Kamu tau siapa yang memukuli Samuel tempo hari?"


"Samuel?!"


Tanyaku penasaran sekaligus kaget karena aku sama sekali tidak paham apa hubungannya antara kak Rendi dengan Samuel.


"Orang yang memukuli Sam kemarin sempat mengancamnya,jika dia tidak mu kejadian yang sama terulang kembali Sam harus menjauhi kamu."


"Hah! bapak serius? kenapa Sam nggak cerita apa-apa sama saya?"


"Aku yang melarangnya karena khawatir kamu akan menjauhinya,meski sebenarnya belum ada bukti pasti bahwa kakak kamu pelakunya tapi hanya ada dua kemungkinan antar Rendi kakak kamu atau Roi."


"Kak Roi?"


"Ya,bukankah dia juga suka sama kamu? sudah pasti dia juga tidak akan suka jika ada laki-laki lain yang mendekatimu."


"Tapi.....kak Roi bilang dia tidak bisa naik motor pak."


"Berarti hanya ada satu kemungkinan,Rendi yang melakukannya."


"Kenapa bapak seyakin itu kalau kak Rendi yang melakukannya?"


"Lalu menurutmu siapa lagi pelakunya selain kakakmu?"


"Mmmmmmm......nggak tau lah pak,saya nggak mau suudzon."


"Bukannya suudzon Maura.....disini Sam yang tidak tau apa-apa ikut jadi korbannya."


"Tapi....."


Mungkin benar apa yang pak Mario katakan,akhir-akhir ini kak Rendi berubah seperti bukan lagi kak Rendi yang kukenal selama ini.Kak Rendi kini berubah menjadi arogan dan ambisius.

__ADS_1


Aku seperti terjebak dilema karena jika aku menolak perjodohan ini maka aku tidak akan punya alasan untuk menolak kak Rendi yang memang kenyataannya bukan saudara kandungku dan sebenarnya sah saja jika kami menikah,tapi......Ah! Entah lah pikiranku benar-benar bagaikan benang kusut.


"Jadi Bapak maunya saya menerima perjodohan ini? Memangnya apa untungnya buat anda jika kita menikah?"


Tanyaku sambil menyipitkan mata tanda kecurigaanku.


"Aku tidak punya alasan untuk menolak perjodohan ini dan tidak ada keinginan untuk meminta dijodohkan denganmu yang seorang anak bau kencur yang manja sepertimu!"


"Oke,saya juga nggak mau menikah dengan bapak yang sudah om-om!"


Aku berjalan cepat menuju pintu keluar taman,suasana yang awalnya sejuk dan asri kini berubah menjadi gerah dan panas karena rasa kesal dihatiku karena dibilang anak manja dan bau kencur.Enak saja dibilang bau kencur!


"Ngambek?"


"Iya!"


"Dasar anak kecil! dikit-dikit ngambek,dikit-dikit ngambek."


Kuhentikan langkah kakiku,menoleh kearah pak Mario dengan wajah kesal lalu kembali berjalan dengan cepat meninggalkan pak Mario.


Sesampainya di tempat parkir aku masih berdiri mematung karena kesal saat pak Marii telah siap menunggang di sepeda motornya.


"Ayo,apa mau aku gendong?"


"Nggak perlu,bukan Muhrim!" Jawabku masih kesal.


"Maaf ya pak kita bukan muhrim,jadi jangan pegang-pegang!"


Kuhempaskan tanganku dari genggamannya.


"Iya sudah kumaafkan,ayo sekarang kita pulang!"


"Hah!"


Kugelengkan kepala karena merasa heran.


"Ayo buruan! apa kamu mau kugendong sampai keatas motor?"


"Nggak perlu pak,saya bisa naik sendiri!"


Aku mendengus kesal,dengan terpaksa naik keatas motornya.


Ternyata nggak cuka keliatannya saja pak Mario orangnya dingin dan cuek,ternyata aslinya juga nyebelin.


Sesampainya dirumah kulihat mama dan papa tampak sedang terburu-buru masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Ma,pa ada apa?"


Tanyaku saat baru turun dari motor pak mario tanpa menanggalkan helm yang kupakai.


"Nenek,nenek anfal!"


Jawab papa sambil buru-buru masuk kedalam mobil dan bersama pak Yanto yang mengemudi,sedangkan mama sempat kulihat di bangku belakang bersama nenek.


"Pak,tolong antarkan saya menyusul mereka kerumah sakit ya!"


"Ayo!"


Pak Mario segera mengendarai kembali motornya menyusul mobil yang tumpangi keluargaku.


Sesampainya di parkiran rumah sakit aku langsunh buru-buru berlari menyusul mama dan papaku dengan dibantu oleh beberapa petugas medis rumah sakit membawa nenek masuk kedalam pintu IGD rumah sakit.


Aku begitu takut jika terjadi hal buruk lagi pada nenek,tanpa terasa air mata ini meleleh dengan sendirinya mengalir melalui pipiku.


Kudekati mama dan papa,kami duduk di kursi ruang tunggu didepan ruang IGD


"Tenanglah dokter sedang menanganinya,kita berdo'a saja yang terbaik untuk nenekmu."


Pak Mario nampaknya berusaha menenangkanku,sedangkan aku hanya mengangguk tanpa bisa menghentikan aliran air mataku.


Setelah hampir satu jam kami menunggu akhirnya seorang perawat memanggil salah satu dari kami sebagai perwakilan pihak keluarga pasien untuk masuk kedalam.


Papa keluar setelah tak lama papa masuk keruang IGD dimana nenek mendapatkan perawatan.


"Mama akan dipindahkan ke ICU."


Papa menundukkan wajahnya.


"Papa urus administrasi dulu,Ra kamu temani mama ya."


Papa menepuk pundak pak Mario pelan saat mereka berpapasan sebelum papa benar-benar menghilang dari lorong tempat kami duduk.


Saat baru saja kami hendak meninggalkan ruang IGD menuju ICU kulihat beberapa petugas medis dengan buru-buru mendorong brangkar,pasien yang sedang berada diatas brangkar adalah orang yang tak asing bagiku.


"Kak Rosa?!"


Bisikku sambil menutup mulutku melihat keadaan kak Rosa yang jauh berbeda dari saat terakhir kali kami bertemu.


Rasa ingin tauku sebenarnya ingin sekali menyeretku untuk melihat kemana kak Rosa dibawa,namun aku teringat bahwa nenek sekarang ini jauh lebih penting dari apapun.


Sekilas kulihat kak Rosa dengan wajah yang begitu pucat pasi,tubuhnya kini kurus kering bagaikan tinggal tulang.Kukihat kak Rosa mengenakan kupluk dikepalanya yang sedikit menampakkan kepala plontos tanpa sehelai rambut,lalu kemana perginya rambut panjang yang sering terurai dulu?sebenarnya kak Rosa sakit apa? sampai membuatnya nampak begitu tak berdaya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2